Pasuwaitan di Masa Lalu, Pangkat Lurah Bisa Beli Busana “Kampuhan”

  • Post author:
  • Post published:September 14, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Pasuwaitan di Masa Lalu, Pangkat Lurah Bisa Beli Busana “Kampuhan”
JENIS KAMPUH : KP Budayaningrat dibantu beberapa dwija (Sanggar pambiwara dan sanggar paes), saat menjelaskan jenis "kampuh" untuk busana "dodotan" pada upacara adat kebesaran di kraton, seperti jumenengan-nata, belum lama ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pertemuan Rutin Warga Pasipamarta, Setelah “Sukseskan” Jumenengan-nata

SURAKARTA, iMNews.id – Pertemuan rutin warga Pasipamarta tiap Minggu Pon periode 13 September 2026, digelar di “ndalem” Kayonan, Baluwarti, Kecamatan Pasarkliwon. Sekitar 100 warga hadir dalam pertemuan yang diisi edukasi pengetahuan tentang penggunaan busana “dodotan” atau “kampuhan”. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk menaikkan doa syukur atas kerja adat jumenengan-nata.

Ungkapan doa syukur secara singkat disampaikan KP Siswanto Adiningrat selaku Ketua Paguyuban Purnawiyata Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton (Mataram) Surakarta (Pasipamarta), saat memberi sambutan. Ia juga menyampaikan terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan YME, karena warga Pasipamarta dilibatkan dalam kerja adat “njangkepi” tatacara jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi.

Sebelum memasuki sambutan pertama yang disampaikan Ketua Pasipamarta, disajikan doa bersama dalam bentuk “gendhing” yang biasa disebut “panembrama”. Gendhing berlirik doa itu adalah Pangkur cengkok Gedhong Kuning “Singgah-singgah Kala Singgah”. Cara unik masyarakat Jawa dalam berdoa yang “njawani” ini, sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tetapi dulu sering digunakan saat terapi anak-anak.

Sajian donga Pangkur Gedhong Kuning itu juga ditujukan bagi keselamatan Sinuhun PB XIV dan keluarga kecilnya, keluarga besar kraton dan segenap masyarakat adatnya. Dalam sambutan, KP Siswanto juga menyampaikan bahwa doa syukur melalui pertemuan itu karena Sanggar Pasinaon Pambiwara tempat warga Pasipamarta berasal, sudah 30 tahun lebih mengabdi di kraton untuk pelestarian Budaya Jawa.

KULUK TUMENGGUNG : KP Budayaningrat menjelaskan jenis-jenis “kuluk” (penutup kepala) pelengkap busana berbagai kepangkatan dalam upacara adat kebesaran di kraton. Yang berwarna silver, untuk pangkat Tumenggung (KRT dan RT). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kepada GKR Ayu Koes Indriyah (Ketua Sanggar Paes Tatabusana Pengantin Jawa gagrag Surakarta) selaku tuan rumah yang menunggui saat itu, KP Siswanto juga menyampaikan rasa terima kasih karena diizinkan menggunakan ndalem Kayonan untuk kegiatan Pasipamarta. Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah) yang mendapat giliran memberi sambutan penutup, sangat mengapresiasi pasuwitan Pasipamarta.

Adik bungsu Gusti Moeng yang juga anak termuda (ke-10) dari seluruh putra-putrai Sinuhun PB XII yang lahir dari garwa Kanjeng Ratu Ageng (KRAy Pradapaningrum) itu, mengisahkan panjang-lebar tentang peran dan kisah “ndalem” Kayonan. Menurutnya, “ndalem Kayonan” dulunya adalah kediaman salah seorang putri Sinuhun PB X yang kemudian dikenal dengan nama “ndalem” Cokrodiningratan.

Kisah yang paling “mengesankan” yang terpaksa menggunakan “ndalem Kayonan” sebagai ajang pusat kegiatan Bebadan Kabinet 2004 pengganti kraton, yaitu saat kraton dikuasai Sinuhun PB XIII dan kelompoknya yang diawali dengan insiden “Mirip Operasi Militer 2017”. Gusti Ayu memberi istilah, kraton “gonjang-ganjing” selama enam tahun lebih mulai 2017 bahkan hingga kini masih terasa.

Ia juga sedikit menyinggung soal kerja adat “njangkepi” tatacara jumenengan-nata yang telah bersama-sama dilakukan sukses, Sabtu (5/9). Dia menyebut untuk sementara, upacara adat “njangkepi” itu digelar sederhana dulu dan tak perlu mengundang tamu dari luar kerabat kraton. Karena, tak ada tempat untuk memberi penghormatan yang nyaman, mengingat kerabat dan abdi-dalem saja sudah 2 ribuan orang.

LEMBAGA KAPUJANGGAN : Kraton Mataram Surakarta dan masyrakat Jawa pada umumnya, beruntung masih punya tokoh selevel “Lembaga Kapujanggan” yaitu KP Budayaningrat, yang kini menjadi “dwija” di Sanggar Pasinaon Pambiwara. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Saat rapat-rapat persiapan kami sempat membahas soal ini. Keputusannya, upacara adat ‘njangkepi’ ini digelar sederhana saja, tak perlu ngaturi para tamu penting dari luar kerabat. Lain waktu masih bisa dilakukan. Lagi pula, mau didudukkan di mana? La wong kerabat dan abdi-dalem saja sudah 2 ribuan orang yang hadir. Itu belum semuanya lo, masih bisa lebih banyakm” ujar Gusti Ayu.

