“Masih” Harus Mengalah Oleh Ambisi “Kelompok” yang tak Tahu Diri
IMNEWS.ID – PADA artikel tema sebelumnya, disinggung bagaimana upacara adat kirab pusaka di malam 1 Sura, digelar Bebadan Kabinet 2004 bersama semua elemen kelembagaan kraton dan elemen masyarakat adatnya. Ketika disebut sajian upacara adat secara umum dan khusus, sama-sama tampak ada “kejanggalan” yang tak biasa tersaji jika dicermati benar. Salah satunya adalah, pusat kesibukan “distribusi”.
Bagi masyarakat umum atau publik secara luas yang hanya melihat peristiwa budaya bernuasan spiritual religi dan kebatinan itu, sajian kirab pusaka mungkin hanya yang tertangkap penglihatan mereka. Itu saja, mungkin ada yang tidak lengkap menangkap dan beda-beda memaknai atau menafsirkan. Bagi semua yang selalu melihat kesibukan pelepasan prosesi kirab dari dalam, mungkin banyak yang bisa “melihat”.

Yaitu melihat dan menangkap kejanggalan tersebut, jika bisa membandingkan dengan peristiwa yang sama dan rutin digelar kraton sebelumnya, bahkan sebelum 2017 saat kraton belum ditutup dan dikuasai “segerombolan” oknum melalui “Insiden MOM”. Karena, ada perbedaan mencolok yang membuat terasa janggal saat dibandingkan. Ini terjadi, karena ada “pertempuran” yang membuat satu pihak masih harus “mengalah”.
Pihak Bebadan Kabinet 2004 bersama seluruh elemen kelembagaan kraton dan elemen masyarakat adat, masih harus “bersabar” dan “mengalah”. Karena kelompok atau pihak lain yang dihadapi, adalah “gerombolan oknum” yang sangat berambisi untuk berkuasa, yang membuatnya “tak tahu diri”. Karena, sampai tahap sekarang ini, hanya persoalan etika, rasa malu dan sadar diri yang bisa mengakhiri semua ini.
Mengalah dalam adagium Jawa yang lengkapnya berbunyi “wong (sing gelem) ngalah, luhur wekasane” dan masih harus menahan sabar, bukan berarti harus diam saja tak berbuat apa-apa. “Mengalah” dan “bersabar” bagi jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan LDA yang dipimpin Gusti Moeng, adalah ketulusan, penuh tanggung-jawab. Sikap itu menjadi solusi untuk mangatasi situasi krusial, saat pelepasan prosesi kirab.
Dari “ketulusan” untuk mengalah dan menahan sabar itu, lahir kreativitas untuk mengantisipasi situasi “krusial” sebagai akibat ada pihak yang langsung atau tidak, bisa disebut melakukan “sabotase”. Kreativitas itu adalah, memindah lokasi pemusatan upacara pembagian/distribusi pusaka yang akan dikirabkan. Dan saat itu, pemusatan upacara distribusi 14 pusaka berlangsung di teras Paningrat Lor.

“Krativitas” memindah lokasi upacara pelepasan prosesi kirab yang berlangsung begitu cepat menjelang pukul 21.00 WIB, sangat luar biasa pengaruh secara psikis yang ditimbulkan. Karena, kiblat pusat lokasi upacara bergeser ke timur dari yang biasanya berada di sisi ujung barat Pendapa Sasana Sewaka. Maka tidak aneh, pusat perhatian semua yang “sowan” mendukung kirab, juga bergeser ke arah timur.
Dengan bergesernya pusat perhatian hampir semua peserta upacara pelepasan prosesi, Selasa malam (16/6) itu, tentu membuat semua aktivitas yang berada di depan pintu “Ndalem Ageng” menjadi bukan yang utama. Apalagi, lalu-lalang dan barisan pembawa pusaka 1-14, tidak berada di Bangsal Parasedya itu. Dua aktivitas ini bergeser ke timur teras Paningrat Lor, memanjang hingga Sasana Handrawina.
Karena aktivitas pelepasan barisan pembawa pusaka lurus memanjang dari selatan ke utara melalui teras Sasana Handrawina ke belakang teras Malide dan sisi timur teras Paningrat Lor, maka semua yang sowan duduk lesehan di situ dan posisi yang berada di halaman dekat teras Paningrat Lor, juga menggeser arah pandangnya. Maka, malam itu terkesan ada adu punggung antara yang sowan dan aktivitas tahlil.
Pergeseran pusat perhatian yang diikuti pergeseran arah pandang tentu menjadi fakta yang rasional. Karena, aktivitas utama distribusi pusaka dan pergerakan barisan pembawa pusaka, berpindah ke timur. Walau peristiwa itu sangat tidak lazim dan fenomenal, tetapi berjalan begitu saja seakan tak ada yang berubah atau janggal. Kejanggalan inilah yang menjadi keniscayaan sebagai solusi krusial saat itu.

Walau senyatanya ada aktivitas yang bisa dikatagorikan “sabotase”, tetapi suasana yang tercipta saat itu bisa menenggelamkan semua kejanggalan dan keanehan malam itu. Itu karena, sinergitas lintas lembaga internal dan eksternal kraton dalam panitia besar yang menggelar kirab pusaka malam 1 Sura 2026 itu, mencapai sukses. Yang jelas, di malam pelepasan prosesi, suasana khidmat dan sakral bisa terjaga.
Suasananya jauh dari kirab pusaka 2025 atau sebelumnya selama kraton dikuasai “gerombolan haus kekuasaan”. Selasa malam (16/6) itu, tak terdengar lagi suara sound system yang mengganggu suasana khidmat dan sakral. Karena tak ada lagi pemanggilan nama di persiapan itu. Tak ada lagi suara wanita menyebut nama dan gelar petugas “ngampil” dan “nyumbul” pusaka itu, keras dan sering salah.

Bila dicermati lagi, bentuk praktik tatacara persiapan barisan pembawa pusaka, memang benar yang selama ini dilakukan para petugas yang sudah ditunjuk Bebadan Kabinet 2004. Mereka adalah para pamong dan dwija Sanggar Pasinaon Pambiwara dan warga Pasipamarta pimpinan KP Siswantodiningrat, yang punya cara efektif, efisien dan santun serta menuntaskan barusan petugas itu di Bangsal Smarakata.
Oleh sebab itu, malam itu tidak terdengar lagi ada suara sound system di Bangsal Parasedya. Apalagi suara wanita, konon putri-dalem, yang terkesan sama sekali tak paham singkatan gelar sesebutan, sehingga sering salah menyebut, bersuara keras dan terkesan kurang menghormati pemilik gelar sesebutan itu. Sepertinya, semua elemen masyarakat, lebih setuju suasana kirab yang hening, khidmat dan sakral. (Won Poerwono-bersambung/i1)






