Bisa Menghapus Peran Besar Tokoh Penting, Sekaligus Melahirkan Mitos
IMNEWS.ID – SIKAP rendah hati para tokoh leluhur Jawa yang selalu berusaha mengesampingkan nilai nominal (materialistik) sebuah “karya” (benda), terbukti sangat jarang ditemukan petunjuknya di berbagai naskah manuskrip yang tersimpan di Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta. Nilai ketulusan dan keikhlasan itu, di satu sisi menjadi contoh edukasi yang baik dalam membangun karakter manusia.
Tetapi di sisi lain, ada sesuatu yang hilang atau kurang lengkap dalam catatan sejarah para tokoh leluhur Jawa, khususnya yang dari para pemimpin kraton-kraton di Jawa sepanjang 21 abad ini. Karena, ada peran tokoh-tokoh besar yang nyaris tidak dikenal atau terhapus begitu saja, akibat dua kemungkinan. Pertama karena ada sisi nilai materialistik yang “saru”, dan penonjolan garis pimpinan.

Jadi, peran tokoh wanita yang begitu menonjol sebagai “cukong” yang membiayai berbagai keperluan “negara” (monarki) pada perjalanan Dinasti Mataram, nyaris tak ditemukan dalam penulisan sejarah (manuskrip), yang pertama karena alasan “saru”. Kedua, penonjolan garis kepemimpinan lelaki dalam kraton Mataram Islam dianggap sudah tepat, karena imam dalam hukum Islam adalah lelaki, bukan wanita.
Sebuah “ketaatan” pada hukum yang dijaga sampai pada penulisan riwayat kisahnya itu, di satu sisi adalah edukasi tentang nilai-nilai ajaran religi. Tetapi di sisi lain ada realitas peran besar tokoh penting dalam sejarah kepemimpinan seseorang, menjadi “terhapus” begitu saja, seolah-olah tidak ada. Peran besar tokoh yang “hilang” atau tak dikenal ini, bisa menimbulkan tanda-tanya besar.

Tanda tanya besar itu kurang lebih seperti yang dimaksud dalam pertanyaan mahasiswa dalam diskusi dengan tuan rumah, saat melakukan studi “field trip” di kraton. Ketika dianalisis, pertanyaan itu terkesan menjadi anggapan umum kalangan mahasiswa, bahkan generasi muda seusianya dan publik secara luas yang tak pernah belajar sejarah. Kraton dulu dibangun dengan uang dari mana?.
Pertanyaan besar itu sangatlah wajar datang dari kalangan generasi muda yang lahir 20-an tahun lalu. Jangankan mereka, generasi yang lahir 5 bahkan 8 dekade lalu, pasti punya pertanyaan yang serupa. Karena, membangun fasilitas apapun apalagi infrastruktur “Ibu Kota” negara (monarki) dan fasilitas publik, pasti ada (nilai nominal) biayanya. Siapa yang membiayai? Uangnya dari mana?.

Pertanyaan seperti itu, masuk kategori akuntabilitas di bidang administrasi di zaman modern seperti sekarang. Karena rata-rata bangunan fasilitas apapun di zaman modern ini, selalu disertakan ruang penjelasan yang tertembel dalam sudut bangunan, apalagi kalau berupa proyek yang dibiayai negara. Contoh ini menjadi referensi pembanding yang rasional “accountable” kalangan generasi masa kini.
Sisi rasional akuntabilitas sebuah karya, sebenarnya menjadi sangat penting untuk menggambarkan secara lengkap bagaimana proses sebuah karya dihasilkan. Karena, faktor tokoh di balik layar yang justru besar perannya, akan membuat informasinya semakin lengkap dan meyakinkan. Tetapi, kelengkapan informasi sebuah karya, berisiko mengurangi unsur kesakralannya (mitologi).

Unsur mitologi ini banyak menyertai pengungkapan insformasi soal “karya” (benda pusaka), padahal hanya karena sang tokoh di belakang layar (cukong) dianggap tak pantas disebut karena tabu atau saru. Tetapi ada kerugian besar untuk keperluan edukasi generasi muda, kara sejumlah nama besar di belakang layar yang punya peran penting, malah tidak mereka kenal, atau terhapus begitu saja.
Contohnya nama besar Kanjeng Ratu (KR) Kentjana Kudus, permaisuri Sinuhun Amangkurat IV (Jawi), KR Handaya dan KR Sakaptinah (permaisuri Sunuhun PB IV) dan para istri yang menjadi “cukong” di balik sukses para pemimpin Dinasti Mataram. Mengapa para permaisuri yang berperan di balik sukses Sinuhun PB II, PB IV dan PB V berkarya ini, malah “tak dikenal” dan “terhapus” dari sejarah?. (Won Poerwono-bersambung/i1)
