Seminar Semakin Jadi Bagian Menarik dari Event Wisuda Lulusan Sanggar Tata-Busana dan Paes (seri 3 – habis)

  • Post author:
  • Post published:January 19, 2024
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Seminar Semakin Jadi Bagian Menarik dari Event Wisuda Lulusan Sanggar Tata-Busana dan Paes (seri 3 – habis)
BISA MEWAH : Tatacara "Kacar-kucur" dalam upacara perkawinan adat Jawa gaya Surakarta diperagakan pada momentum wisuda lulusan sanggar tata-busana dan paes kraton di Hotel KSPH, belum lama ini. Tatacara itu kini sudah menjadi sangat mewah dan glamor di tengah masyarakat yang terus berkembang dan berubah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Makna Filosofi dan Tata-Nilai Bisa Hilang, Karena Upacara Adat Perkawinan Menjadi Bisnis

IMNEWS.ID – SEMINAR yang berisi dialog, penjelasan dan sosialisasi mengenai format baku upacara perkawinan adat Jawa gaya Surakarta, selain sebagai upaya mengembalikan urut-urutannya secara tepat sesuai asli dari sumbernya, sekaligus sebagai bentuk proteksi yang diharapkan lahir dari kesadaran masyarakat sendiri di tengah upaya pelestariannya.

Walaupun, dalam pidato sambutan dan sebagai pembicara dalam seminar bersama RMRP Restu Setiawan, Gusti Moeng (Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Kraton Mataram Surakarta) bisa memaklumi adanya perkembangan sesuai kearifan lokal di daerah masing-masing, sehingga bisa dikatakan mengikuti proses keniscayaan “Nut jaman kelakone”.

Meski begitu, RMRP Restu Setiawan bisa memaklumi kalau ada yang harus mengikuti perubahan zaman itu, sepanjang perubahan itu  tidak mengurangi atau justru menghilangkan makna filosofi bagian yang diganti atau dirubah. Atau malah membuat bagian itu menjadi tidak bermakna atau terpenggal, serta tidak ada hubungan dengan rangkaian makna secara keseluruhan.

MASIH SEDERHANA : Tatacara membawa sepasang cengkir dan kembar-mayang ini, terkesan masih sederhana ketika menjadi contoh peragaan upacara perkawinan adat Jawa gaya Surakarta pada upacara wisuda lulusan sanggar paes kraton di Hotel KSPH, belum lama ini. Di dalam kraton, tatacara itu malah tidak pernah ada. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kini, realitas dalam kehidupan nyata memang sudah menjadi berkembang dan berubah jauh menempatkan upacara perkawinan adat Jawa secara umum, seperti yang bisa dilihat secara langsung di lingkungan warga, di gedung-gedung pertemuan, di hotel-hotel berbintang. Atau melalui video rekaman peristiwa perkawinan adat Jawa yang banyak beredar melalui medsos.

Artinya, di satu sisi masih banyak peristiwa pernikahan digelar dengan upacara adat Jawa secara umum, ada yang diberi label gaya Surakarta bahkan label gaya kraton. Di sisi lain, kraton melahirkan lembaga kursus upacara adat perkawinan gaya Surakarta. Sedangkan di sisi lain lagi, ada sebuah aktivitas yang bisa mengorganisasi resepsi pernikahan secara profesional.

Di sisi luar, juga ada kegiatan industri yang memproduksi komponen dan bahan yang dibutuhkan resepsi pernikahan secara khusus, untuk menunjang dan mendukung jasa usaha pengorganisasi resepsi pernikahan (WO), baik secara teknis maupun pengetahuan manajemen bisnis modern. Intinya, resepsi pernikahan sudah mulai menjadi bagian dari industri kebudayaan.

SENTUHAN INDUSTRI : Demo merias yang dilakukan Dicki Riyandi sebelum peragaan tatacara panggih dalam upacara adat Jawa gaya Surakarta yang digelar sanggar pawiyatan paes kraton, belum lama ini, adalah sentuhan promo produk bernuansa pertunjukan/hiburan yang menjadi ciri industri kebudayaan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Resepsi pernikahan yang sering ditangani sebuah usaha jasa pengorganisasi di bidang itu (Wedding Organization-WO), tentu masih terdapat upacara dan tatacara perkawinan adat bahkan sampai berciri gayanya yang dikuasai, dikelola, dipromosikan dan dipasarkan. Sampai pada tahap ini, upacara adat perkawinan yang menjadi industri kebudayaan akan mengikuti selera pasar.

