Semua Tampil di Topengan Maligi, GBPH Prabukusumo-pun Menjadi “Saksi”
SURAKARTA, iMNews.id – Pelaksanaan upacara adat hajad-dalem Gunungan Garebeg Besar dalam peringatan Hari Raya Idul Adha, 10 Besar (Dzulhijjah) Tahun Dal 1959 (1447 H) tahun 2026 ini, menjadi upacara adat “Garebeg” perdana di era Sinuhun PB XIV Hangabehi. Penampilan Sinuhun PB XIV dan semua kerabat serta berbagai elemen masyarakat adat pendukungnya, Kamis (28/5) siang tadi, sangat mengesankan.
Penampilan perdana dalam upacara kebesaran protokol baku kerajaan, dilaksanakan secara penuh oleh Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat). Penampilan bersama kelembagaan resmi kraton dan “lembaga raja” di (teras) Topengan Maligi, mendapat disambut musik kehormatan para prajurit kraton yang berbaris di halaman Pendapa Sasana Sewaka.

Penampilan perdana Sinuhun PB XIV Hangabehi dalam upacara adat kebesaran (Garebeg) di awal era kepemipinannya, selain disaksikan semua peserta upacara dan disakikan publik secara terbatas, juga disaksikan salah seorang kerabat dari Kraton Jogja. GBPH Prabukusumo dan keluarga dengan busana santai ikut menyaksikan “deklarasi” tampilnya salah seorang pemimpin dari keluarga besar Catur Sagatra ini.
Walau berada di pelataran bersama keluarga kecil rombongannya berbaur dengan para abdi-dalem yang mengikuti upacara penghormatan dalam protokol kebesaran kraton, tetapi posisinya sempat tertangkap Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ketika sama-sama menatap, GBPH Prabukusumo sempat senyum mengangguk sambil memberi hormat dari jauh, sementara Sinuhun teras Maligi juga langsung membalas dengan “menyembah”.

Momentum indah dan penting seperti itulah yang menambah kesan pada peristiwa perdana penampilan Sinuhun PB XIV Hangabehi pada ritual Garebeg perdana, Kamis (28/5) siang tadi. Selain itu, kehadiran seorang yang bisa “merepresentasikan” kerabat Kraton Jogja, menambah hangat suasana, kebesaran hati dan kebanggaan seluruh kerabat Kraton Mataram Surakarta sebagai sesama keluarga Catur Sagatra.
Pukul 10.00 WIB, upacara penghormatan kebesaran protokol kerajaan begitu selesai diberikan para prajurit kraton yang dipimpin KRAT Alex dan KRAT Hendro sebagai “manggala”. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan laporan KPP Haryo Sinawung Waluyoputra Hadinagoro (inspektur upacara), kepada Pengageng Sasana Wilapa (Gusti Moeng) selaku pemimpin upacara yang dilanjutkan dengan “dhawuh” pelepasan kirab.

Begitu “dhawuh” pelepasan prosesi kirab diberikan, para prajurit diberi aba-aba oleh “manggala” untuk melangkah meninggalkan halaman Pendapa Sasana Sewaka. Lepas dari halaman, enam Bregada Prajurit berkekuatan sekitar 100 orang, langsung diikuti sepasang hajad-dalem Gunungan yang dipandu langkahnya. Dalam posisi itu sebenarnya ada gamelan Cara Balen yang juga mengikuti ditabuh secara “live”.
Sayang, bunyi gamelan itu tak beriringan dengan langkah para prajurit Bregada Panyutra. Menurut KRMH Suryo Kusumo Wibowo, sementara kosong karena sulit mencari personel prajurit. Penampilan “Garebeg” perdana tanpa Prajurit Bregada Panyutra, karena kostumnya “ikut dijarah” saat “Insiden MOM 2017”. Bebadan Kabinet 2004 sudah menyiapkan 10 kostum pengganti, tetapi pasukannya belum terbentuk lagi.

Iring-iringan barisan prosesi yang mengarak hajad-dalem Garebeg Besar Idul Adha, segera keluar ke halaman Kamandungan. Barisannya termasuk panjang, karena 600-an orang berbagai elemen dilibatkan. Jumlah itu dukungan elemen 23 Cabang Pakasa, yang mengirim utusan sekitar 400 anggota. Mereka tersebar di beberapa Provinsi Jateng dan Jatim, walau abdi-dalem Semut Ireng yang dikirim hanya belasan orang.
Pasukan abdi-dalem Semut Ireng yang tertulis dalam daftar hadir kalangan cabang Pakasa, hanya dari Pakasa Cabang Boyolali. Lainnya tak menyebutkan dalam daftar hadir menyertakan abdi-dalem yang sangat dibutuhkan dalam situasi “krusial” seperti itu. Pakasa Klaten menulis 82 abdi-dalem utusan upacara adat Garebeg Besar, tetapi tak menyebutkan satupun tenaganya untuk mendukung “Semut Ireng”.

Kondisi riil di lapangan saat KRMH Suryo Kusumo Wibowo melakukan verifikasi jumlah petugas di lapangan, barulah kelihatan faktanya. Karena, dari dua buah atau sepasang hajad-dalem Gunungan yang seharusnya didukung pasukan abdi-dalem Semut Ireng sekitar 80-an orang, hanya tersedia separonya dan harus dibantu anak-buah KRAT Sinto dari Pasukan Senapati Mataram yang tentu tak siap “seragam”.
Tetapi, beberapa kekurangan yang terjadi masih sangat bisa dimaklumi dibanding sisi kelebihannya yang tumpah-ruah pada di penampilan perdana Garebeg Besar awal era baru Sinuhun PB XIV ini. Karena, tampak sekali dukungan elemen Pakasa cabang yang selama ini menunjukkan dedikasi dan dukungannya total untuk jumeneng-dalem Sinuhun PB XIV Hangabehi. Sebanyak 23 pimpinan cabang Pakasa, hadir mendukung.

Ketua Pakasa Cabang Ponorogo, cabang Jepara, cabang Klaten, cabang Ngawi, cabang Nganjuk, cabang Pacitan, cabang Trenggalek, cabang Kudus, cabang Pati, cabang Cilacap, cabang Magelang dan sebagainya, menjadi bukti dukungan tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi. Di antara mereka itu yang sudah “bergotong-royong” berinisiatif untuk “methik sekar” Wijayakusuma ke Pulau Majeti untuk menggenapi tahta Sinuhun.
Iring-iringan prosesi hajad-dalem Garebeg Besar, begitu cepat tiba di kagungan-dalem Masjid Agung. Pukul 10.40 tiba di masjid agung dan diserahkan KPP Haryo Sinawung kepada KRA Mufti Raharjo, langsung upacara dibuka KP Siswantodiningrat. KPP Sinawung segera meminta RT Irawan Wijaya Pujodipura untuk memimpin doa, nasi di tiga ancak dibagikan dan sepasang Gunungan di halaman masjid juga sudah ludes. (won-i1)
