Kesetiaan Suwita Hangrungkebi Budaya yang tak Bisa Diukur dengan Materi
IMNEWS.ID – BANYAK cerita sisi lain yang menarik dari upacara wisuda bagi ”abdidalem” yang menerima ”partisara” berisi kekancingan tentang gelar ”sesebutan” yang diselenggarakan Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, Minggu siang (iMNews.id, 10/1). Bahkan, upacara yang digelar begitu sederhana di separo ruang kagungandalem Pendapa Pagelaran Sasanasumewa itu, sarat makna bagi siapa saja yang masih cinta, peduli dan mau melestarikan budaya dan peradaban Jawa.
Salah satu makna itu, adalah ungkapan apresiasi LDA sebagai representasi keluarga besar Keraton Mataram Surakarta, terhadap kesetiaan para kerabat dan keluarga besar masyarakat adat yang selama ini tetap konsisten dan konsekuen dalam pelestarian budaya/peradaban Jawa. Walaupun, situasi dan kondisinya tidak menggembirakan seperti yang dialami bersama-sama selama lima tahunan sejak April 2017.
Sisi lain yang menjadi cerita menarik itu, adalah kesetiaan para prajurit termasuk di dalamnya korp musik, yang tetap mengikuti Gusti Moeng selaku Ketua LDA, ”berjuang” melestarikan budaya Jawa demi eksistensi peradaban Mataram/Jawa walau di luar keraton. Dan hampir selama 5 tahun itu, komandan prajurit KRAT Pradnyono Reksoyudo tetap setia memimpin sekitar 60-an ”anak-buahnya’ dari 9 bregada prajurit yang tersisa, akibat terbelah dua sejak insiden April 2017.

”Sampai hampir terlupakan, kanca-kanca abdidalem prajurit malah luput dari perhatian. Padahal, kesetiaannya luar biasa untuk suwita (mengabdi) hangrungkebi (mencintai) dalam pelestarian budaya. Maka, pada kesempatan ini ada sejumlah abdidalem prajurit yang ikut diwisuda. Bersamaan itu, ada sejumlah abdidalem dari beberapa daerah yang diwisuda. Bahkan, ada bapak Wakil Wali Kota Bekasi (Jabar) ikut diwisuda siang ini,” ujar KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Punjer (Ketua Pusat) Pakasa ikut menyambut, menindaklanjut hal-hal penting yang disinggung Gusti Moeng dalam sambutannya selaku Ketua LDA.
Kesetiaan seperti itulah yang diperlihatkan KRAT Pradnyono Reksoyudo dan para ”anak-buahnya”, yang siang itu mendapatkan apresiasi dari Ketua LDA sekaligus Pengageng Sasana Wilapa Keraton Mataram Surakarta yang bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertiyah itu. Kesetiaan dan apresiasi itu pula yang menjadi makna upacara ”wisudan” (pewisudaan) yang digelar LDA, walau hanya dengan ”sangat sederhana”.
”Saya hanya punya rasa bangga dan gembira, telah menerima paringdalem gelar sesebutan karena pasuwitan saya sebagai prajurit. Tetapi, ini karena sudah menjadi gawa-gawene sebagai abdidalem yang suwita untuk melestarikan budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Mataram Surakarta. Mudah-mudahan, saya bersama teman-teman prajurit bisa menerima tanggungjawab menjalankan tugas dari LDA untuk pelestarian budaya,” ucap KRAT Pradnyono Reksoyudo, ketika iMNews.id meminta komentarnya, tadi siang.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Kesetiaan para prajurit yang tetap konsisten dan konsekuen menjalankan tugas di bidangnya, memang sudah tidak bisa diragukan lagi, terutama selama 5 tahun terakhir mengikuti jejak Gusti Moeng. Bila menghitung gajinya yang diterima tiap bulan rata-rata hanya berkisar Rp 300-an, kesetiaan pengabdian para prajurit itu jelas tidak bisa diukur dengan uang atau materi. Apresiasi dan penghargaan yang sama, juga diterima para abdidalem yang bertugas di bidang lain selama bertahun-tahun sejak lama.
Terlebih ketika menjalankan tugas di berbagai daerah yang jauh seperti mengawal rombongan keraton di upacara larap selambu makam Sinuhun Amangkurat Agung di Tegalarum (Kabupaten Slawi), karena event ritual serupa yang diagendakan Gusti Moeng, dalam setahun ada 50 lokasi tersebar di beberapa provinsi yang harus diikuti. Bahkan, Festival Keraton Nusantara (FKN) yang sebelum pandemi rutin digelar tiap tahun sampai jauh di luar Jawa, itu jelas butuh keikhlasan dan ”setyatuhu pasuwitan” Bregada Abdidalem Prajurit dan Korsik Keraton Mataram Surakarta, demi kelestarian budaya dan peradaban.
Dalam catatan abdidalem KRT Arwantodipuro di sekretariat LDA, prajurit di Keraton Mataram Surakarta sempat diaktifkan lagi genap sembilan bregada (brigade) dan jumlahnya mencapai 300-an di saat jumenengan Sinuhun PB XIII. Tetapi, karena ada peristiwa April 2017, sempat terjadi kevakuman beberapa saat, tetapi Gusti Moeng mengambil langkah penyelamatan dan beberapa bregada prajurit yang jumlahnya tinggal 100-an orang di bawah komandan KRAT Pradnyono Reksoyudo itu tetap eksis hinga kini, walau banyak ”bergerak” di luar keraton.

Hadirnya Wakil Wali Kota Bekasi Dr KRT Tri Adhianto Tjahjono Reksonagoro yang ikut diwisuda menerima partisara kekancingan siang itu, memang cukup menarik perhatian, mengingat Kota Bekasi sedang jadi perbincangan publik sepekan ini, akibat ‘bermasalah” dengan KPK. Namun, kehadiran sekitar 20 abdidalem anggota Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim) yang dipimpin ketuanya, KRA MN Gendut Wreksodiningrat, menjadi sisi lain cerita yang cukup menarik.
Selain ketua cabang yang ikut diwisuda karena mendapat kenaikan pangkat gelar sesebutan ”KRRA” di depan namanya, sejumlah abdidalem Pakasa cabang yang diajaknya juga ikut diwisuda. Pakasa Cabang yang dikenal karena nama besar pesantren ”Gebang Tinatar” di Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Ponorogo itu, kini menjadi cabang terbesar kedua karena jumlah aggotanya setelah Cabang Klaten.
”Cinderamata baronga kepala singa itu yang kami aturkan kepada Ketua LDA (Gusti Moeng), kembali menyambung silaturahmi antara masyarakat Ponorogo dengan Keraton Mataram Surakarta. Karena, barongan reog yang mengiringi Sinuhun PB II kondur ke Keraton Mataram Kartasura waktu itu (sebelum 17 Sura 1745 M), adalah barongan macan tutul. Jadi, reog Ponorogo yang asli, barongannya macan tutul, bukan macan loreng,” jelas KRRA MN Gendut Wreksodiningrat melukiskan kesetiaan Pakasa Ponorogo terhadap keraton, saat dihubungi iMNews.id, tadi siang. (Won Poerwono)