Kamis, 2 Desember 2021
Budaya Sinuhun PB X Disiapkan Sebagai Putra Mahkota di Usia 3 Tahun

Sinuhun PB X Disiapkan Sebagai Putra Mahkota di Usia 3 Tahun

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

SOLO, iMNews.id – Sinuhun Paku Buwono (PB) X disiapkan sang ayah yaitu Sinuhun PB IX sebagai putra mahkota dan menyandang Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH), pada usia yang masih sangat muda, bahkan boleh dikatakan masih ”balita”, yaitu di usia 3 tahun. Tradisi seperti itu baru satu-satunya dilakukan sepanjang sejarah dinasti Paku Buwono (PB I hingga kini PB XIII), bahkan sepanjang sejarah Mataram sejak beribukota di Plered.

”Jadi, beliau menjadi satu-satunya Pangeran yang masih muda tetapi paling kaya. Karena, seorang pangeran menjadi gaji secara khusus, apalagi pangeran putra, apalagi calon Sinuhun PB X itu (waktu itu-Red). Beliau dinobatkan sebagai Sinuhun PB X setelah ayahanda surut (wafat) di tahun 1893. Bukan sejak kecil jumeneng (PB X) sebelum Sinuhun PB IX wafat,” tegas KPHA Purbodiningrat menjawab pertanyaan iMNews.id, sekaligus meluruskan sepenggal kalimat kutipan yang tertulis dalam media ini (iMNews, 19/5).

Kutipan yang disebutkan KRT Hendri Rosyad berbunyi ”….Kalau ada riwayat Sinuhun PB IX menobatkan putra mahkotanya untuk jumeneng menjadi Sinuhun PB X, menggantikan kedudukannya, mengapa kita semua tidak meneladani kawicaksanan itu? Sinuhun PB IX memilih mundur dan dihormati sebagai Sinuhun ‘Sepuh’ Sinuhun PB IX …..”, menurut KPHA Purbodiningrat tidak tepat. Menurutnya, Sinuhun PB X  jumeneng nata sesudah ayahandanya wafat terlebih dulu.

Dengan pernyataan Ketua Paguyuban Trah Sinuhun PB VIII itu, kesalahan persepsi sudah diluruskan. Dalam persepsi ”Redaksi”,  penggunaan kata”kalau” dalam kalimat kutipan itu sudah bermakna bahwa kalimat itu bukan sebuah kemutlakan dari kebenaran sebuah fakta, tetapi mengandung unsur-unsur yang masih bisa dikoreksi kalau kemudian ditemukan fakta baru. Terlebih, susunan sejarah masa lalu bangsa sebelum NKRI, lebih banyak terwujud dalam tradisi tutur atau lisan yang sangat tinggi unsur subjektivitasnya dan rentan berubah setiap saat. (won) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This