Selesai Gusti Ayu mengisahkan soal “ndalem Kayonan”, dilanjutkan doa wilujengan yang dipimpin abdi-dalem juru suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro. Doa itu juga untuk keselamatan Sinuhun PB XIV dan keluarga besar kraton. Beberapa hal lain yang diminta dalam doa, adalah kesehatan, “kawicaksanan” dan amanah agar selalu menyertai Sinuhun sebagai bekal memimpin masyarakat adat kraton.

Giliran terakhir atau penutup, adalah acara edukasi pengetahuan soal “ageman” busana kebesaran upacara adat “kampuhan” atau “dodotan”. Tetapi sebelumnya, diantarkan gambaran tentang dialog melalui WA grup atau dalam pertemuan sebelumnya, yang banyak membahas tentang Budaya Jawa dan tatacara upacara adat di kraton. Banyak pertanyaan, ditujukan kepada KP Budayaningrat (dwija sanggar).

Hampir pada setiap pertemuan rutin Minggu Pon, kalangan “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara dari kraton selalu dihadirkan, untuk memberi penjelasan soal berbagai hal dalam Budaya Jawa, terutama dalam forum tanya-jawab langsung. Temanya selalu berganti-ganti, atau masih satu tema tetapi dilanjutkan pada kesempatan berikutnya hingga tuntas, seperti kemarin membahas tema “ageman”.

GUSTI AYU : Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah) selaku tuan rumah “ndalem Kayonan”, saat memberi sambutan dan mengungkap kisah latar-belakang rumah yang lebih enam tahun sejak 2017 menjadi ajang pengganti semua kegiatan kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Aja dumeh duwe duit akeh, isa tuku perlengkapan busana sing larang-larang, apik-apik, ning ora ngerti gunane. Busana kampuhan utawa dodotan kaya ngene iki, pantese yang jumbuh lan mungguh karo pangkate lan keperluane. Mula, kudu ngerti kelungguhane (posisi kepangkatan) lan gunane (kegunaan/keperluan). Yen ora ngerti, lak mung kaya ketoprak sing neng njaba kraton kae”.

“Kampuhan utawa dodotan, neng kraton ana lima perangan (jenis). Salah sijine, dodot gerbong kandhem, kaya ngene iki. Dadi, penjengan kabeh kudu ngerti, ciri-cirine, ben jumbuh karo kelungguhane. Yen ngene iki sing pantes nganggo para Pangeran, putra-dalem terus sing mligi kanggo Sinuhun. Ning ndhisik, kabeh pangkat wiwit Pangeran sentana nganti Lurah, eneng ageman kampuhan dhewe-dhewe”.

“Ndhisik, pangkat Lurah wae wis isa tuku ageman dodotan komplet sapengadeg. Saiki, Pangeran sentana wae durung karuan kuat tuku. Setelan ageman busana kampuhan utawa dodotan lan jenis liyane, wis eneng ukurane dhewe-dhewe. Eneng telung ukuran (L-M-S). Aja nganti keliru. Merga, busana kampuhan yang sing nganggo dudu wong pideksa, malah kaya kurungan mlaku,” ujarnya menggoda.

Penjelasan KP Budayaningrat dalam Bahasa Jawa krama madya bercampur “ngoko” itu, mengesankan keakraban di antara mereka karena hampir semua yang hadir adalah bekas siswa-siswa bimbingannya selama 6 bulan belajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara. Banyak hal yang perlu dijelaskan berkiat ageman busana ini, yang menurutnya perlu waktu cukup, dan baru bisa tuntas dalam dua pertemuan.

DIIZINKAN SUWITA : Selaku Ketua Pasipamarta, KP Siswantodiningrat saat memberi sambutan di pertemuan rutin Minggu Pon periode 13 September 2026, kemarin. Ia berterima kasih karena Pasipamarta masih diizinkan suwita di kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, dari catatan pengurus Pasipamarta yang menjelaskan hal tanya-jawab dari pertemuan sebelumnya, menyebutkan ada beberapa kata dan istilah atau “kawruh basa” yang ditanyakan anggota. Yaitu, rangkaian kata “terima-kasih” dalam Bahasa Jawa yang tepat adalah “matur-nuwun”, bukan “matur-suwun”. Ada juga yang bertanya soal Perjanjian Giyanti, sebenarnya mengenai soal apa?

Ada pula yang menanyakan beda antara gelar Sunan dan Sultan serta merujuk pada hal apa yang membedakannya? KP Budayaningrat menjelaskan bahwa Sunan (SISKS Paku Buwana) pemimpin yang harus memiliki pengetahuan tentang penguasaan “jagad gedhe” (makro kosmos) dan “jagad cilik” (mikro kosmos). Juga perbedaan antara Raja dan Ratu dalam terminologi Budaya Jawa, juga syarat tiga “wahyu” untuk Ratu. (won-i1)