Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 4 -bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 18, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 4 -bersambung)
JAGONGAN SANTAI : KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro menjamu tamunya asal Sleman (DIY), Samsul Bahri, dengan "jagongan" santai di gasebo kediaman Ketua Pakasa Cabang Kudus itu, di Desa Gondangmanis (Kudus), kemarin. (foto : iMNews.id/Dok)

Makam Ayah Kanjeng Ratu Kentjana di Belakang Kantor DPUPR Sangat Meyakinkan

IMNEWS.ID – HASIL diskusi antara KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) selaku trah ke-14 darah-dalem Sunan Kudus dengan Samsul Bahri dari trah Adipati Tirtakusuma, semakin menambah keyakinan mereka. Bahwa lokasi makam di belakang kompleks kantor Dinas PUPR Kudus itu, mereka yakini benar-benar makam Adipati Tirtakusuma kakek PB II.

Keyakinan mengenai kebenaran makam walau sudah hilang tanda-tanda utama dan penting (wujud makna konotasi), selain karena pengalaman pribadi ruan rumah (KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro), juga setelah berdiskusi dengan tamunya, Samsul Bahri, di kediaman Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, Kamis (17/9) siang. Melalui jamuan di kediaman itu, keduanya berbagi informasi.

Tak hanya berdoa di lokasi makam yang sudah tidak ada “kijing” atau nisan khas “Majapahitan” itu, Samsul Bahri yang datang dari daerahnya, Desa Selomartani, Kalasan, Sleman (DIY), juga berziarah di makam Kyai Glongsor. Di kompleks makam dalam satu kawasan dengan makam Adipati Tirtakusuma itu, trah Mangun Premudyo  dari Adipati Tirtakusuma itu didampingi MNg Afif, juru-kunci makam.

“Sebelum diantar bertemu mbah Jokik (juru-kunci sepuh makam Kyai Glongsor), pak Samsul Bahri diantar MNg Afif ziarah ke makam Adipati Tirtakusuma, di belakang pekarangan Kantor Dinas PUPR Kudus itu. Dari diskusi itu kami semakin yakin bahwa itu makam Adipati Tirtakusuma. Tetapi, ‘kan perlu penegasan berkekuatan hukum, berdasar keilmuan dari pihak berwenang, untuk mewujudkan rencana berikut”.

KETEMU MBAH JOKIK : Samsul Bahri, trah Adipati Tirtakusuma asal Sleman (DIY), sempat bertemu juru-kunci senior makam Kyai Glongsor, mbah Jokik, sebelum bertemu KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro, kemarin. (foto : iMNews.id/Dok)

“Ya, kemarin kami berbicara dan ada rencana menghadap Bupati Kudus. Ada yang perlu kami sampaikan, termasuk temuan dan kegiatan yang pernah dilakukan Pakasa Cabang Kudus. Tetapi, di internal Pakasa cabang kami juga ingin berembug untuk menentukan langkah lebih lanjut. Termasuk, membahas usulan mengadakan kegiatan ziarah dan haul Adipati Tirtakusuma,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi, siang tadi.

Ketua Pakasa Cabang Kudus itu saat dihubungi iMNews.id, Jumat (18/9) siang tadi menyatakan, pertemuan antara dirinya dengan Samsul Bahri di kediamannya, kemarin, memberi beberapa manfaat terutama informasi soal kisah tokoh Adipati Tirtakusuma, selain bertambahnya kenalan. Apalagi, Samsul Bahri juga mengaku masih trah keturunan Sri Sultan HB III grade 7 selain trah Adipati Tirtakusuma.

Mengenai rencana menghadap Bupati Kudus, KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro belum bisa menjadwalkan kapan akan dilakukan. Menurutnya, ada banyak hal yang harus dilakukan sebagai pendahuluan menuju langkah itu. Antara lain, membahas masalah itu dengan para pengurus Pakasa cabang, juga pembicaraan lanjutan dengan Samsul Bahri. Tetapi, langkah verifikasi makam juga penting.

Pembahasan semua perkembangan dari temuan makam Adipati Tirtakusuma di belakang kantor Dinas PUPR Kudus itu, dinilai penting tetapi kegiatan Pakasa cabang dalam rangka pelestarian Budaya Jawa yang berkait dengan itu juga bisa terus dilakukan. Misalnya, mulai menggelar kegiatan Nyadran tiap datang bulan Ruwah dan ritual haul Adipati Tirtakusuma setelah dilacak dan didapat waktu wafatnya.

MAKAM KYAI GLONGSOR : Samsul Bahri, trah Adipati Tirtakusuma asal Sleman (DIY), sempat berziarah di makam Kyai Glongsor yang terpisah pagar tembok dengan makam Adipati Tirtakusuma di arah belakangnya, kemarin. (foto : iMNews.id/Dok)

Walau titik lokasi makam Adipati Tirtakusuma Bupati Kudus sudah diyakini benar di belakang kantor Dinas PUPR Kudus itu, tetapi menurut KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro perlu kajian ilmiah sisi kesejarahan, silsilah, arkeologis, epigrafis dan sebagainya. Hasil penelitian ilmiah itu jadi syarat pendukung fisik temuan makam yang diyakini pusara Adipati Tirtakusuma itu.

