Diisi Orasi Gusti Moeng “Membahas Insiden” di Kraton Kulon
SURAKARTA, iMNews.id – Sinuhun PB XIII yang wafat pada tanggal 2 November 2025, Kamis siang (22/10) tadi diperingati dalam sebuah upacara adat spiritual religi di Pendapa Sitinggil Lor. Dihadiri sekitar 200 orang yang terdiri dari keluarga, sentana-dalem, sentana dan abdi-dalem garap serta dari berbagai elemen masyarakat adat terdekat, ritual khol digelar dengan sederhana.
Donga wilujengan, tahlil dan dzikir dikumandangkan dari Pendapa Sitinggil Lor, karena “gedhong” Sasana Handrawina sebagai tempat yang biasa digunakan untuk keperluan seperti ini, sedang digunakan untuk keperluan menampung “pengungsi”. Doa, tahlil dan dzikir yang dipimpin abdi-dalem juru-suranata KRT Irawan Wijaya Pujodipuro berlangsung sekitar 30-an menit saat Sinuhun PB XIV Hangabehi hadir.

Dimulai pukul 15.30 WIB, keseluruhan rangkaian ritual khol pertama Sinuhun PB XIII berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Itupun, karena Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat) memanfaatkan waktu cukup longgar untuk berorasi. Walau sedikit terlambat, Sinuhun masih bisa “bershalawat Sultan-Agungan” bersama dan mendukung doa yang dipanjatkan KRT Irawan Wijaya Pujodipuro.
Diantara yang hadir selain Gusti Moeng, tampak KPH Edy Wirabhumi, beberapa “sedherek-dalem” seperti GKR Putri Purnaningrum, BRAj Arum Kusumopradopo, KPH Bimo Djoyo Adilogo, KPH Suryo Manikmoyo dan istri KGPH Madu Kusumonagoro. Sejumlah sentan-dalem Pengageng di beberapa Bebadan juga hadir, termasuk Wakil Ketua Pengageng Sasana Wilapa (KP Siswantodiningrat) yang bertugas sebagai MC.

Dalam sambutan tunggal yang diteruskan dengan orasinya, Gusti Moeng menyebut upacara adat khol peringatan wafat Sinuhun PB XIII dan mungkin juga yang lain terpaksa diadakan di Pendapa Sitinggil Lor, karena Sasana Handrawina sedang menjadi tempat menampung “para pengungsi”. Yang mennadi pengungsi bukan orang atau korban bencana, tetapi barang-barang berharga benda budaya bersejarah.
“Karena Sasana Handrawina menjadi tempat pengungsian banyak sekali benda-benda pengisi museum, maka sudah penuh dan tidak memungkinkan untuk keperluan upacara adat. Mudah-mudahan, tahun depan sudah bisa kembali ke sana. Karena, pekerjaan proyek revitalisasi yang sudah mulai dikerjakan, dalam tiga bulan diperkirakan sudah selesai. Tetapi, kemarin ada masalah. Sudah pada mendengar atau belum?”.

“Kemarin pagi itu, di Kraton Kulon ada gegeran, karena proyek revitalisasi di sana diganggu para demit. Rupanya, para demit itu sudah tidak bisa ‘disanak’ (berunding lunak). Pintu akses masuk ke sana atau lokasi proyek revitalisasi yang tadinya ditutup untuk keperluan proyek, dilepas beberapa bagian. Malah ada yang tidur untuk menutup jalan akses masuk ke sana,” ujar Gusti Moeng.
Selebihnya diungkapkan, ada yang bertanya kepadanya mengapa Gusti Moeng diam saja, tidak seperti biasanya berorasi. Mereka disebut akan memakai Kraton Kulon untuk tingalan-jumenengan pertama. “Saya memang sengaja diam. Saya biarkan saja, mau ngomong apa saja. Sampai saya dibilang tumben tidak berorasi. Karena kemarin tidak sempat, lha sekarang saya berorasi di sini,” seloroh Gusti Moeng. (won-i1)
