Ada yang Bisa Lari Cepat dan Melompat Jauh, Ada yang “tak Berfungsi”
IMNEWS.ID – TAMPILNYA pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang menjadi momentum kebangkitan cabang-cabang seni dan semua organ kelembagaan di dalam hingga di luar, kini sedang berjalan di awal eranya. Bahkan, banyak yang sudah dimulai saat Sang Pemimpin Baru masih berstatus Pangeran Adipati Anom. Beberapa elemen masyarakat adat, menjadi tangan panjang kebangkitan seni-budaya itu.
Namun, elemen terbesar karena cepat tumbuh dan berkembang menjadi ujung tombak kebangkitan yang sangat dominan itu, tidak semuanya “siap” menjalankan tugas “ganda” dari pusat organisasi Pakasa Punjer maupun pusat kelembagaan (Lembaga Dewan Adat/Bebadan Kabinet 2004). Karena, Pakasa cabang yang menjadi “rumah kebangkitan” seni-budaya di daerah, kondisi dan latar-belakangnya beragam.

Jadi kesimpulannya, “rumah” kebangkitan berupa organisasi Pakasa cabang di berbagai daerah itu “bangunan dan konstruksi” lama yang “dicat baru”, penghuninya wajah-wajah baru, tata-tertib dan aturan main baru tetapi kewajiban dan tugas-tugasnya adalah “barang lama” yang dulu “dikerjakan” berbagai elemen lain. Sebagai penghuni “rumah” yang diperbarui, warga Pakasa punya tugas ganda.
Yaitu sebagai pengurus dan pengelola organisasi Pakasa di tingkat cabang, sekaligus bertugas mengembangkan organisasi dan melestarikan Budaya Jawa demi eksistensi dan kelangsungan Kraton Mataram Surakarta. Tugas gandanya, terletak di saat-saat kraton menggelar “pisowanan” upacara adat, karena warga Pakasa menjadi daya dukung legitimasi, membantu kerja adat sekaligus “ngalab berkah”.

Kesimpulan paling akhir yang bisa diambil, bahwa peran dan fungsi “kawula” atau abdi-dalem di cabang-cabang Pakasa itu sedang “dimuliakan” atau ditempatkan di posisi yang mulia. Ini merupakan konsekuensi logis perubahan dan pergeseran strata adat, yang terjadi dalam 2-3 dekade terakhir. Tetapi, bersamaan dengan naiknya derajat, harkat dan martabat para “kawula”, ada tugas lain yang diemban.
Tugas tambahan yang harus diemban sekaligus, adalah menggantikan fungsi dan peran para kerabat sentana dari lingkungan keluarga inti utama dan sentana darah-dalem. Pakasa memikul konsekuensi itu, karena jumlah putra/putri-dalem, sederak-dalem, sentana darah-dalem yang bergabung di Lembaga Dewan Adat (LDA), semakin berkurang jumlahnya seiring perjalanan waktu dan “tak ada regenerasi”.

Dalam posisi seperti itu, di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini menjadi momentum sangat tepat dan baik untuk meredefinisi, mempercepat proses tata-ulang dan proses penyesuaian serta mencukupi kebutuhan yang dibenahi. Termasuk, percepatan pemahaman berorganisasi di semua cabang Pakasa, mengingat pengurus dan warganya punya latar-belakang (sosial,ekonomi, pendidikan) bervariasi.
Gambaran tentang profil para pengurus dan warga organisasi Pakasa cabang itu, adalah potret sebagian wajah Pakasa baru atau “reborn”, yang perlu dijelaskan dan ditegaskan lagi definisi organisasi dan tugas-tugasnya. Karena, fakta di lapangan selama 1-2 periode kepengurusan rata-rata yang dialami Pakasa dalam satu dekade terakhir, memberi pemandangan sangat beragam dari ukuran idealnya.

Ada pengurus Pakasa cabang yang stagnan, tetapi hanya pribadi pimpinannya yang menonjol (show of force), karena “rajin” mengikuti beberapa upacara adat di kraton. Ada pengurus cabang yang tidak berfungsi, sendiri atau bersama-sama. Ada pimpinan/pengurus yang tak pernah mengajak bertemu merembuk/membahas program kerja, transfer “knowledge” atau memberi pencerahan/keteladan.
Ada pengurus Pakasa cabang yang tinggal “papan namanya”, sejak terbentuk tidak lengkap dan tak punya agenda tetap bertemu. Ada yang tak punya program kerja, tak punya capaian/target dan tak punya agenda rapat. Tetapi, ada pengurus cabang yang bisa berlari cepat dan melompat jauh. Bahkan berhasil mengeksekusi ide-ide dan edukasi keteladan, dari rapat rutin pengurus bersama warganya. (Won Poerwono-bersambung/i1)
