Garebeg Mulud Perdana “Karya” Sinuhun PB XIV Hangabehi di Tahun 2026 (seri 1- bersambung)

  • Post author:
  • Post published:July 25, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Garebeg Mulud Perdana “Karya” Sinuhun PB XIV Hangabehi di Tahun 2026 (seri 1- bersambung)
MEMIMPIN UTUSAN : Saat berstatus Pangeran Adipati Anom, Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah memperlihatkan kemampuannya memimpin utusan-dalem upacara adat Sekaten Garebeg Mulud beberapa tahun lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Meneruskan “Tradisi”, Menegaskan Status Simbol Kekaryaan Pemimpin Dinasti

IMNEWS.ID – TIDAK terasa, “perjalanan” Sinuhun PB XIV Hangabehi sebagai pemimpin baru “Dinasti Mataram” Surakarta sebagai penerus Dinasti Mataram yang didirikan Sinuhun Panembahan Senapati, sudah menginjak bulan ke-8 sejak ayahandanya wafat. Selama 8 bulan sejak peristiwa “wilujengan” digelar (13 November 2025) untuk menggantikan tahta Sinuhun PB XIII, sudah banyak “karya” yang dihasilkan.

Baik kegiatan berupa upacara adat rutin yang digelar tiap tahun maupun acara dan event di luar itu semasa dirinya masih menyandang “Pangeran Adipati Anom”, adalah tradisi memaknai eksistensi diri dan kelembagaan yang sudah dicontohkan para leluhur pendahulunya. Sinuhun PB V (1820-1823) adalah salah satu contoh teladan pemimpin yang punya banyak karya menonjol, sejak masih berstatus Adipati Anom.

Karya-karya Sinuhun PB V, bahkan berkait dengan upacara adat yang akan dijalani perdana di era kepemimpinannya, yaitu hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud. Ritual religi untuk merayakan hari besar kelahiran atau Maulud Nabi Muhammad SAW yang tak lama lagi kan digelar kraton, menjadi karya perdana untuk meneladani dan mengenang kebesaran Sinuhun PB V. Karena, banyak karyanya untuk ritual Sekaten.

Ada belasan karya “gendhing” sebagai pengisi sajian gamelan (Sekaten) Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari, di antara gendhing baku “Rambu” dan “Rangkung” khas Sekaten. Bahkan dihasilkan gendhing-gendhing “Santiswaran” atau “Larasa Madya” yang dihasilkan semasa Sinuhun PB V masih berstatus sebagai Pangeran Adipati Anom (putra mahkota). Data manuskrip berjudul “Sinuhun Sugih” menyebut karya-karya itu.

MENEGASKAN SIMBOL : Ritual hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud 2026 di awal era kepemimpinannya, menjadi kesempatan untuk menegaskan simbol kekaryaannya sebagai pemimpin Dinasti Mataram Surakarta dan penerus Dinasti Mataram Islam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bahkan, KPP Nanang Soesilo Sinduseno Tjokronagoro seorang sentana-dalem trah Sinuhun PB V menyebut, dalam buku “Sinuhun Sugih” miliknya yang ditulis RM Soemantri Soemosapoetro, juga menyinggung “dharma bhakti” Sinuhun PB V kepada ayahandanya, Sinuhun PB IV (1788-1820). Yaitu saat gamelan Kiai Guntur Sari dihasilkan Sinuhun PB IV, untuk melengkapi gamelan Sekaten yang tinggal “separo”.

GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) pernah bertutur, dirinya menemukan data dari seorang abdi-dalem Mandra Budaya di zaman Sinuhun PB X yang menulis catatan bahwa gemelan Sekaten bernama Kiai Sekati diproduksi pada zaman Kraton Demak (abad 14-15). Tetapi, gamelan itu diberikan Raden Patah kepada putrinya yang kemudian menjadi permaisuri Sultan di Cirebon.

JADI CONTOH : Upacara adat Sekaten juga bisa menjadi contoh ideal kalangan warga Pakasa di cabang-cabang. Misalnya jika mengenakan untaian “Gajah Ngoling” yang sederhana saja, “berestetika” dan tak mengganggu citra visualnya di telinga. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena gamelan menjadi sarana syi’ar agama oleh Sunan Kalijaga (Wali Sanga), maka ketika Kraton Demak berakhir dan keturunannya (Jaka Tingkir) mendirikan Kraton Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya sebagai rajanya, upacara adat Sekaten tak dikisahkan berlanjut. Sampai Kraton Mataram Islam didirikan Panembahan Senapati untuk melanjutkan Kraton Pajang, ritual Sekaten juga tak ada kisah sajian gamelan.

Menurut catatan abdi-dalem itu, baru di zaman Raja ke-3 Kraton Mataram Islam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, gamelan Kiai Sekati dilengkapi menjadi sepasang atau dua “pangkon”, yaitu Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Gamelan yang sudah lengkap itu, kembali “terpisah” karena Sinuhun PB III “menyerahkan” Kiai Guntur Sari kepada Sultan HB I, sebagai konsekuensi Perjanjian Giyanti.

KARYA BESAR : Upacara adat Sekaten Garebeg Mulud, termasuk karya besar Sinuhun PB IV dan V yang meneruskan para perintisnya dari Kraton Demak dan leluhur Dinasti Mataram. Sinuhun PB XIV Hangabehi, bisa meneladani itu dan terbuka kesempatannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Detil persoalan pisahnya sepasang gamelan pusaka, baik saat di Kraton Demak maupun di Kraton Mataram Surakarta (1755), hingga kini memang tak banyak data pendukung yang menguatkan kebenarannya. Tetapi, biarlah menjadi bagian sejarah yang suatu saat akan muncul data penjelasnya. Yang penting, kini Kraton Mataram Surakarta sudah memiliki gamelan Sekaten, lengkap sepasang untuk dilestarikan.

Tak hanya dilestarikan, gamelan Sekaten yang memunculkan peran Sinuhun PB IV dan puteranya yaitu Sinuhun PB V tentu juga akan banyak memberi inspirasi kepada para pemimpin penerusnya atau generasi yang meneladaninya. Karena, kedua tokoh itu sangat layak disebut tokoh inspirator dalam berkarya, terutama mengenai karya seni dan memiliki karya-karya penuh spirit berketuhanan yang patut diteladani.

GENDHING SANTISWARAN : Ritual Sekaten Garebeg Mulud, bisa identik Sinuhun PB IV dan PB V karena ada beberapa karya besar di dalamnya. Seni karawitan religi Santiswaran, juga identik dengan Sinuhun PB V karena karya-karya gendhingnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinuhun PB IV telah menghasilkan banyak karya, di antaranya naskah Serat Wulangreh dan “Kur’an Jawa”, sedangkan penerusnya, Sinuhun PB V, punya karya besar Serat Tjenthini yang di dalamnya juga merangkum hal-hal penting yang disebut dalam Serat Wulangreh. Para pemimpin penerusnya, memang semakin sedikit dalam berkarya, khususnya dalam bentuk naskah berisi piwulang luhur spiritual.

Terlebih ketika memasuki masa Sinuhun PB XIII jumeneng-nata (2004-2025) yang banyak dianggap nyaris “tanpa karya”, karena “lepas kendali” dan “lost control”. Kini, Sinuhun PB XIV Hangabehi, mendapat kesempatan yang baik dan luas untuk meneladani yang sudah dicontohkan terutama Sinuhun PB V. Setidaknya, hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud 2026 ini, bisa mengangkat derajat kraton dan seisinya. (Won Poerwono-bersambung/i1)