Kalau trend pasar model resepsi pernikahan yang ditawarkan “WO” tertentu penuh glamor, fantastik, prestisius, punya sentuhan “entertain” tinggi dan spesifik-unik karena bisa mengundang tokoh-tokoh penting di berbagai bidang serta bisa viral, tentu akan disukai keluarga peminat dari orang-orang berduit.

Ketika resepsi pernikahan sudah menjadi bagian dari industri kebudayaan, maka kelihatannya tata-nilai di dalamnya berupa makna filosofi dari masing-masing simbol yang muncul dari semua benda dan tatacara adat itu sudah tidak diperlukan. Terlebih, kalau sebuah resepsi pernikahan itu digelar dengan tujuan sensasi yang muncul akibat dominasi unsur hiburan/tontonannya.

MASIH SISWA : Dicki Riyandi seorang ahli make-up artis asal Kabupaten Semarang, ketika masih menjadi sisswa dan sedang mengikuti ujian nasional yang digelar Sanggar Pawiyatan Tata-Busana & Paes Pengantin adat Jawa gaya Surakarta di Bangsal Smarakata, sekitar tiga tahun lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Pada prinsipnya, upacara adat perkawinan itu ada dua, yaitu di dalam dan di luar tembok kraton. Di dalam kraton namanya ‘pikraman putra/putri-dalem’. Anak laki-laki atau perempuan yang dinikahkan, semua diwiwaha di dalam kraton. Sangat berbeda di luar kraton. Upacara pernikahan anak perempuan dilakukan keluarganya. Keluarga pengantin lelaki gelar ngundhuh mantu”.

“Upacara adat pernikahan di dalam kraton, tidak ada MC atau juru pranatacara, dan tentu tidak ada unit sound system. Semua berjalan dan hanya diatur oleh bunyinya gending karawitan yang diperdengarkan secara manual. Upacara siraman juga dilakukan dalam ruang tertutup, sangat terbatas”.

“Tatacara sinduran yang sering digunakan, sebenarnya bukan bagian dari gaya Surakarta. Tatacara siraman penuh aneka macam bunga, pengantinnya dirias dan dijadikan tontonan yang penuh sensasi. Tetapi maklum, karena upacara adat perkawinan sekarang sudah jadi bisnis pertunjukan. Ada usaha jasa yang menjalankan, yaitu WO. Jadi, ya mangga saja,” tandas KP Budayaningrat.

TAK PEDULI : Praktik ketrampilan paes di hampir semua lembaga kursus rias dan tata-busana pengantin yang memakai label adat Jawa dan gaya Surakarta sekalipun, agaknya sudah tidak peduli dengan makna filosofi dan tata-nilainya ketika mendandani calon pengantin, upacara dan resepsi pernikahannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dwija (guru) Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta yang dimintai pandangannya secara terpisah siang tadi, secara keseluruhan bisa memaklumi perubahan format dan bagian upacara adat perkawinan gaya Surakarta di tengah masyarakat. Apalagi, kegiatan itu sudah menjadi bisnis pertunjukan oleh WO yang menjadi bagian dari jaringan industri kebudayaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, tentu bisa dipandang adanya sebuah keniscayaan mengenai perkembangan upacara perkawinan adat sebagai produk kemasan yang diorganisasi jasa bisnis semacam WO. Oleh sebab itu, setiap perubahan terjadi pada zaman yang berbeda, pasti akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari perubahan itu sendiri.

Karena mengikuti perubahan atau “Nut jaman kelakone”, sangat dipastikan akan ada wujud benda atau bagian dari tatacara serta tata-nilai serta makna filosofinya yang berubah, hilang, terpenggal atau bahkan tidak punya makna apa-apa selain sekadar menuruti kebutuhan fungsi untuk melihat citra-visualnya. Sanggar pawiyatan, hanya akan menjadi pembanding. (Won Poerwono – habis/i1).

Leave a Reply