Ada 100-an Warga Minta Diruwat, Gusti Moeng Ingat Pesan Sinuhun PB XII
SURAKARTA, iMNews.id – Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta menggelar ritual ruwatan massal untuk menandai datangnya bulan Sura/Muharam Tahun Baru Jawa/Hijriyah Be 1960/1448 H, di Pendapa Sitinggil Lor, Kamis (25/6) semalam. Ruwatan yang diikuti 100-an warga dari berbagai daerah itu, mengingatkan Gusti Moeng atas pesan Sinuhun PB XII kepada putra/putrinya saat diruwat Ki Panut Darmoko.
“Upacara adat ruwatan itu mirip upacara adat Sesaji Mahesa Lawung, tetapi memakai pentas wayang yang secara khusus untuk ruwatan. Tujuannya, ya memohon keselamatan khususnya bagi yang diruwat, agar sukerta-nya disingkirkan. Ini hanya persiapan 2 hari, pesertanya sudah 100-an. Kesempatan yang akan datang persiapannya bisa lebih baik lagi, agar menjangkau animo masyarakat lebih luas lagi”.
“Beberapa tahun lalu, kraton selalu rutin menggelar ruwatan massal tiap datang bulan Sura. Yang sekarangpun untuk menandai pergantian Tahun Jawa Be 1960 (1448 Hijriyah). Saya menjadi teringat saat Sinuhun PB XII menggelar ruwatan untuk semua putra/putrinya. Karena Sinuhun ingin bertanya sekali lagi soal kesetiaan putra/putrinya mengurus kraton. Kalau tidak (setia), pasti ‘kendhang’,” ujarnya.
Penjelasan Gusti Moeng saat diwawancarai beberapa wartawan di sela-sela siraman tanda ruwat sukerta di Pendapa Sitinggil Lor, Kamis (25/6) semalam, memberi isyarat terjadinya suasana yang menjadi jawaban atas kesetiaan yang ditanya Sinuhun PB XII. Menurutnya, janji setia yang diucapkan melalui upacara sakral ruwatan itu, telah menunjukkan hasil, banyak putra/putri-dalem yang “kendhang”.

“Kendhang” yang bermakna terlempar atau tersingkir, disebut Gusti Moeng untuk melukiskan begitu banyak putra/putri-dalem yang “hilang dari peredaran” setelah mengikuti upacara adat ruwatan khusus bersama Sinuhun PB XII, beberapa waktu sebelum 2004. Ritual ruwatan yang digelar di “gedhong” Sasana Handrawina itu, menghadirkan dalang ahli ruwat, abdi-dalem Ki KRT Panut Darmoko (alm) asal Nganjuk.
Wayang ruwatan yang disajikan Bebadan Kabinet 2004, semalam, digelar oleh dalang abdi-dalem kraton Nyi KMT Rumiyati Anjangmas asal Kartasura (Sukoharjo). Walau wanita, dalang sepuh dari keluarga besar seniman yang rata-rata berprofesi dalang itu, punya jam terbang panjang dan berkapasitas menjalankan ritual ruwatan. Semalam, pantas lakon Murwakala digelar sejam, lalu berlanjut “ruwatan sukerta”.
Sebelum pentas wayang ruwatan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA sempat memberi sambutan tunggal. Dalam sambutan disampaikan ucapan terima kasih atas kepedulian masyarakat luas, khususnya para peserta ruwatan massal dan keluarganya. Mereka itu disebut para “sutresna budaya” yang selalu berusaha ikut melestarikan Budaya Jawa yang bersumber dari kraton.
Usai sambutan tunggal, dilanjutkan dengan sajian tembang “Singgah Kala Singgah”, sebuah doa khas Jawa untuk memohon keselamatan agar dijauhkan dari segala aral, bencana dan godaan. Karena, dalam ritual ruwatan selalu ada objek yang diruwat dan bila objeknya manusia, selalu yang dianggap punya “sukerta”. Misalnya yang terlahir “ontang-anting” (tunggal), “Kedhana-kedhini” (kembar) dan seterusnya.

