Kamis, 2 Desember 2021
Regional Gusti Moeng Nyadran ke Grobogan, Gusti Timoer Nyekar ke Tegalarum

Gusti Moeng Nyadran ke Grobogan, Gusti Timoer Nyekar ke Tegalarum

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

Berbagi Tugas Sekaligus Berbagi Peran, Karena Waktu Mendesak

GROBOGAN, iMNews.id – Di sisa-sisa waktu bulan Ruwah atau menyambut bulan Pasa/Ramadhan dalam kalender Jawa ini, Gusti Moeng benar-benar memanfaatkan waktu sempit untuk menjalankan tugas adat, nyekar atau nyadran di makam leluhur Dinasti Mataram. Ketua LDA yang juga Pengageng Sasana Wilapa harus berbagi tugas, dirinya bersama rombongan nyadran di beberapa titik lokasi di Kabupaten Grobogan, kemarin (7/4), sedangkan Gusti Timoer ditugasi memimpin rombongan nyekar di makam Sinuhun Amangkurat di Kabupaten Slawi/Tegal, Minggu (4/4).

”Yang saya ‘sowani’ kemarin, sebelumnya menjadi tugas rutin Gusti Cahyo (GPH Nur Cahyaningrat, adik lain ibu) memimpin rombongan nyadran ke sana (Kabupaten Grobogan). Karena Gusti Cahyo meninggal (sekitar 5 bulan lalu), sementara saya yang menggantikan. Di sana, saya nyadran di tiga titik lokasi, di antaranya makam Ki Ageng Sela dan Kyai Katong. Semuanya leluhur Mataram, di zaman Keraton Pajang (1550-1587),” tutur Gusti Moeng menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

Kegiatan adat nyadran di bulan Ruwah yang masih dilakukan masyarakat etnik Jawa kebanyakan, bagi masyarakat adat yang terwadahi dalam LDA Keraton Mataram Surakarta aturannya adalah wajib dilakukan. Itu merupakan bagian dari bentuk penghormatan atau ungkapan rasa berbhakti yang disebut ”mikul dhuwur, mendhem jero”, untuk mengenang jasa-jasa semasa hidup para tokoh itu terhadap eksistensi peradaban Jawa dan sejarah Dinasti Mataram.

Disebutkan Gusti Moeng, dengan dicetuskannya Gerakan Penyelamatan Keraton Surakarta” dengan semboyan #Lestarikan Keraton setelah deklarasi di Topengan Kori Kamandungan, beberapa waktu lalu, jadwal kegiatan LDA bersama seluruh elemennya menjadi padat. Karena, sejak gerakan penyelamatan dilakukan, segera diikuti gerakan kerjabhakti resik-resik lingkungan keraton yang didukung artis Rian Ekki Pradipta atau Rian D’Masiv yang malah mendirikan Relawan #Lestarikan Keraton untuk mendukung gerakan itu.

MENGIKUTI DOA : Gusti Moeng dan rombongan dari LDA Keraton Mataram Surakarta yang dipimpin, tampak mengikuti doa yang dipimpin Kyai Rani (Pengasuh Ponpes Darul Kailani) di depan makam Ki Ageng Katong di Desa Katong, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kemarin. (foto : iMNews.id/dok)

Sebelum memasuki bulan Ruwah, kerjabhakti yang tiap harinya melibatkan 300-an orang dari berbagai komponen di luar LDA dan semua elemen dari internal LDA itu, bisa berlangsung tiap hari hingga berjalan dua minggu. Namun ketika memasuki bulan Ruwah dan sudah dekat dengan bulan Pasa/Ramadhan, Gusti Moeng mengaku harus mengatur waktu utuk kegiatan nyadran dan berbagi tugas kepada figur-figur penting lain yaitu Gusti Timoer.

”Yang ke Imogiri, Pengging dan Laweyan, bisa saya lakukan bersama rombongan sentanadalem, karena jaraknya masih dekat. Jadi, masih bisa membagi waktu dengan kerjabhakti. Tetapi, untuk yang ke makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum, Slawi/Tegal, biar Gusti Timoer yang memimpin rombongan ke sana,” tunjuk Gusti Moeng.

Sementara, Gusti Timoer yang dihubungi iMNews.id di tempat terpisah tadi siang menyatakan, dirinya selalu siap untuk diberi tugas-tugas yang sudah semestinya dia emban. Namun, saat nyadran ke makam Sinuhun Amangkurat Agung kemarin, dirinya hanya bersama beberapa adik dari Paguyuban Wayahdalem Sawo Kecik atau cucu Sinuhun PB XII.

Untuk nyadran tahun ini, lanjut Gusti Timoer yang dibenarkan Gusti Moeng, adalah tahun kedua ritual nyadran yang dilakukan selama pandemi Corona sejak awal 2020. Sangat dimungkinkan, tahun ini juga menjadi tahun kedua pelaksanaan ritual larab selambu Sinuhun Amangkurat, tanpa dukungan dana dari APBD Pemkab Slawi/Tegal seperti event-event besar yang selalu digelar sebelum 2020.

PETILASAN BONDAN KEJAWAN : Di petilasan Bondan Kejawan yang masih terkait erat dengan tokoh Ki Ageng Sela, Gusti Moeng dan rombongan menziarahi tempat itu. Doa juga dipanjatkan di tempat itu yang dipimpin Kyai Rani, Pengasuh Ponpes Darul Kailani Desa Katong, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kemarin. (foto : iMNews.id/dok)

”La yang ke makam leluhur Mataram di Kabupaten Grobogan ini, juga berlapis-lapis persoalannya. Tahun-tahun lalu bisa dilakukan Gusti Cahyo dan rombongan. Kalau ada haul-khol, juga dengan acara besar dan saya selalu bersama masyarakat adat di sana. Sekarang, terpaksa semua saya juga yang datang nyadran. Tapi itu sementara, karena akan segera ditata lagi, agar tahun depan, semua acara bisa berbagi,” sebut Gusti Moeng.

Di Kabupaten Grobogan, kemarin ada 3 titik lokasi yang diziarahi, di antaranya di makam Ki Ageng Sela di Desa Tarub, petilasan Bondan Kejawan di Desa Plosorejo Kecamatan Tawangharjo dan makam Ki Ageng Katong di Desa Katong, Kecamatan Toroh. Jumlah titik itu hanya sebagian untuk Kabupaten Grobogan.

Menurut Ketua LDA yang bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertiyah itu, tiap tahun secara rutin dirinya selalu hadir di 17 titik lokasi makam leluhur Mataram yang tersebar di daerah sepanjang pantai utara (pantura), dari Grobogan, Demak, Jepara, Pati dan Kudus hingga Kabupaten Slawi/Tegal. Tiap titik, acaranya dua kali setahun, haul/khol tokoh leluhur dan nyadran di bulan Ruwah. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This