“Dibatasi” Abdi-dalem Terdekat Saja, yang Jauhpun Tetap Berusaha Sowan
SURAKARTA, iMNews.id – Upacara adat “wilujengan nagari” Sesaji Mahesa Lawung “perdana” di era kepemimpinan baru Sinuhun PB XIV Hangabehi, digelar Bebadan Kabinet 2004, Senin Pahing, 12 Oktober 2026 pagi hingga siang tadi. Ritual dimulai di Pendapa Sitinggil Lor dan diakhiri di hutan lindung Krendhawahana, dipimpin Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat.
Ritual peringatan 100 hari berdirinya Ibu Kota “nagari” monarki atau Kraton Mataram Islam Surakarta di Surakarta Hadiningrat pada Rabu Wage, 17 Sura Tahun Be 1670, itu pagi tadi mendapat dukungan berbagai elemen masyarakat adat. Walau sudah dibatasi hanya melibatkan elemen Pakasa dari cabang di wilayah Surakarta, tetapi di antara 300-an yang hadir, tampak warga Pakasa dari cabang yang jauh.

Kehadiran kalangan warga Pakasa cabang dari tempat asal berjarak di atas 100 KM perjalanan yang ditempuh, memang belum tampak ketika ritual “wilujengan nagari” Sesaji Rajawedha diawali di Pendapa Sitinggil Lor mulai pukul 09.00 WIB. Karena pada ritual yang menggunakan doa campuran antara Islam, Jawa dan Budha itu, kalangan masyarakat adat yang “sowan” baru tampak Bebadan, sentana dan “garap”.
Ada sekitar 200 orang yang berangsur-angsur keluar dari Pendapa Sitinggil Lor dalam barisan prosesi, menuju dua bus besar yang disediakan Bebadan Kabinet 2004. Selebihnya, banyak yang menggunakan motor dan mobil pribadi, termasuk rombongan abdi-dalem yang membawa uba-rampe ritual, termasuk kepala kerbau. Para prajurit yang memandu barisa prosesi, juga masuk ke salah satu bus besar.

Ritual “wilujengan nagari” Sesaji Mahesa Lawung atau “Sesaji Rajawedha” di Pendapa Sitinggil selesai pukul 09.30 WIB, dan sekitar 10 menit kemudian konvoi armada pengangkut peserta upacara adat bergerak menuju hutan lindung di Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Perjalanan barisan prosesi menuju tempat upacara kedua (terakhir), menempuh waktu sekitar sejam.
Tiba di jalan depan gang masuk ke hutan lindung sekitar pukul 10.30 WIB, barisan prosesi ditata dan sejumlah prajurit Bregada Tamtama termasuk Korsik Drumbandnya, melangkah memandu semua peserta upacara, termasuk yang membawa uba-rampe ritual. Beberapa menit kemudian sampai, uba-rampe ditata dan ritual dimulai di “punden berundak alas Krendhawahana” yang menjadi pusat upacara adat.

Ketika ritual “Wilujengan nagari” Sesaji Rajawedha atau Gramawedha itu dimulai oleh doa yang dipimpin abdi-dalem juru-suranata KRT Irawan Wijaya Pujodipuro, barulah tampak 100-an warga Pakasa cabang yang jauh dari luar Kota Surakarta. Tampak di antaranya KP MN Gendut Wreksodiningrat (Ketua Pakasa Ponorogo), KRT Suyono AW (Ketua Pakasa Ngawi) dan KRRA “Panembahan Kudus” (Ketua Pakasa Kudus).
Dari beberapa cabang lain yang jauh, juga tampak para utusan yang memimpin rombongan Pakasa, seperti dari Pakasa Cabang Jepara, Boyolali, Pati dan Klaten. Mereka, sudah berdatangan di lokasi upacara “kedua” atau terakhir di “alas Krendhawahana” sekitar pukul 09.00 WIB. Bahkan saat penguburan kepala kerbau, tampak KRRA “Panembahan Kudus” menyaksikan dari dekat sampai proses tabur bunga.

Proses ritual “wilujengan nagari” Sesaji Mahesa Lawung yang dilestarikan dari Kraton Demak (abad 15) saat Sultan Syah Alam Akbar bertahta, sudah melewati lima abad perjalanan, dan kini masih utuh dirawat penerus Dinasti Mataram di Kraton Mataram Surakarta. Awalnya ritual digelar untuk menjauhkan segala jenis bencana kemanusiaan, penyakit serta untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Kini, upacara adat yang diabadikan dalam seni pertunjukan wayang kulit karya Pujangga Surakarta dalam lakon “Sesaji Rajasuya” itu, juga menjadi penanda bagi Sinuhun PB XIV Hangabehi. Awal era kepemimpinan baru Dinasti Mataram Surakarta ini, adalah “perdana” bagi PB XIV, setelah 281 tahun Sinuhun PB II mengadaptasi ritual memohon keselamatan “nagari” Mataram Surakarta, pada 20 Februari 1745. (won-i1)
