Semalam, Dimulai dengan Prosesi Kirab Mengantar Uba-Rampe Ritual
BOYOLALI, iMNews.id – Semalam (Sabtu, 4/7) mulai pukul 20.00 WIB, Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) Kraton Mataram Surakarta memimpin ritual “Larap Langse” dan ganti “Songsong” makam Adipati Sri Makurung Handayaningrat. Upacara adat rutin tiap tahun yang dilakukan sejak tiga dekade terakhir di makam menantu Raja Brawijaya V itu, semalam dikreasi dengan prosesi kirab budaya.
Kirab yang didukung beberapa elemen masyarakat adat dan warga Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono (Boyolali), bergerak dari ujung desa menuju kompleks makam sejauh sekitar 2 KM mulai pukul 19.30 WIB. Barisan prosesi kirab yang mengarak uba-rampe ritual (langse dan songsong), dipandu para prajurit Korsik Drumband setempat. Begitu tiba di kompleks makam, upacara serah-terima segera dimulai.
Begitu semua uba-rampe ritual diserahkan terimakan di depan makam, dilanjutkan dengan sambutan “bertutut-turut” dari berbagai pihak. Termasuk dari Kepala Kesbangpol Pemda Boyolali, karena Bupati dan Wakil Bupati berhalangan hadir. Masyarakat adat yang dan elemen warga desa yang hadir semalam cukup banyak, terutama warga Pakasa Cabang Boyolali yang dipimpin Wabup selaku Ketua Ketuanya.
Gusti Moeng yang sejak awal berada di dalam kompleks makam bersama rombongan dari kraton yang dibawanya, mendapatkan giliran sambutan terakhir. Hal keteladanan Sri Makurung Handayaningrat yang “disebut” sekilas Kepala Kesbangpol saat membaca teks pidato Bupati Boyolali, mendapat perhatian Gusti Moeng. menurut Gusti Moeng, tak hanya “keteladanan”, tokoh itu telah menjadikan Pengging sebagai kerajaan.

Mantan anggora DPR RI dua periode terpisah itu menyampaikan rasa terima-kasihnya kepada seluruh masyarakat desa dan pamongngya, juga warga Kabupaten Boyolali dan para pimpinannya yang telah ikut merawat makam tokoh leluhur Dinasti Mataram itu. Dia menitipkan kompleks makam kepada masyarakat adat, terutama warga Pakasa, karena melestarikan Budaya Jawa berarti menjaga warisan para leluhur Pengging.
“Sri Makurung Handayaningrat adalah trah darah-dalem dari Daha (Kediri) juga Jenggala. Beliau adalah menantu Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Beliau punya leluhur yang menurunkan Gajah Mada, dan para tokoh penting dan terkenal lainnya. Tetapi, sejumlah nama tokoh penting yang ‘hilang’ begitu saja. Saya punya kajian sejarah. Termasuk fakta bahwa Bathara Katong (Bupati Ponorogo) pernah ngenger”.
“Ngenger atau ikut keluarga Sri Makurung Handayaningrat/Ratu Pembayun, sebelum jadi Bupati Ponorogo. Prabu Sri Makurung lebih dulu jadi Raja Pengging, saat Kraton Majapahit masih eksis. Walaupun, jejak yang bisa dikenali sedikit sekali. Saat Kraton Demak muncul, Pengging jadi kabupaten, Sri Makurung jadi bupatinya. Pengging sudah dikenal sebagai kraton dan kabupaten, jauh sebelum Boyolali .
Sejarawan yang juga Ketua Lokantara Pusat (Jogja), Dr Purwadi yang semalam juga hadir di ritual “Larap Langse” dan ganti “Songsong” itu, sempat diskusi dengan iMNews.id di lokasi upacara. Menurutnya, Prabu Sri Makurung Handayaningrat (abad 15-16), kelak punya cucu bernama Mas Karebet atau Jaka Tingkir, yang menjadi Raja Kraton Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya Abdul Hamid Panetep Panatagama (abad 16).

