Makam Mertua Sinuhun PB IV di Madura, Bisa Menjadi “Pembanding”
IMNEWS.ID – MAKIN banyak terungkapnya informasi tentang lokasi kompleks makam Adipati Tirtakusuma ing Kudus, atau Bupati Kudus pada zaman Sinuhun Amangkurat Jawi bertahta (1719-1727), semakin terbuka jalan bagi siapa saja yang ingin memuliakan dan berbhakti kepada para leluhur. Yaitu leluhur generasi yang lahir dari pertemuan keluarga besar keturunan Sunan Kudus dan Dinasti Mataram.
Sikap hormat “mikul dhuwur, mendhem jero” untuk memuliakan dan berbhakti kepada para tokoh leluhur penting itu, menjadi satu sisi idealistik banyak pihak, terutama warga Pakasa Cabang Kudus. Meskipun, ada sisi lain yang sudah terjadi dan berkesan kurang ideal bahkan bertentangan bagi tata-nilai sikap berbhakti dan memuliakan itu. Untuk sisi ini, kini terbuka kesempatan untuk “bertobat”.

“Bertobat” dan “menebus” dosa dengan membuka ruang dialog dan mendukung upaya-upaya siapa saja, yang ingin memuliakan dan berbhakti kepada para tokoh leluhur yang makamnya ada di wilayah Kabupaten Kudus. Karena faktanya, hingga kini Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng, telah banyak menginisiasi upaya itu, kegiatan yang memadukan antara budaya dan religi.
Kegiatan memuliakan dan berbhakti “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero” yang semakin lancar dan sering diadakan dalam 1-2 dekade terakhir, karena Kraton Mataram Surakarta memiliki mata-rantai hubungan kekerabatan dengan masyarakat adat elemen Pakasa cabang yang tersebar di berbagai daerah luas. Dan Pakasa Cabang Kudus, adalah salah satu tangan panjang kraton dalam pelestarian Budaya Jawa.

Tetapi memang, fakta di lapangan bisa memperlihatkan wujud yang berbeda dari semua harapan dari kata memuliakan dan berbhakti “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero” itu. Artinya, rata-rata jejak para leluhur yang telah berjasa membentuk arah peradaban kehidupan itu, tak semuanya bisa dilihat utuh, baik dan mengesankan setelah waktu berjalan ratusan tahun, misalnya di zaman republik sejak 1945.
Apa yang didapati bersama antara unsur Pakasa Cabang Kudus yang juga trah keturunan ke-14 Sunan Kudus sekaligus trah keturunan ke-4 Sinuhun Paku Buwana X dan trah Eyang Mangun Senjoyo dari Adipati Tirtakusuma itu, sudah “berkata lain”. Karena hanya dalam 50-an tahun, makam kakek Sinuhun PB II atau mertua Adipati Tirtakusuma (Bupati Kudus) itu, sudah tidak tampak seperti makam.

“Di tahun 1976 ketika saya sering diajak kakek berziarah ke makam Adipati Tirtakusuma ingi Kudus, saya masih melihat ada nisannya yang besar itu. Sama besarnya dengan nisan makam Bupati Kudus pendahulunya, yang ada di kompleks makam Sunan Kudus sekarang ini. Bentuk dan ornamen serta tonggak (maijan-Red)-nya khas sekali. Tetapi, semua nisan itu sejak tahun 1980-an sudah tidak”.
“Waktu itu saya tidak memahami apa yang terjadi dan bagaimana makna nisan dan makam para tokoh leluhur itu. Baru setelah aktif berkegiatan di Pakasa cabang hingga kini, semakin memahami apa yang bisa didapatkan dari jejak para tokoh leluhur kami. Dan ternyata, ada hubungan keluarga antara trah keturunan Sunan Kudus dan trah Dinasti Mataram yang makamnya di situ,” ujar KRRA Panembahan.

KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro yang dihubungi iMNews.id, Kamis (17/9) siang menyebutkan hal itu. Perkembangan dan kondisi terkini lokasi yang diyakini makam Adipati Tirtakusuma di belakang kompleks Kantor Dinas PUPR Kudus, selalu diungkapkan kepada penulis. Termasuk, ketika menerima kunjungan silaturahmi Samsul Bahri, trah Mangun Senjoyo yang datang dari Sleman (DIY) itu.
Salah seorang trah Mangun Senjoyo yang berasal dari Adipati Tirtakusuma mertua Sinuhun Amangkurat Jawi (IV) itu, sempat berbicara singkat dengan iMNews.id karena diperkenalkan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro selaku Ketua Pakasa Cabang Kudus. Tuan rumah itu juga membenarkan, datangnya tamu dari trah Adipati Tirtakusuma itu bisa membuka jalan berbagai rencana kegiatan positif ke depan.
Dari percakapan antara tuan rumah dan tamunya diperoleh informasi, Samsul Bahri hari datang ke Kudus memang khususnya untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tentang makam leluhur Adipati Tirtakusuma yang sejak lama dicarinya. Salah satu informasi yang menjadi petunjuknya, adalah media iMNews.id yang beberapa kali memberitakan kerja-bhakti warga Pakasa di makam yang ditemukan setahun lalu.
“Iya betul. Saya sudah tiga hari atau tiga kali datang ke Kudus untuk melacak makam leluhur kami, yaitu Eyang Adipati Tirtakusuma. Karena, kakak saya memiliki data yang mengubungkan keturunan Eyang Mangun Senjoyo, adalah trah Eyang Adipati Tirtakusuma yang pernah menjabat Bupati Kudus. Dan setelah saya mencari di google, berita di iMNews.id menyebut ada tokoh nara sumbernya”.

“Karena tokoh nara-sumbernya Panembahan Didik, maka saya melacak kediaman dan akhirnya bertemu beliau di sini,” ujar Samsul Bahri melalui telepon KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro yang diberikan kepadanya untuk berbicara singkat dengan iMNews.id, siang tadi. Dalam kesempatan itu tuan rumah juga membenarkan, sebelum bertemu dirinya, Samsul Bahri sudah sempat berziarah.
Yaitu berziarah ke makam Adipati Tirtakusuma yang mendapati lokasinya sudah tertutup kembali semak-belukar, setelah setahun dibersihkan warga Pakasa Kudus yang dipimpin ketuanya, KRRA Panembahan Gilingwesi. Dari makam di belakang kantor Dinas PUPR Kudus itu, Samsul Bahri menuju rumah juru-kunci makam Kyai Glongsor, mbah Joki dan bertemu MNg Afif untuk berziarah ke makam Kyai Glongsor.

Fakta di lapangan tentang gambaran makam Adipati Tirtakusuma yang ditemukan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro dan Samsul Bahri itu, mungkin berbeda jauh dengan temuan Gusti Moeng tentang gambaran makam mertua Sinuhun PB IV di lokasi kompleks makam Adipati Rangga Sukawati. Karena, tanda-tanda temuan Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA sekitar tahun 2016 itu tidak seperti itu.
Kondisi fisik makam Adipati Tjakra Adiningrat III di Desa Kolpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan, Madura (Jatim) itu, ketika ditemukan masih utuh dalam cungkup yang berisi makam sekeluarganya. Makam Adipati Tjakra Adiningrat dan istri, ada di pinggir paling barat yang tak lain adalah pasangan mertua Sinuhun PB IV (1788-1820) yang waktu ditemukan nisan dan namanya masih utuh.

Sejak ditemukan, makam mertua Sinuhun PB IV dan juga tokoh Adipati Panembahan Rangga Sukawati sebagai “cika-bakal” yang menurunkannya, selalu mendapat kunjungan ziarah rombongan Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, rombongan yang sering dipimpin Gusti Moeng itu, menggunakan prosesi kirab ziarah yang didukung prajurit dengan protokol resmi kraton, setiap datang bulan Ruwah atau Sura.
Dengan diketemukannya makam mertua Sinuhun Amangkurat Jawi atau kakek Sinuhun PB II di belakang kantor Dinas PUPR Kudus itu, sangat mungkin akan ada berbagai kegiatan untuk memuliakan dan berbhakti “Mikul dhuwur, Mendhem Jero” Adipati Tirtakusuma itu. Apalagi, jika mengingat jasa-jasa Sinuhun PB II selaku pendiri kraton Mataram Surakarta sekaligus Kota Surakarta, dan Kyai Glongsor pengawal setianya. (Won Poerwono-bersambung/i1)


