Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 2 -bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 16, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 2 -bersambung)
DI ATAS SALURAN : Lokasi yang ditunjuk KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro ditumbuhi pohon pisang dan senak-semak, adalah bekas makam yang diyakini makam Adipati Tirtakusuma dan keluarga kecilnya, saat ditemukan setahun lalu. (foto : iMNews.id/Dok)

Tak Semua Keturunan Bisa Jadi Satu Makam, Fenomena Lain Juga Berpengaruh

IMNEWS.ID – DATANGNYA seseorang yang mengaku dari keluarga besar keturunan Eyang Mangun Premudyo, trah ahli waris darah-dalem Adipati Tirtakusuma (Bupati) ing Kudus berziarah di “makam” leluhurnya itu (iMNews.id, 16/9/2026), menambah keyakinan berbagai pihak terhadap “kebenaran” makam. Ketua Pakasa Cabang Kudus semakin yakin bahwa makam dibelakang pekarangan kantor DPU Kudus itu, “benar”.

Yaitu, “benar-benar” meyakinkan dan sudah tak diragukan lagi sebagai makam Adipati Tirtakusuma, trah darah-dalem ke-6 keturunan Sunan Kudus. Meski belum bisa bertemu langsung, namun pembicaraan lewat telepon yang dilakukan KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro dengan peziarah asal Sleman (DIY) itu, menambah keyakinan bahwa makam yang ditemukan setahun lalu itu, “benar”.

Benar sebagai makam Adipati Tirtakusuma, ayah Kanjeng Ratu Kentjana yang melahirkan Raja Kraton Mataram Islam ke-9 yang bergelar Sinuhun Paku Buwana II (1727-1749) saat Ibu Kota “nagari” masih di Kartasura hingga tahun 1745. Putri Bupati Kudus itu, diperistri sebagai prameswari raja ke-8 Kraton Mataram Islam yang bergelar Sinuhun Amangkurat Jawi (IV) dan bertahta di tahun 1719-1727.

Dalam kajian sejarah Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja) disebutkan, keluarga Bupati Kudus Adipati Tirtakusuma kaya-raya karena sukses dalam “bisnis”. Kekayaan hasil usaha dagang kayu jati dan pengelolaan pelabuhan yang juga dikelola Kanjeng Ratu Kentjana ini, yang digunakan untuk memberi modal anaknya untuk memindahkan Ibu Kota dan membangun Ibu Kota baru di Surakarta.

SESUDAH DIBERSIHKAN : Lokasi yang diyakini sebagai makam Adipati Tirtakusuma dan keluarga kecilnya, tinggal tanah rata tanpa pusara, tetapi parit saluran buangan PG Rendeng di bawahnya masih kokoh saat ditemukan dan dibersihkan. (foto : iMNews.id/Dok)

Hubungan kekeluargaan sekaligus kepedulian dan serta jasa-jasa keturunan Sunan Kudus khususnya keluarga Kanjeng Ratu Kentjana itulah, yang seharusnya dipahami publik dalam membaca hubungan antara Sunan Kudus, Kraton Mataram Surakarta dan Dinasti Mataram. Adanya hubungan seperti itu pula yang harus dipahami sekaligus menjadi alasan kuat, mengapa makam Adipati Tirtakusuma terkesan “terpencar”.

“Sebetulnya, kalau dilihat dalam kurun waktu sekarang saja sudah bisa dijadikan pedoman memahami masalah itu. Keluarga kecil Adipati Tirtakusuma walau bekas pejabat Bupati Kudus, tidak harus terkumpul menjadi satu dengan Sunan Kudus pada satu makam. Saya dan keluarga dari orang tua, juga anak-anak saya, tinggal tersebar di berbagai daerah, sangat mungkin akan menetap di daerahnya”.

“Sampai suatu saat mereka meninggal di daerah tempat mencari kehidupannya, sangat mungkin akan dikubur bersama keluarga kecilnya di sana. Jadi, saya kira kejadiannya seperti itu ketika kita memahami alasan kenapa makam Adipati Tirtakusuma ada di luar makam keluarga kecil Sunan Kudus. Meskipun beliau itu keturunan ke-6 dan bekas pejabat Bupati,” jelas Ketua Pakasa Cabang Kudus itu.

Penjelasan dengan contoh pengandaian keluarga kecil KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro itu, sangat rasional menjadi alasan untuk memahami posisi makam Adipati Tirtakusuma yang berada di luar kompleks makam keluarga kecil Sunan Kudus. Seperti diketahui, kompleks makam Sunan Kudus itu, menjadi sati dengan kompleks Menara dan Masjid Agung Kudus dalam satu kawasan taman.

GANG BERSEBELAHAN : Beberapa warga Pakasa Cabang Kudus yang berbaris di lorong itu, adalah saat hendak memasuki cungkup makam Kyai Glongsor. Pagar di sebelah kanan adalah pembatas dengan kawasan makam Adipati Tirtakusuma saat ditemukan. (foto : iMNews.id/Dok)

Meski berada di luar kompleks taman makam, masjid dan menara di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tetapi kompleks makam keluarga kecil Adipati Tirtakusuma masih dalam satu wilayah di Kecamatan Kota, yaitu di Desa Rendeng, Kampung Rendeng Wetan. Yang kemudian menjadi pertanyaan, mengapa kompleks makam Sunan Kudus terlindungi dan terawat, sedangkan kompleks makam Tirtakusuma bernasib “buruk”.

