Kirab Pusaka Malam 1 Sura Perdana di Era Sinuhun Hangabehi (seri 4-habis)

  • Post author:
  • Post published:June 25, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Kirab Pusaka Malam 1 Sura Perdana di Era Sinuhun Hangabehi (seri 4-habis)
PERLU SEGERA : Kegiatan shalat hajad yang sudah beberapa kali dilakukan abdi-dalem "Kanca-Kaji" dan dipimpin KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro sebagai imam di Pendapa Magangan, perlu segera dikembalikan ke Masjid Pudyasana. (foto : iMNews.id/Dok)

Momentum Pembelajaran Agar Masyarakat Adat Meneladani Kearifan Leluhur

IMNEWS.ID – UPACARA adat kirab pusaka yang menandai pergantian Tahun Jawa dari Dal 1959 ke Be 1960, atau Tahun Hijriyah dari 1667 ke 1448 pada 1 Sura/Muhamaram di tahun 2026 ini, banyak pelajaran yang dipetik. Ritual di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, juga memberi isyarat terbukanya momentum melakukan perubahan dan perbaikan, untuk pelestarian Budaya Jawa dan menjaga eksistensi kraton.

Salah satu momentum perbaikan yang diisyaratkan, untuk membangun kesadaran masyarakat adat dan publik secara luas agar bisa memahami kearifan budaya yang menjadi isi dan esensi setiap upacara adat karya para leluhur. Salah satu contoh luar biasa itu, adalah upacara adat kirab pusaka terutama saat persiapan membagi tugas. Semuanya bisa berjalan mengandalkan isyarat, tak perlu perintah verbal.

Bahasa isyarat berupa gendhing-gendhing khusus yang disajikan sesuai jenis upacara adatnya, merupakan bentuk kearifan budaya sekaligus menunjukkan kecerdasan para “intelektual” dan “winasis” tokoh-tokoh leluhur Mataram pada masa lalu. Karena, ada kesesuaian antara karya yang diciptakan dengan cara menggelar atau operasionalnya, sehingga ada unsur-unsur penting dan bermakna tetap terjaga.

Kesesuaian itu, terletak pada cara mengetahui dan menjalankan secara urut yang tak perlu diberitahu secara verbal, bahkan melalui mikropon sound system dengan intonasi keras/tinggi. Para leluhur yang menciptakan tatacara tahapan dan urutan upacara persiapan kirab, cukup dengan memberi isyarat dengan gendhing-gendhing karawitan, baik melalui gamelan besar maupun gamelan khusus gendhing pakurmatan.

SANG PAMOMONG : Posisi para abdi-dalem “Kanca-Kaji” pada era kepemimpinan Sinuhun PB masa silam, seperti peran Kyai Semar Badranaya yang selalu mendampingi sang pemimpin sebagai “Sang Pamomong”. (foto : iMNews.id/Dok)

Dengan kesesuaian itu, menjadi sangat rasional jika upacara adat kirab pusaka yang maknanya “tapa mbisu” atau menjaga keheningan, kekhidmatan dan kesakralan, tidak membutuhkan mikropon dan sound systemnya. Dengan kearifannya, para leluhur yang menciptakan upacara itu mengajarkan, “sikap lelaku” atau “tapa mbisu” sudah harus dimulai dari sejak persiapan, tak hanya saat berjalan menyusuri rute kirab.

Dengan begitu, sebagai generasi keturunan masyarakat adat di zaman modern yang sudah makin terdidik ini, seharusnya malu jika tak bisa meneladani kecerdasan dan kearifan para leluhur yang hidup dengan segala keterbatasannya dibanding kini. Kita selalu diedukasi untuk meneladani kesederhanaan, kelugasan, kecerdasan dan kearifan para leluhur, melalui rangkaian berbagai jenis upacara adat di kraton.

Kearifan budaya yang ditunjukkan para leluhur, tidak hanya ada pada upacara adat kirab pusaka yang maknanya “tapa mbisu” atau “menahan reaksi” dari keramaian. Di upacara adat tingalan-jumenengan atau jumenengan-nata ada pelajaran kearifan itu.  Jalannya upacara diatur dengan isyarat gendhing, agar terjaga keheningan dan kesakralan, apalagi saat suasana didominasi sajian gendhing Bedhaya Ketawang.

Lingkungan kraton dengan tata-ruang yang ada seperti sekarang, berarti sudah melewati 200 tahun perjalanannya menjaga tata-ruang kraton, terutama kawasan sakral di sekeliling pusat-pusat upacara, apalagi Pendapa Sasana Sewaka. Walau sudah 200 tahun berbagai jenis teknologi yang menghasilkan suara (sound system) hadir silih-berganti, tetapi kualitas natural akustiknya masih terjaga baik.