“Saya kira kok begitu prosesnya. Saya yang menemukan dan meyakini itu makam Adipati Tirtakusuma, tetapi saya ‘kan bukan pihak yang berwenang memastikan dan mendeklarasikan kepastian makam eyang mertua Sinuhun Amangkurat Jawi itu. Saya yakin perlu penelitian ilmiah dan ada pihak yang berwenang memastikan dan mengumumkan. Kalau kami hanya berdasar keyakinan saja,” ujar KRRA Panembahan.

Dengan tidak bermaksud mendahului hasil penelitian pihak berwenang, Ketua Pakasa Kudus yang juga pemilik/pimpinan empat Majelis Taklim itu menyatakan keyakinannya bahwa makam itu benar pusara Adipati Tirtakusuma, karena berdasar pengalamannya. Yaitu saat di tahun 1970-an diajak sang kakek dan ditunjukkan, bahwa makam yang diziarahi itu adalah pusara eyang Adipati Tirtakusuma.

Di makam yang diziarahi itu, ada belasan pusara selain Adipati Tirtakusuma yang jaraknya berdekatan. Saat itu, pagar kantor Dinas PUPR (DPU-Red) yang terkesan “memenggal” lahan makam, sudah ada berupa pagar tembok setinggi satu meter dan disambung anyaman kawat setinggi 1 meter. Ada lagi pagar tembok pembatas dengan pusara Kyai Glongsor dan beberapa lain, mengesankan sebagai makam terpisah.

TERPISAH DINDING : Perkembangan zaman dan peradaban, ternyata telah memisahkan lahan makam keluarga besar Adipati Tirtakusuma. Sehingga, makam Kyai Glongsor yang menjadi tempat jamasan terompet, terpisah oleh dinding cungkup. (foto : iMNews.id/Dok)

“Padahal, kami yakin kawasan makam di Desa Rendeng, Kampung Rendeng Wetan itu dulunya luas. Setelah ada kantor Dinas PUPR dan lahan pekarangan milik TNgt Sulastri pindah kepemilikan (dijual-Red), peta kawasan makam berubah. Tahun 1976 saya masih melihat nisan besar khas pusara Adipati Tirtakusuma dan lainnya. Tetapi mulai tahun 1980-an, nisan-nisan itu sudah tidak tampak”.

“Saya meyakini, makam itu pusara eyang Adipati Tirtakusuma yang menurunkan Kanjeng Ratu Kentjana, prameswari Sinuhun Amangkurat Jawi itu. Salah satu tandanya, makamnya dekat dengan orang-orang kepercayaannya. Misalnya, makam Mbah (Kyai) Glongsor, tokoh pengawal sakti dan dikenal dalam kisah ontran-ontran Kramaleya. Petunjuk ini meyakinkan sekali,” sebut KRRA Panembahan Kudus.

Sebagai ilustrasi, Kyai Glongsor disebut KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi yang bisa dikenal sebagai “Panembahan Kudus”, adalah pemilik terompet “pusaka” tokoh pengawal Sinuhun Amangkurat Jawi (1719-1727) di Kraton Mataram Islam yang berIbu-Kota di Kartasura. Dari kajian sejarawan Ketua Lokantara Pusat di Jogja, Ki Dr Purwadi, sebutan “Glongsor” berasal dari kata “Golongan Anshor” (penolong).

Terompet pusaka yang pernah “ketelisut” beberapa tahun itu, kini tersimpan di sebuah kantor sekaligus tempat menyimpan pusaka itu di makam yang terpenggal dari makam Adipati Tirtakusuma di Kampung Rendeng Wetan, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Terompet itu dalam beberapa tahun lalu, rutin diarak dalam kirab budaya oleh warga Pakasa Kudus saat ada haul dan bulan Sura.

ADA PETUNJUK : Walau lokasi makam Adipati Tirtakusuma dan keluarga besarnya nyaris tanpa properti khas makam, tetapi petunjuknya masih ada dan kuat. Karena, di balik tembok pembatas makam yang rata itu, ada makam Kyai Glongsor. (foto : iMNews.id/Dok)

KRRA Panembahan “Kudus” juga menyebutkan, kawasan makam yang diyakini tempat bersemayam Adipati Tirtakusuma dan keluarga besarnya itu, sudah terpenggal-penggal seiring waktu. Diduga, perubahan peta dan tata ruang lahan makam itu karena ada perkembangan tata-ruang kota kabupaten. Karena ada laporan warga menyebut, sebagian lahan makam tertindih pagar dan berubah “menjadi warung.

Melihat pola pemberian nama dan gelar kepangkatan pejabat zaman Kraton Mataram Islam juga tidak jauh dari pola dinasti, maka sebutan Adipati Tirtakusuma-pun juga ada banyak, seperti Adipati Tjitrasoma I-VII yang semuanya Bupati Jepara. Tetapi, Adipati Tirtakusuma mertua Kanjeng Ratu Kentjana ibunda Sinuhun PB II, diyakini hanya satu yang bersemayam di makam belakang kantor Dinas PUPR itu. (Won Poerwono-bersambung/i1)