Prajurit Akan Memandu Prosesi Tata-cara Adat Sekar Wijayakusuma ke Kraton
IMNEWS.ID – MENCERMATI data manuskrip tentang tatacara adat “methik sekar” Wijayakusuma, hingga membawanya pulang ke kraton dan “menyanggarkan” di ruang pusaka, jelas sekali tak ada yang berjalan di luar tata-cara adat. Artinya, untuk keperluan apapun di kraton dan bagi kraton, protokol adat diutamakan, nomer 1.
Data-data manuskrip saat ritual “methik sekar” Sinuhun PB X misalnya, jelas sekali masih ada dokumentasi foto tersimpan di Sasana Pustaka yang menggambarkan tata-cara adatnya. Sejak proses keberangkatan tim yang membawa segala uba-rampe, peralatan dan perlengkapan, hingga kembali membawa bunga itu ke kraton.
Proses persiapan, keberangkatan, proses “methik sekar” hingga proses kembali ke kraton, semuanya merupakan urut-urutan yang lengkap beretika dan berestetika genap. Dan, mulai berangkat, memetik hingga kembali ke kraton, semua urutannya menggunakan protokol adat secara lengkap, yaitu tata-cara serah-terima.

Ketika semua sudah teruraikan dalam himpunan tata-cara protokol adat yang genap, di situlah letak keagungan sebuah upacara adat, bagian Budaya Jawa yang khas dan spesifik hanya dimiliki Kraton Mataram Surakarta. Walau sangat dimungkinkan, tata-cara dan upacara adat itu adalah proses “penyelarasan” zaman sebelumnya.
Untuk melihat rasionalitasnya mengenai proporsional dan urgensi protokol adat, misalnya ketika kita membandingkan dengan upacara adat “Grebeg Suro” yang digelar Pakasa Cabang Ponorogo. Juga misalnya ketika ada prosesi haul (khol) tokoh leluhur Dinasti Mataram di berbagai daerah, ada keagungan karena protokol adat.
Ritual “methik sekar” Wijayakusuma untuk menggenapi “perjalanan spiritual” para pemimpin Dinasti Mataram yang sudah menjadi tradisi ratusan tahun, tentu menyatu utuh dalam tata-cara upacara adat dan protokol adatnya. Oleh sebab itu, agenda “methik sekar” Wijayakusuma pada 2-3 Mei nanti, mutlak perlu protokol adat penuh.

Dengan pertimbangan proporsional dan urgensi ritual “methik sekar” ke goa Masigit Sela (Nusakambangan) dan “mboyong kondur” ke “kedhaton”, 2-3 Mei nanti, sudah selayaknya dijalankan dengan baik. Karena, ritual ini menyangkut legitimasi, keagungan dan kewibawaan sebagai stampel spiritual kraton di zaman modern ini.
Bahwa situasi dan kondisi secara umum kini sedang “tidak baik-baik” saja, semua bisa disesuaikan di satu sisi dan dioptimalkan di lain sisi. Sejak awal sudah bersepakat untuk melaksanakan upacara adat ini secara swadaya mandiri, memang itu yang harus menjadi tujuan. Hal yang sangat esensial harus tetap diprioritaskan.
Bila dicermati, susunan dari semua yang terlibat dalam kepanitiaan ritual “methik sekar” nanti, secara esensial memang perlu skala prioritas kalau ada pertimbangan masalah efektivitas dan efisiensi. Yang jelas, bangunannya terdiri dari unsur protokol adat utusan-dalem, unsur spiritual religi-kebatinan dan daya-dukung.

Perpaduan antara unsur spiritual religi dan kebatinan, memang sangat menonjol dalam ritual “methik sekar” Wijayakusuma nanti. Oleh sebab itu, unsur abdi-dalem ulama yang isinya antara “Kanca-Kaji”, menjadi daya-dukung utama rangkaian kegiatan religi. Donga wilujengan, tahlil dan dzikir harus mendapatkan prioritas.
Kegiatan spiritual religi yang diadakan kraton menjelang berangkat, sesampai di lokasi goa dan sepulang ke kraton, sudah menjadi ciri Mataram Islam. Begitu pula donga wilujengan, tahlil dan dzikir di makam Patih Sindurejo, Pasarean Paremono (Magelang) dan makam Ki Ageng Giring Banjarnegara, adalah dukungan wajib.
Menjadikan agenda ritual “Methik sekar” Wijayakusuma bisa terwujud ideal, akan tercatat dalam sejarah perjalanan Kraton Mataram Surakarta dan perjalanan bangsa di negara republik ini sepanjang masa. Walau berada dalam suasana keterbatasan, memang perlu dihindari hal-hal yang bisa menjadikannya cacat dan mengecewakan.

Tetapi, justru karena keterbatasan itu biasanya malah menjadi ajang berebut “tempat” (panggung-Red), untuk berbagai kepentingan. Tetapi keinginan seperti itu memang tidak sepenuhnya salah, karena banyak yang sadar bahwa menjadi bagian dari peristiwa itu sangat langka atau “mahal”. Karena, terulang dua kali saja sulit.
Yang bisa menurunkan “tensi” dan “ambisi” berebut “tempat” (panggung), hanyalah keasadaran tentang makna upacara adatnya. Selain itu, soal risiko potensi ancaman bahayanya saat berlalu-lintas dengan perahu menuju goa Masigit Sela atau sebaliknya. Karena, dibutuhkan energi untuk mengkalkulasi persiapan banyak hal.
Misalnya, kelaikan perahu dan informasi cuaca, karena tidak mungkin mengakomodasi penyeberangan orang dalam jumlah besar. Skala prioritas harus dipegang teguh. Karena ekspresi protokol adat kebesaran kraton, hanya bisa diperlihatkan saat berangkat dan pulang membawa sekar Wijayakusuma itu, bukan ritual memetiknya. (Won Poerwono – habis/i1)
