Sudah Ditemukan Ketua Pakasa Kudus Setahun Lalu, Tetapi Sulit Dirawat
IMNEWS.ID – PERKEMBANGAN kehidupan peradaban yang kian modern, rata-rata memberi dampak yang kurang baik terhadap berbagai bentuk peninggalan masa lalu, terutama yang berkait dengan sejarah dan budaya. Di kawasan daerah yang dikenal memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi seperti Surakarta dan sekitarnya, belum tentu masyarakatnya sadar, peduli dan mencintai serta memuliakannya.
Tak terkecuali yang ada di kawasan Kabupaten Kudus, nasib beberapa bentuk peninggalan budaya dan sejarah, tak sedikit yang “tercampakkan” bahkan nyaris hilang jejak. Taman Makam, Masjid Agung dan Menara Kudus memang menjadi “menara gading” yang melukiskan bentuk kepedulian, kesadaran dan kecintaan masyarakat sekitarnya terhadap jasa-jasa dan kemuliaan Sunan Kudus, bahkan Sunan Muria.
Namun, di sisi lain ada fakta yang tidak sepenuhnya mendukung sikap sadar, peduli, cinta dan memuliakan para tokoh leluhur yang terlah berjasa bagi wilayah Kabupaten Kudus itu. Hasil temuan KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro tentang titik lokasi makam Adipati Tirtakusuma ing Kudus, misalnya, saat ditemukan setahun lalu tinggal semak-belukar yang tumbuh liar menutupinya.
Titik lokasi yang diduga makam itu sudah tidak berujud makam, tetapi sebidang tanah kecil yang menjadi bagian kompleks kantor DPU Kabupaten Kudus. Salah satu sudutnya, sudah dibatasi dinding pagar tinggi yang masuk wilayah pekarangan tanah hak milik seorang warga setempat. Tetapi ada fakta di balik itu, karena makam Kyai Glongsor di dalamnya, diduga terhubung dengan makam Tirtakusuma.

Fakta adanya makam beberapa tokoh leluhur yang berkait dengan sejarah Dinasti Mataram di dua kraton, yaitu Mataram Islam Kartasura (1645-1745) dan diteruskan Mataram Islam Surakarta (1745-1945), jelas menunjukkan adanya hubungan sejarah dan kekeluargaan. Tetapi karena unsur “ketidaktahuan” dan unsur “kesengajaan” Red), kawasan makam itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Kawasan makam itu sejak tahun 1980-an disebut KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro sudah tidak tampak sebagai kawasan makam “kuno” yang berisi jasad para tokoh leluhur. Bahkan, para tokoh penting yang bisa menghubungkan dan menyambung silaturahmi dengan masyarakat adat yang tersebar di mana-mana. Mengingat sejak 1945 ada perubahan besar agraria dan tata-kelola tanah/lahan.

Ketidaktahuan (tidak paham-Red) yang bercampur “kesengajaan” oleh dorongan berbagai kepentingan di antaranya kebutuhan pemukiman dan “unsur lain”, telah membuat peta kawasan makam para tokoh sejarah leluhur di wilayah Kabupaten Kudus itu harus “merubah” banyak hal. Di antaranya, berbagai keperluan yang berkait dengan cara-cara masyarakat Jawa “memuliakan” para tokoh leluhurnya.
Adalah KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro yang merupakan trah darah-dalem Sunan Kudus generasi-14 dari Panembahan Makhaos, punya cara tersendiri sejak ditetapkan menjadi Ketua Pakasa Cabang Kudus, sejak tahun 2023. Sejak “suwita” di Kraton Mataram Surakarta dan dipercaya memimpin Pakasa Cabang Kudus itu, ia menginisiasi berbagai event berlatar adat, tradisi dan Budaya Jawa.

Salah satu upaya yang selama ini terus dicari itu, adalah letak titik-temu yang menyambungkan tali silaturahmi antara trah darah-dalem Sunan Kudus dengan trah darah-dalem Dinasti Mataram Islam, khususnya Mataram Surakarta. Maka, trah darah-dalem KRT Prana Kusumadjati atau Kyai Glongsor ini, banyak menggali sejarah di lingkungannya dan menggelar berbagai kegiatan pelestarian Budaya Jawa.
Ketua Pakasa Kudus yang mendapat hak memakai gelar “Alap-alap Gilingwesi” di tengah nama lengkapnya itu, terus mengumpulkan informasi tentang penemuan terakhirnya atas sebuah makam yang diyakini pusara Adipati Tirtakusuma yang dulu pernah menjabat Bupati di Kudus. Pusara itu terletak di belakang kompleks pekarangan kantor DPU Kudus yang berada di Desa Rendeng, Kecamatan Kota.