Semua uba-rampe ritual yang diserahkan kepada Gusti Moeng, lalu bersama-sama dipasang. Tak ada proses pelepasan “langse” lama maupun “songsong” atau payungnya. Begitu doa, tahlil, dzikir dan syahadat Qures dimulai, pusara yang terbuka tanpa bangunan “cungkup” itu sudah tak tertutup “langse” dan tak berhias payung. Gusti Moeng dan rombongan abdi-dalem kraton yang bersama-sama mengganti.
Dimulai dari memasang “langse” Adipati Sri Makurung Handayaningrat, lalu pusara istrinya, Kanjeng Ratu Pembayun dan dua pusara yang berada di bawahnya. Selesai memasang “langse”, diteruskan dengan mengembangkan payung susun tiga yang kemudian dipasang di atas pusara empat tokoh di kompleks makam itu. “Songsong” bersusun warna kuning keemasan, menjadi cirikhas makam tanpa “cungkup” itu.
Warga Pakasa setempat menyebutkan, “songsong” bersusun warna kuning itu sebelumnya menjadi peneduh khas untuk melengkapi peneduh alami berupa pohon “Kepoh” berukuran besar dan tinggi sekali. Tetapi, pohon langka yang menjadi cirikhas tempat bersemayam para tokoh leluhur Dinasti Mataram itu, roboh tertiup lisus dan menimpa bagunan di sekitar makam kuno pada nasa pandemi Corona lalu.
Semalam, di antara yang mengikuti ritual “Larap Langse” dan ganti “Songsong”, juga ada warga Hindu yang mengaku sering datang berziarah ke kompleks makam itu. Dia menyebutkan, selain di saat Kraton Mataram Surakarta menggelar upacara adat sedikitnya dua kali dalam setahun, Nyadran Ruwahan dan Sura, dirinya bersama beberapa temannya juga sering datang untuk melakukan peribadatan di situ.

Setelah gelar upacara adat di makam Sri Makurung Handayaningrat itu, kraton masih memiliki agenda kegiatan ritual di bulan Sura Tahun Be 1960 ini. Yaitu mengirim beberapa bregada prajurit untuk mengikuti kirab budaya menandai haul Kyai Moh Alwy di Kedung Cowek, Kabupaten Grobogan. Kirab berlangsung Minggu (5/7) mulai pukul 10.00 WIB pagi tadi, bersama berbagai elemen masyarakat setempat.
Bersamaan dengan ritual “Larap Langse” dan ganti “Songsong” makam di Pengging, semalam, di kota Kabupaten Ngawi juga berlangsung kirab budaya menandai jamasan pusaka. Kirab yang diprakarsasi Pemkab melibatkan banyak elemen masyarakat, terutama Pakasa cabang yang diketuai Wabup setempat. didukung sejumlah bregada prajurit Kraton Mataram Surakarta, terutama bregada Korsik Drumband Tamtama.

Agenda “Suran” berikut, adalah ritual khol Eyang Djayengrana di Desa Pulung Merdika, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Kirab yang diprakarsai Pamong Desa Pulung Merdika yang dipimpin KRT Suroso Hadinagoro itu, juga bekerjasama dengan pengurus Pakasa Cabang Gebang Tinatar dan pengurus Paguyuban Reog Katon Sumirat. Makam tokoh leluhur Dinasti Mataram itu, dalam setahun 2 kali dikunjungi kraton.
Ritual haul atau “khol” di makam Eyang Djayengrana, Pulung Merdika itu, harinya sama dengan ganti langse makam Sinuhun Panembahan Senapati di Astana Pajimatan Kudha Gedhe (Jogja), Sabtu (11/7). Khol Eyang Djayengrana tengah hari, sedangkan ganti langse yang akan dipimpin Gusti Moeng, mulai pukul 19.00 WIB. Minggu (12/7), jamasan makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum. (won-i1)






