Bagi-bagi Santunan untuk Janda dan Anak Yatim, Plus Sandal eks Tokonya
KUDUS, iMNews.id – Lebih dari 250 warga Pakasa Cabang Kudus, Kamis (25/6) malam berkumpul di halaman bengkel kerja perusahaan Kafari Grup di Desa Pelang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di tempat itu, pengurus cabang bersama “Kafari Grup 1000 Jalan” menggelar acara peringatan 10 Sura (Muharam) Tahun Be 1960/1448 Hijriyah yang juga dikenal Asyura, peringatan wafat cucu Nabi Muhammad SAW.
Menurut KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, kegiatan spiritual religi Pakasa Cabang Kudus itu digelar di bengkel kerja perusahaan Kafari Grup, karena halaman kompleks perusahaan sangat luas. Hadirnya lebih dari 250 warga Pakasa yang di antaranya terdiri suami-istri dan anak-anaknya, tidak mungkin tertampung di sekretariat utama pengurus Pakasa yang ada di beberapa kediaman Ketua Cabang.

“Karena, kami memang mengundang keluarga-keluarga anggota Pakasa cabang, yang notabene santri empat Majelis Taklim kami. Sengaja saya mengharapkan agar para anggota yang hadir mengajak anak-anak mereka. Karena, kami ingi anak-anak itu mulai mengenal kegiatan organisasi dan kebiasaan mengenakan simbol-simbol Budaya Jawa yang berasal dari kraton. Karena, mereka itu generasi penerus kami kelak”.
“Karena kami sudah banyak yang berusia (tua), maka generasi penerus atau Pakasa muda sengaja kami siapkan sejak dini. Saat ada pisowanan di kraton bersamaan liburan sekolah, kami juga sering meminta warga untuk mengajak anak-anaknya. Biar mereka mengenal Budaya Jawa dan tradisi di kraton sejak usia anak-anak lebih dini. Biar mereka bisa belajar,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro.

Ketua Pakasa Cabang Kudus yang dihubungi iMNews.id siang tadi juga menyebutkan, peringatan 10 Sura yang digelar semalam juga mewajibkan kepada warga untuk mengenakan busana adat Jawi Jangkep, “bebed” atau jarik stelan seragam dari kraton. Disiplin mengenakan busana adat bagi warga Pakasa saat ada kegiatan penting Pakasa seperti semalam, merupakan hal wajib. Terlebih, ada misi penting.
Misi penting itu, adalah mengikuti gelar “donga wilujengan” memohon kepada Allah SWT khusus untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi. Isi “panyuwunan” itu, antara lain :”Mugi Gusti Allah ingkang Maha Welas Asih, tansah paring berkahm kasarasan, kawilujengan lan panjang yuswa dhumateng Sinuhun PB XIV Hangabehi. Mugi Gusti Allah tansah paring kawicaksanan, kekiyatan saha pepadhang”.

“Anggenipun nuntun lan ngreksa Karaton Surakarta Hadiningrat, nguri-uri Budaya Jawi sarta dados pepadhang para kawula-dalem lan masyarakat. Mugi sadaya gegayuhan ingkang sae dipun lancaraken, dipun-tebihaken saking sadaya bebaya lan fitnah saha tansah pinaringan rahmat, hidayah lan inayah saking Paduka duh Gusti Allah. Amin…. ya Rabbal ‘alamin,” demikian isi doa seluruh warga Pakasa Kudus.

Peringatan 10 Sura bagi Pakasa Kudus, adalah bagian dari kegiatan cabang yang hingga kini belum memiliki event ritual handal macam khol tokoh leluhur Dinasti Mataram. Padahal, di acara-acara religi seperti semalam, selalu disertai bagi-bagi santunan untuk para janda dan anak yatim. Bahkan, semalam dibawa 300 pasang sandal untuk semua yang hadir, seperti yang dikirim untuk para prajurit kraton. (won-i1)