Lokasi yang diduga kuat makam Adipati Tirtakusuma ing Kudus itu, saat ditemukan setahun lalu tertutup semak-belukar. Setelah Pakasa cabang mengadakan kerja-bhakti membabat seluruh tumbuhan liar di situ, sudah tak ditemukan jejak bekas kuburan dan batu pusaranya. Hanya tanah rata yang ujungnya ada di atas saluran (parit), namun diyakini dulunya menjadi satu dengan makam di sebelahnya.
Makam di sebelahnya yang kini berada di belakang pekarangan warga atas nama Nyonya Gofur itu, adalah makam Kyai Glongsor (KRT Prana Kusumadjati) dan dua kerabat dekatnya. Makam itu diduga kuat bahkan diyakini KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Songonegoro, berkait bahkan pernah menjadi satu kawasan dengan makam Adipati Tirtakusuma, Bupati Kudus saat Sinuhun PB II bertahta.

Makam sebuah keluarga besar atau kerabat yang berdekatan dengan orang-orang kepercayaannya, biasa menjadi petunjuk kebenaran adanya makam tokoh besar dan penting dalam sejarah tempat-tempat pemakaman berkait dengan kraton-kraton di Jawa. Terlebih, sejarawan Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja), juga mendapatkan kajian soal rangkaian sejarah tokoh-tokoh penting Dinasti Mataram.
Keberadaan Adipati Tirtakusuma yang ternyata mertua Sinuhun Amangkurat Jawi, melahirkan salah satu rangkaian ikatan silaturahmi keluarga besar trah darah Sunan Kudus dengan keturunan Dinasti Mataram. Kanjeng Ratu Kentjana, putri Bupati Kudus itu yang diperistri Sinuhun Amangkurat (IV) Jawi ((1719-1727). Ia melahirkan anak dan menggantikannya sebagai raja Kraton Mataram ing Kartasura.

Raja Kraton Mataram Islam yang juga cucu Adipati Tirtakusuma ing Kudus itu, bergelar Sinuhun Paku Buwana (PB) II saat Ibu Kota “nagari” masih ada di Kartasura (kini wilayah Kabupaten Sukoharjo-Red). Kepastian dan kebenaran soal makam keluarga besar keturunan Sunan Kudus ini, bisa disebut sudah 90-an persen oleh KRRA Panembahan Gilingwesi maupun trah dari Eyang Mangun Premudyo, Sleman.
“Siang tadi, saya ditelepon seseorang yang mengaku trah keturunan Eyang Mangun Premudyo dari Sleman (DIY). Dia datang ke Kudus sendiri, mengaku trah dari tokoh yang disebut itu, yang asalnya dari Adipati Tirtakusuma, kakek Sinuhun PB II. Silsilah yang disebutkan, sama persis dengan catatan saya. Tapi saya tidak bisa mengantarnya sampai ke makam. Tetapi foto yang diambil, dikirim ke saya”.

“Ternyata, foto yang dikirim itu persis lokasi makam yang saya temukan setahun lalu, dan sempat kami bersihkan dalam kerja-bhakti, waktu itu. Ternyata, sekarang sudah kembali lebat semak-belukarnya. Tetapi kami warga Pakasa Kudus agak sungkan untuk membersihkan, karena berada jauh di belakang pekarangan pihak kantor DPU. Ini menjadi kendala, makam itu jadi tak terurus,” ujarnya.
Tokoh yang juga trah Sinuhun PB X grade 4 itu, mengaku tak sempat berdiskusi banyak dengan tamu yang berziarah ke makam Adipati Tirtakusuma itu. Tetapi dirinya bisa memulai berdialog dan membangun rencana “memuliakan” tokoh penting dari keluarga di balik sukses Sinuhun PB II itu. Dia membenarkan, peristiwa siang tadi bisa membuka kesempatan merancang berbagai rencana “mulia” ke depan. (Won Poerwono-bersambung/i1)