Dari penjelasan KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro maupun laporan seorang keluarga besar Eyang Mangun Premudyo, trah ahli waris darah-dalem Adipati Tirtakusuma (Bupati) ing Kudus yang tinggal di Sleman (DIY) kepadanya setelah berziarah, bisa menggambarkan kondisi riil berkesan “buruk” nasibnya. Bahkan dari laporan warga, kompleks kantor Dinas PUPR berdiri di atas makam.

“Dari laporan warga dan sepanjang yang saya ketahui, kompleks kantor Dinas PUPR Kudus itu sebagian berdiri di atas makam. Tetapi prosesnya dulu bagaimana, saya kurang tahu. Saya malah mendapat informasi lama, bahwa di bawah yang diyakini makam Adipati Tirtakusuma itu, ada saluran air yang terhubung ke PG Rendeng. Bisa diduga, saluran di bawah makam terjadi bersamaan pembangunan pabrik gula”.

“Informasi ini mengandung penjelasan, bisa juga perubahan makam terjadi karena adanya bangunan saluran bersamaan dengan berdirinya PG Rendeng. Padahal, pabrik gula itu informasinya dibangun zaman Sinuhun PB IX dan X seperti yang ditulis dalam buku Dr Purwadi itu ya?. Saya waktu diajak kakek ke makam ini, seingat saya dulu ya sudah tidak ada pusaranya,” ujar Ketua Pamong Makam Kyai Glongsor itu.

IKUT MENGUNGKAP : KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro saat diwisuda Sinuhun PB XIV Hangabehi sewaktu masih bergelar Adipati Anom. Ketua Pakasa Kudus itu, makin bersemangat mengungkap arti penting Adipati Tirtakusuma bagi warga Kudus. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketika mencermati penjelasan terakhir tokoh dari trah darah-dalem grade ke-14 Sunan Kudus itu, memang semakin jelas adanya prioritas utama pengamanan dan perlindungan makam tokoh bersejarah sekelas Sunan Kudus, dengan UU Cagar Budaya No 11 tahun 2010. Meskipun perubahan akibat perkembangan tata-kota terus terjadi, dan banyak makam keturunan Sunan Kudus di luar kompleks cagar budaya itu.

Selebihnya, perubahan tata-kota akibat perkembangan dan pembangunan berdasar berbagai keperluan memang tidak selamanya bisa dijamin memperhatikan berbagai aspek khususnya keberadaan situs-situs peradaban masa lampau. Maka, mungkin saja saat kompleks kantor Dinas PUPR dibangun dulu belum ada informasi tentang makna peran ketokohan Adipati Tirtakusuma, yang makamnya ada di kawasan kantor.

Baru sekarang atau setidaknya dalam satu dekade ini, muncul pemberitaan tentang penggalan sejarah hubungan kekeluargaan antara keturunan Sunan Kudus dengan keluarga besar Dinasti Mataram. Hubungan keluarga yang terpenggal lama sekali itu, semakin sering diberitakan terutama yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. Karena, kraton banyak melacak lokasi leluhurnya untuk dimuliakan.

Salah satu yang terlacak, adalah hubungan kekeluargaan yang dibangun antara Kraton Mataram Islam saat Sinuhun Amangkurat Jawi bertahta dan memperistri Kanjeng Ratu Kentjana sebagai prameswari. Karena ternyata, permaisuri ayah PB II itu putri Adipati Tirtakusuma, Bupati Kudus yang juga trah keturunan grade 6 dari Sunan Kudus. Di sinilah hubungan silaturahmi Kudus dan Surakarta nyata ada.

LUAR BIASA : Dukungan dan kesetiaan Pakasa Cabang Kudus di bawah kepemimpinan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro tak perlu diragukan lagi, dan luar biasa. Sebelum “jumenengan-nata”, menjadi “masa berjuang” bagi Pakasa Kudus. (foto : iMNews.id/Dok)

Mencermati soal perubahan kompleks makam para tokoh sejarah leluhur di masa lampau, memang rata-rata terjadi di berbagai tempat dan tidak semua “dianggap penting”, karena tergantung subjektivitas penguasa dari waktu ke waktu. Tetapi, perubahan yang diduga terjadi akibat berdirinya PG Rendeng (abad 19) terhadap makam Adipati Tirtakusuma (abad 18), masih bisa disebut perubahan yang “aman”.

Perubahan yang berwawasan arkeological dan berlandas historical, diindikasikan dengan adanya saluran parit buangan dari PG Rendeng yang menerobos bawah makam Adipati Tirtakusuma, bukan menabrak/memenggal makam. Karena saat ditemukan, makam tidak runtuh dan saluran tetap kokoh di bawahnya, walau sudah disumbat dari salah satu arah jauh dari situ. Walau pusaranyapun sudah tidak ada. (Won Poerwono-bersambung/i1)