Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 10-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:October 15, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 10-bersambung)
EKSEKUSI PROGRAM : Pakasa Ponorogo rumah kebangkitan seni-budaya paling menonjol, karena capaian eksekusi program kerja organisasi cabang di lapangan. Termasuk, di tingkat anak-cabang seperti ritual haul di Desa Pulung Merdiko. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada yang Bisa Lari Cepat dan Melompat Jauh, Ada yang “tak Berfungsi”

IMNEWS.ID – TAMPILNYA pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang menjadi momentum kebangkitan cabang-cabang seni dan semua organ kelembagaan di dalam hingga di luar, kini sedang berjalan di awal eranya. Bahkan, banyak yang sudah dimulai saat Sang Pemimpin Baru masih berstatus Pangeran Adipati Anom. Beberapa elemen masyarakat adat, menjadi tangan panjang kebangkitan seni-budaya itu.

Namun, elemen terbesar karena cepat tumbuh dan berkembang menjadi ujung tombak kebangkitan yang sangat dominan itu, tidak semuanya “siap” menjalankan tugas “ganda” dari pusat organisasi Pakasa Punjer maupun pusat kelembagaan (Lembaga Dewan Adat/Bebadan Kabinet 2004). Karena, Pakasa cabang yang menjadi “rumah kebangkitan” seni-budaya di daerah, kondisi dan latar-belakangnya beragam.

TRANSFER SKIL : Pakasa Cabang Jepara, sangat menonjol sisi edukasi untuk eksekusi program pelestarian seni Budaya Jawa di lapangan. Transfer skill bersama warga SMK Bhakti Praja, menjadi tradisi membangun potensi daya dukung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jadi kesimpulannya, “rumah” kebangkitan berupa organisasi Pakasa cabang di berbagai daerah itu “bangunan dan konstruksi” lama yang “dicat baru”, penghuninya wajah-wajah baru, tata-tertib dan aturan main baru tetapi kewajiban dan tugas-tugasnya adalah “barang lama” yang dulu “dikerjakan” berbagai elemen lain. Sebagai penghuni “rumah” yang diperbarui, warga Pakasa punya tugas ganda.

Yaitu sebagai pengurus dan pengelola organisasi Pakasa di tingkat cabang, sekaligus bertugas mengembangkan organisasi dan melestarikan Budaya Jawa demi eksistensi dan kelangsungan Kraton Mataram Surakarta. Tugas gandanya, terletak di saat-saat kraton menggelar “pisowanan” upacara adat, karena warga Pakasa menjadi daya dukung legitimasi, membantu kerja adat sekaligus “ngalab berkah”.

POTENSI LAIN : Korsik Banser NU “Tali Jagad” di Mranggen, Demak, merupakan mitra yang baik untuk membangun potensi daya dukung legitimasi organisasi Pakasa Cabang Jepara, karena tingginya aktivitas eksekusi program pelestarian. (foto : iMNews.id/Dok)

Kesimpulan paling akhir yang bisa diambil, bahwa peran dan fungsi “kawula” atau abdi-dalem di cabang-cabang Pakasa itu sedang “dimuliakan” atau ditempatkan di posisi yang mulia. Ini merupakan konsekuensi logis perubahan dan pergeseran strata adat, yang terjadi dalam 2-3 dekade terakhir. Tetapi, bersamaan dengan naiknya derajat, harkat dan martabat para “kawula”, ada tugas lain yang diemban.

Tugas tambahan yang harus diemban sekaligus, adalah menggantikan fungsi dan peran para kerabat sentana dari lingkungan keluarga inti utama dan sentana darah-dalem. Pakasa memikul konsekuensi itu, karena jumlah putra/putri-dalem, sederak-dalem, sentana darah-dalem yang bergabung di Lembaga Dewan Adat (LDA), semakin berkurang jumlahnya seiring perjalanan waktu dan “tak ada regenerasi”.

TRANSFER KNOWLEGDE : Pakasa Cabang Kudus menjadi “rumah” kebangkitan seni budaya Jawa di daerahnya yang paling cepat langkah dan melompat jauh. Karena, transfer knowlegde dan tata-nilai yang menjadi dasar-dasar yang diutamakan. (foto : iMNews.id/Dok)

Dalam posisi seperti itu, di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini menjadi momentum sangat tepat dan baik untuk meredefinisi, mempercepat proses tata-ulang dan proses penyesuaian serta mencukupi kebutuhan yang dibenahi. Termasuk, percepatan pemahaman berorganisasi di semua cabang Pakasa, mengingat pengurus dan warganya punya latar-belakang (sosial,ekonomi, pendidikan) bervariasi.

Gambaran tentang profil para pengurus dan warga organisasi Pakasa cabang itu, adalah potret sebagian wajah Pakasa baru atau “reborn”, yang perlu dijelaskan dan ditegaskan lagi definisi organisasi dan tugas-tugasnya. Karena, fakta di lapangan selama 1-2 periode kepengurusan rata-rata yang dialami Pakasa dalam satu dekade terakhir, memberi pemandangan sangat beragam dari ukuran idealnya.

SUDAH KUAT : Figur pimpinan yang punya latar belakang “Kyai” (guru), sangat menguntungkan pengurus dan warga Pakasa Cabang Kudus. Mereka sudah kuat dengan bekal tata-nilai dan berbagai pengetahuan, untuk eksekusi program di lapangan. (foto : iMNews.id/Dok)

Ada pengurus Pakasa cabang yang stagnan, tetapi hanya pribadi pimpinannya yang menonjol (show of force), karena “rajin” mengikuti beberapa upacara adat di kraton. Ada pengurus cabang yang tidak berfungsi, sendiri atau bersama-sama. Ada pimpinan/pengurus yang tak pernah mengajak bertemu merembuk/membahas program kerja, transfer “knowledge” atau memberi pencerahan/keteladan.

Ada pengurus Pakasa cabang yang tinggal “papan namanya”, sejak terbentuk tidak lengkap dan tak punya agenda tetap bertemu. Ada yang tak punya program kerja, tak punya capaian/target dan tak punya agenda rapat. Tetapi, ada pengurus cabang yang bisa berlari cepat dan melompat jauh. Bahkan berhasil mengeksekusi ide-ide dan edukasi keteladan, dari rapat rutin pengurus bersama warganya. (Won Poerwono-bersambung/i1)