Wayangan Tiap “Malem Anggara Kasih Gedhe” dan Bale Agung Diaktifkan
IMNEWS.ID – SETELAH dua kali latihan sinkronisasi antara sajian struktur lakon dan iringan, Sabtu-Minggu (3-4/9) berhasil dicapai Ki KRT Dr Bambang Suwarno (instruktur), Ki KRT Dr Joko Daryanto (instruktur) dan Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka (dalang), agenda gladen berikutnya disepakati beberapa hari ke depan. Karena itu, latihan “mucuki” semalam terpaksa berlangsung “garingan”.
Ki KRAT Rawang Gumilar Lebdodipuro, abdi-dalem Reh Lembisana Keparak Mandra Budaya, Rabu (7/9) siang tadi membenarkan saat dimintai konfirmasi iMNews.id. Menurutnya, Sinuhun PB XIV Hangabehi semalam hadir di Bangsal Smarakata di saat para abdi-dalem seniman karawitan dan para instrukturnya, sedang libur dari latihan rutin sebelumnya, dan mengagendakan berlatih beberapa hari ke depan.

Sinuhun PB XIV Hangabehi yang beberapa hari sebelumnya sibuk mengikuti rapat bersama utusan lembaga terkait dengan revitalisasi, tak bisa hadir berlatih mendalang pada sesi latihan Sabtu-Minggu (3-4/9). Saat sudah longgar dan bisa hadir semalam, giliran para seniman karawitan dan para instrukturnya masuk agenda libur. Termasuk, KPH Dr Raditya Lintang Sasangka sebagai “dalang utama”.
KRAT Rawang siang tadi menyebutkan, semalam Sinuhun PB XIV Hangabehi berlatih “mucuki bedhol kayon” tanpa iringan karawitan lengkap alias “garingan”. Hanya terlihat abdi-dalem MNg Sukarno, “penggender” tuna-netra yang sudah suwita di kraton sejak lebih 20 tahun lalu. Ditambah KRAT Rawang yang menabuh kendang dan Ki RT Willy yang menabuh “kenong”, sebagai “ancar-ancar sabet dan dhodhogan”.

Menurut Ki KRAT Rawang, semua yang terlibat “proyek pentas” Anggara Kasih Ageng, bersepakat untuk hadir berlatih. Terutama penuntasan urutan penyajian lakon “Dewa Ruci” oleh Ki KPH Raditya Lintang Sasangka, selaku dalang utama. Ditambah Sinuhun PB XIV Hangabehi yang berlatih “mucuki bedhol kayon”, sebagai suntikan semangat, karena pentas itu dijadikan momentum kebangkitan bersama.
Melihat perencanaan jenis kegiatan, titik penting esensi dan tujuan yang hendak dicapai, pentas wayang kulit klasik konvensional gagrag Surakarta khas Kraton Mataram Surakarta sesuai yang diagendakan, akan menjadi momentum kebangkitan cabang seni pedalangan dan cabang-cabang seni lain. Awal kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi, dijadikan era bangkitnya kembali kekuatan seni budaya Jawa.

Kalau perencanaan agenda pentas wayang kulit Anggara Kasih Ageng sudah bergerak menggelinding, ini hanyalah bagian lain dari rangkaian kebangkitan seluruh cabang seni budaya kraton yang nota-bene seni Budaya Jawa. Karena, beberapa cabang seni lain sudah digerakkan satu-persatu oleh Bebadan Kabinet 2004, yang dimotori GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA).
Seni tari terutama Bedhaya Ketawang tiap Anggara Kasih juga Sabtu dan Minggu untuk repertoar tari lain, banyak mendapatkan kesempatan “gladen”. Pelaksanaan Hari Tari Dunia (HTD) 2025 di saat Sinuhun PB XIV Hangabehi melakukan perjalanan spiritual sebelum “njangkepi jumenengan-nata”, juga menjadi momentum bangkitnya seni tari khas keraton. Seni tari dan karawitan, lebih dulu berlari.

Beberapa kali HTD bisa digelar sendiri di kraton, juga sajian pentas tari Sekaten Art Festival tiap datang ritual Sekaten Garebeg Mulud dalam beberapa tahun terakhir, menjadi kesempatan bangkitnya cabang seni tari dan karawitan khas kraton. Tetapi, terpuruknya Pawiyatan Dalang Kraton Mataram Surakarta di “markas” Bale Agung dan “keterbatasan” lain, membuat seni pakeliran khas vakum.
“Keterbatasan” yang banyak dialami di cabang seni pedalangan/pakeliran, karena terlalu lama mengalami “kekosongan pemimpin”, bahkan di pusatnya Reh Lembisana. Tampilnya Ki KRT Dr Bambang Suwarno dan “tim” diharapkan bisa mengembalikan kekosongan fungsi seni pakeliran sebagai “tuntunan” selain “tontonan”, termasuk fungsinya sebagai dalang “mumpuni” penanggung-jawab cabang seni ini di kraton. (Won Poerwono-bersambung/i1)