MASA PRIHATIN : Hampir di sepanjang perjalanan hidup Sinuhun PB XIV Hangabehi sampai pada titik sekarang ini, melewati masa-masa penuh keprihatinan seperti tak berkesudahan. Tetapi ujian berat yang panjang itu, pasti ada hikmah dan batasnya. (foto : iMNews.id/Dok)

Menyimak penjelasan Gusti Moeng soal makna filosofi halaman tertutup pasir yang ditumbuhi pohon “Sawo Kecik” (sarwa becik-Red), ibarat perjalanan manusia yang harus selalu “nandur kabecikan” (menebar kabikan). Sedangkan Pendapa Sasana Sewaka, diibaratkan sebagai tahap perjalanan manusia yang sudah menanti ajal tiba. Di situ, hanya butuh suasana hening, khidmat dan sakral menunggu ajal.

Hamparan halaman berpasir juga diibaratkan hamparan dunia yang penuh godaan dan ujian. Keberadaan “gedhong” Sasana Handrawina yang kebanyakan digunakan untuk menerima tamu penting, menggelar acara non-upacara adat dan bisa mengakomodasi teknologi modern sound-system dan jenis musik modern, menjadi fenomenal. Karena, bisa dimaknai gambaran godaan dunia yang melintas atau yang bersifat duniawi.

Walau “gedhong” Sasana Handrawina punya riwayat pernah dipakai untuk menyajikan musik modern (piano) dan seni modern (pop) pada zaman Sinuhun PB X (1893-1939), bukan berarti segala macam musik dan non-klasik khas kraton bisa masuk ke situ. Juga bukan berarti, semua peralatan teknologi modern selain sound-system bisa hadir di situ. Setiap kelonggaran yang tercipta, tetap ada aturan yang membatasi.

Walau ada “kekosongan” informasi selama Sinuhun PB XI jumeneng-nata (1931-1945), tetapi Gusti Moeng adalah salah satu contoh tokoh penting di kraton yang sangat menjaga batas-batas wilayah sakral dan status lain di luar kawasan itu. Karena, walau organisasi Putri Narpa Wandawa adalah karya Sinuhun PB X (1931), tetapi resepsi ultah organisasi ini tak pernah “diizinkan” memakai Sasana Handrawina.

ADA PAKASA : Walau berat dan panjang, tetapi masih ada elemen Pakasa, Pasipamarta dan berbagai elemen masyarakat adat yang setia mendampingi perjuangan dan keprihatinan yang dilakukan. Kirab Pusaka malam 1 Sura 2026, telah membuktikan. (foto : iMNews.id/Dok)

Resepsi ultah Putri Narpa Wandawa, apalagi ultah organisasi Pakasa yang nota bene juga karya Sinuhun PB X di tahun 1931, terkesan harus digelar di luar “kawasan sakral” karena kegiatan itu bukan “upacara adat” resmi kraton. Gusti Moeng mungkin pernah “terpaksa” menggelar ultah Putri Narpa Wandawa di Bangsal Smarakata, tetapi rangkaian acaranya hanya potong tumpeng, doa dan sambutan.

Selain bukan kategori upacara adat, resepsi ultah Putri Narpa Wandawa, apalagi ultah Pakasa, sangat mungkin menghadirkan unsur-unsur modern seperti sound system dan musiknya yang punya sifat heboh, meriah. Unsur-unsur itulah yang harus dijaga agar tidak menodai beberapa lokasi yang masuk kawasan sakral. Karena, biasanya  sound-system hiburan musik campursari bernuansa dangdut, pasti heboh, dan keras.

MILITANSI TINGGI : Walau baru keluar dari rumah sakit dan menderita gejala stroke serta terganggu memorinya, tak menyurutkan RT Erik Abdul Jalal Projodipuro untuk bergabung rombongan Pakasa Kudus mengikuti kirab pusaka di kraton. (foto : iMNews.id/Dok)

Sebagai pengganti, Gusti Moeng memanfaatkan Pendapa Sasana Mulya dan hanya di siang hari dan harus selesai sebelum pukul 12.00 WIB. Atau di ndalem Kayonan, Baluwarti, kediaman GKR Ayu Koes Indriyah, yang tetap mempertimbangkan batas-batas etika dan estetika. Contoh-contoh kebijakan itu patut menjadi pedoman berbagai elemen masyarakat adat, karena etika dan estetika patut beraku di manapun.

Kebijakan Gusti Moeng itu, tentu meneladani kearifan budaya para leluhur yang telah menciptakan berbagai sarana untuk hidup dan memelihara peradaban, lengkap dengan tata-nilai aturan paugeran adatnya. Di situ ada upaya menjaga keseimbangan kebutuhan, agar suasana harmonis selalu tercipta. Berbagai jenis upacara adat di kraton selalu diupayakan tanpa sound sytem, salah satu tujuannya menjaga harmoni. (Won Poerwono-habis/i1)