Sinuhun PB XIV Aktifkan Tradisi Wayangan “Malem Weton Anggara Kasih”

  • Post author:
  • Post published:October 20, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Sinuhun PB XIV Aktifkan Tradisi Wayangan “Malem Weton Anggara Kasih”
EMBAN SAKEMBARAN : Gaya "Ki PB XIV" saat menghadirkan "Emban Sakembaran" di "pasewakan Kraton Amarta" pada "jejer" (adegan) pertama pentas wayang "Malem Anggara Kasih Ageng", semalam dalam lakon "Dewa Ruci" yang di-"pucuki"-nya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sekitar 300 Warga Berbagai Elemen Masyarakat Adat Menjadi “Saksi Sejarah”

SURAKARTA, iMNews.id – Senin Wage “malem” Selasa Kliwon (19/10), Kraton Mataram Surakarta kembali menorehkan sejarah perjalanannya di zaman super modern ini. Pemimpin baru Dinasti Mataram Surakarta, SISKS Paku Buwana XIV (Hangabehi) menandai aktivasi tradisi wayangan tiap “weton Anggara Kasih”, yang pernah diinisiasi leluhurnya, Sinuhun PB IV (1788-1820), di Bangsal Parasedya, semalam.

Disaksikan sekitar 300-an warga dari berbagai elemen masyarakat adat, Sinuhun PB XIV Hangabehi menandai “kebangkitan” tradisi “wayangan weton” itu dengan “mucuki” adegan awal pergelaran “ringgit wacucal sedalu-natas”. Bahkan, ia memulai dari “ndhodhog” kotak tanda iringan “talu” dimulai, dilanjutkan “bedhol kayon” (gunungan) dan “jejeran” adegan pertama (Pathet Enem), Kraton Amarta.

RITUAL KHAS : Karena pentas wayang sejatinya adalah seni pertunjukan upacara, maka menjadi kewajiban dalang untuk menyempatkan sikap berdoa yang sering dilakukan saat “Bedhol Kayon”, seperti dilakukan Sinuhun PB XIV, semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di antara para kerabat berbagai elemen yang “sowan” menyaksikan, adalah para “Pengageng” Bebadan Kabinet 2004 dan jajarannya, para sentana-dalem, sedherek-dalem juga sentana dan abdid-alem garap. Pemandangan di Pendapa Sasana Sewaka semalam, termasuk tidak biasa bahkan langka. Karena, pisowanan yang terjadi untuk menyaksikan pentas wayang kulit yang digelar di Bangsal Parasedya.

“Kelir” (layar) dan gamelan serta para peraganya (dalang, sinden, pengrawit) menghadap ke barat atau arah “Ndalem Ageng” tempat penyimpanan koleksi pusaka kraton. Ruang tengah antara Pendapa Sasana Sewaka dan “pringgitan ndalem ageng”  semalam menjadi panggung pertunjukan wayang kulit gagrag Surakarta khas Kraton Mataram Surakarta. Mereka semua yang hadir, menjadi saksi sejarah, semalam.

MENYALAKAN BLENCONG :”Blencong” dalam pentas wayang kulit di lingkungan kraton, punya multi makna. Makna penerangan pertunjukan sudah diganti lampu listrik, tetapi Sinuhun tetap menyalakan “blencong” terpisah sebagai pelengkap ritual. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Peristiwa sejarah yang menjadi pemandangan langka di dalam kraton setidaknya dalam tiga dekade terakhir, menjadi tonggak sejarah bagi generasi kedua dan ketiga selepas Sinuhun PB XII wafat (1945-2004). Bahkan menjadi tonggak sejarah bagi publik secara umum, karena informasi peristiwa langka di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi itu kini mudah diakses oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Menyaksikan pentas wayang kulit di dalam wilayah sakral inti kedhaton, semalam, menjadi sangat istimewa dan fenomenal bagi kalangan masyarakat adat yang sowan semalam. Karena, pentas berlangsung di Bangsal Parasedya, diawali oleh Sinuhun PB XIV Hangabehi, wayang yang dikeluarkan Kiai Jimat, iringannya dua pangkon gamelan Kiai Jimat (Slendro)-Kiai Dewa Katong (Pelog) dan lakonnya “Dewa Ruci”.

SUSUH ANGIN : Raden Bratasena hadir di “pasewakan” Kraton Amarta dan meminta izin Prabu Puntadewa untuk terjun ke samudera “Minangkalbu” mencari “susuh angin”. Ki KPH Dr Lintang, meneruskan adegan dalam lakon “Dewa Ruci”, semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Penyajian pergelaran wayang kulit semalam, dalam protokol adat baku lengkap, tanpa hadirnya sound-system dan petugas pembawa acaranya (MC). Begitu pula, tanpa susunan acara yang dibacakan dan tanpa acara selain penyajian wayang kulit. Maka, setelah wilujengan tidak ada kata sambutan dari siapapun. Begitu semua yang sowan sudah lengkap pada pukul 20.00 WIB, pentas segera dimulai.

Sinuhun PB XIV Hangabehi yang hadir menjelang pukul 20.00 WIB, disiapkan kursi khusus di ujung Bangsal Parasedya menghadap ke “kelir” (layar). Beberapa menit kemudian Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka hadir, dilanjutkan penyalaan lampu “Blencong”. Begitu Sinuhun menempatkan diri di samping kotak wayang, “cempala” diketukkan atau ndhodhog, gamelan ditabuh dan “gunungan” dicabut atau dibedhol.

MENIKMATI WAYANG : Beberapa abdi-dalem ini punya cara tersendiri untuk menikmati pentas wayang, dari lantai “topengan” Malige Pendapa Sasana Sewaka yang agak jauh, semalam. Karena sebagian besar di teras Paningrat Lor dan Kidul. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menghadirkan para tokohnya untuk “jejeran” (adegan) pertama “Pathet Enem”, Sinuhun tampak tenang dan cermat memegang (cekelan) dan menggerakkannya. Semua tokoh Pandawa plus Prabu Kresna sudah hadir, tetapi tanpa Bratasena, dilukiskan Sinuhun dalam narasi “janturan” dengan baik. Begitu pula saat adegan kedatangan Prabu Kresna diterima Prabu Puntadewa (Raja Amarta), dalam simbol gerak (sabet).

Selesai “jejeran” pertama, pentas dilanjutkan dalang kedua, Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka. “Bubar pasewakan” hingga “budhalan” Bratasena yang ingin mencari “susuh ing angin” (sarang angin) atas saran “Maha Guru Resi Durna”, dilakukan. Mengawali “Pathet Sanga” hadirlah “jejeran” Limbuk-Cangik”. Ki KPH Dr Lintang banyak “mengritik”, termasuk para wayah-dalem yang “kurang tanggap”. (won-i1)