Juga Dilaporkan Soal Pendataan Jumlah Seni Reog di Nusantara
SURAKARTA, iMNews.id – Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA), Senin (22/6) siang tadi “mengukuhkan” sebanyak 20 orang “sesepuh” yang merawat “petilasan” Sunan Kumbul yang ada di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Upacara pengukuhan berlangsung di Bangsal Smarakata, ditandai dengan penyerahan sertifikat dan pusaka tombak.
Hadir dalam upacara kecil yang berlangsung mulai pukul 12.15 WIB tadi, selain para abdi-dalem yang “dikukuhkan” tampak juga KP MN Gendut Wreksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Ponorogo) dan istri serta KRA Sunarso Suro Agul-agul (Wakil Ketua). KRA Suro Agul-agul yang juga Ketua Paguyuban Reog Katon Sumirat dan Ketua Yayasan Reog Ponorogo, yang kini meneruskan keliling Nusantara untuk mendata reog.

Dalam kesempatan itu Gusti Moeng sempat memberi sambutan singkat dalam upacara “pengukuhan” sesepuh petilasan. Pada intinya dia menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat, khususnya para “sesepuh” yang telah merawat makam dan petilasan para leluhur Kraton Mataram Surakarta yang ada di wilayah Kabupaten Ponorogo. Sebelumnya, Ketua Pakasa Cabang Ponorogo juga menyampaikan laporan.
KP MN Gendut Wreksodiningrat membenarkan, untuk kesempatan “pengukuhan” siang tadi jumlahnya ada 20 orang “sesepuh”. Mereka adalah abdi-dalem yang merawat “petilasan” (Pelenggahan) Sunan Kumbul di Desa Sawoo dan Desa Prayunan, Kecamatan Sawoo. Di dua lokasi itu terdapat makam eyang Patih Brajawata dan eyang Kalipakara, seorang putra Sinuhun Amangkurat IV yang bermakam di Gunung Bayang.
KRA Sunarso Suro Agul-agul juga menjelaskan, upacara “pengukuhan” abdi-dalem “sesepuh” ini adalah yang kedua setelah yang pertama di tempat yang sama, sebelum acara “Methik Sekar” Wijayakusuma, awal Mei 2026. Saat itu, ada hampir 100 abdi-dalem “sesepuh” yang dikukuhkan, di antaranya dari makam Bathara Katong (Kecamatan Jenangan) dan makam Eyang Djayengrono (Kecamatan Pulung Merdika).
Disebutkan ada sejumlah lokasi makam dan petilasan yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Ponorogo. Di makam para tokoh leluhur Dinasti Mataram Surakarta itu, tiap datang waktu haul (khol) dan “nyadran” (Ruwah) selalu digelar wilujengan peringatan. Tiga lokasi terkenal di sana yang ramai diziarahi, adalah makam Kyai Muhammad Besari, Pelenggahan Sinuhun PB II dan makam Eyang Djayengrono .

Menurut dua pimpinan Pakasa Cabang Gebang Tinatar (Kabupaten Ponorogo) itu, selain abdi-dalem “sesepuh” yang dikukuhkan, masih ada tokoh “lurah” dan “juru-kunci” di masing-masing lokasi makam dan petilasan. Mereka juga mendapat sertfikat dan kekancingan gelar sesebutan dari Kraton Mataram Surakarta. Setiap lokasi makam dan petilasan, terdaftar dan diakui secara adat oleh kraton.
Di antara makam yang setiap datang bulan Sura menggelar upacara adat “khol”, adalah makam Eyang Djayengrono di Desa Pulung, Kecamatan Pulung Merdika. Kepala Desa Pulung yang juga “juru-kunci” makam Eyang Djayengrono, ikut hadir bersama rombongan pimpinan Pakasa Cabang Ponorogo, siang tadi. KRT Suroso Hadinagoro akan segera menggelar ritual “khol” eyang Djayengrono di bulan Sura ini.
Sementara itu, seusai upacara “pengukuhan”, KRA Sunarso Suro Agul-agul sempat melaporkan kepada Gusti Moeng, mengenai aktivitasnya berkeliling di sejumlah provinsi di Nusantara, dalam beberapa bulan terakhir ini. Perjalanan yang dilakukan berkait dengan posisinya selaku Ketua Yayasan Reog Indonesia dan juga Ketua Paguyuban Reog “Katon Sumirat”, untuk mendapatkan data lengkap tentang reog.
Menurutnya, seni reog Ponorogo yang sudah diakui Unesco sebagai pusaka warisan tak benda bagi dunia ini, ternyata belum dilengkapi dengan “data base” yang berisi berbagai hal tentang seni reog. Terutama yang menyangkut data jumlah unit seni reog dan luasnya sebaran di wilayah Nusantara ini. Ia menyatakan akan berangkat ke Kalimantan Selatan, dalam waktu dekat, untuk mendata reog di sana.

“Kami akan mendata jumlah unit seni reog dan kota/kabupaten lokasi kesenian berada. Termasuk mendata identitas senimannya, pimpinan pengurus unit kesenian dan juga para seniman setiap unitnya. Ini kami lakukan, setelah pendataan ulang kami adakan khusus untuk Kabupaten Ponorogo. Ternyata, kini di pusat kesenian ini punya 534 unit seni reog yang tersebar di seluruh kabupaten,” ujar KRA Sunarso.
Ia membandingkan dengan data tentang seni “Jaran Kepang”, yang secara nasional memiliki 600 ribu seniman dan alat peropertinya. Sedangkan seni reog Ponorogo, secara nasional baru tercatat ada 887 unit. Sedangkan informasi yang didapat menyebutkan, di Kalimantan Selatan dikabarkan punya 15 unit seni reog. Mendengar laporan itu, Gusti Moeng sangat mendukung langkah yayasan untuk mendata lengkap.

“Kalau jumlah Jaran Kepang tidak boleh disamakan dengan jumlah unit reog Ponorogo. Karena, unit reog bisa punya bagian bernama kesenian Jaran Kepang (jaranan). Tetapi kesenian Jaran Kepang, sangat jarang punya Dhadhak-Merak yang menjadi simbol seni reog,” seloroh Gusti Moeng. Penjelasan itu dibenarkan KRA Sunarso Suro Agul-agul yang menyebut, seni reog masih punya beberapa bagian lain.
Seni reog Ponorogo, seperti yang sering ditampilkan dari sumbernya Kabupaten Ponorogo, selain “Dhadhak-Merak”, punya bagian “Jathilan” (Jaranan) yang kini ditampilkan beberapa wanita cantik. Juga pemain “Bujang-Ganong”, yaitu pemain topeng yang punya kemampuan berjoget atraktif, gesit dan trampil mirip pesilat. Data-data ini, akan dikirim untuk memperkuat pengakuan Unesco pada seni reog. (won-i1)