Gelar wayang khusus ruwatan berlakon baku “Murwakala”, kini semakin terkikis dan langka karena dianggap syirik atau musyrik oleh masyarakat tertentu. Namun bagi para dalang sepuh atau spesialis ruwat seperti Ki Manteb Soedharsono (alm), Ki Djoko Laksitono, Ki Warsino Gunocarito (alm) dan sebagainya menyebut, anggapan itu ada karena makin langka tokoh/praktisi yang bisa menjelaskan pada publik.
Semalam, usai gelar wayang ruwatan sekitar sejam, lalu dilanjutkan ritual membuang “sukerta” yang ditandai dengan memotong rambut semua yang diruwat. Para peserta antre bergantian ke depan layar (kelir) wayang, lalu Nyi KMT Rumiyati memotong menggunting rambut mereka bergantian, yang dijulurkan di bawah “gedebog” (batang pisang). Pemotongan rambut dibantu pendeta Puja Astawa dari Mojogedang.
Selesai pemotongan rambut dan diajdikan satu dalam wadah untuk dilabuh, kelak, para peserta ruwatan diminta menuju tempat siraman yang sudah disiapkan secara terpisah untuk perempuan dan lelaki. Gusti Moeng menyiram air kembang setaman para peserta perempuan, sedang Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah) menyiram peserta lelaku di tempat terbuka yang berhias janur melengkung di timur Sitinggil Lor.
Taracara terakhir ruwatan massal setelah siraman adalah pemberian simbol “rajah Kalacakra” kepada para peserta, yaitu melalui “wedhar mantram” mirip antawecanan atau dialog dalam pentas wayang yang dilakukan Nyi KMT Rumiyati. Setelah seluruh rangkaian upacara adat ruwatan selesai, dalang wanita itu meninggalkan tempatnya. Ki Sukadi Mbendhol yang menggantikan tempat mendalang, untuk meneruskan pentas.

Pentas wayang setelah ruwatan, adalah sajian wayang kulit purwa klasik gagrag Surakarta khas kraton. Ia tidak sendiri, bersama Ki Nariswara Praba dan Ki Maryono Brahimputro (adik alm Ki Manteb Soedarsono), mereka meneruskan pentas sampai pukul 03.00 WIB. Lakon yang disajikan secara estafet tiga dalang itu, “Dalang Karungrungan”. Mungkin karena mendadak, publik yang menonton tak banyak.
Sementara itu, di antara para peserta ruwatan, ada yang menyempatkan diri datang dari Singapura mudik ke Rulung Agung (Jatim) hanya agar bisa ikut ruwatan ke kraton Mataram Surakarta. Herlina (50) bersama anak lelaki “intang-anting” (semata wayang) bernama Afif Fauzi Mubarak Al Huda (9), ikut diruwat bersama, semalam. Ia mendapat informasi dari Sanggar Pasinaon Pambiwara cabang setempat.

“Begitu mendengar kabar dari teman yang aktif di sanggar itu, saya langsung mendaftar ikut diruwat bersama anak saya. Ya, mudah-mudahan dengan ruwatan ini kami, bahkan keluarga, dijauhkan dari segala bencana. Kami berhap selalu berada dalam keadaan selamat. Untuk anak saya, selain dilancarkan perjalanan mencapai cita-citanya, juga bisa mengenal Budaya Jawa walau tidak banyak,” ujar Herlina.
Selain Herlina yang bersuami keturunan India dan kini tinggal sekeluarga di Singapura, pentas wayang dan ruwatan dalam rangka peringatan wafat cucu Nabi Humammad SAW, 10 Sura semalam, juga mendapat perhatian beberapa intelektual dari Jogja. Prof Dr Ariesa Pandanwangi MSn (Universitas Kristen Maranatha) bersama tiga dosen salah satunya dari UPN (Jogja), diantar Dr Purwadi (UNY) ikut hadir. (won-i1)






