Temanya “Sendang Widodari”, Warga Pakasa Cabang Kudus Jadi “Suporternya”
KUDUS, iMNews.id – Adik kandung Sinuhun PB XIV Hangabehi, GRAy Putri Purnaningrum bersama BRA Lung Ayu (putri sulung Gusti Moeng), mendadak jadi “bintang panggung” di tengah warga Kabupaten Kudus, khususnya yang menyaksikan acara “Ngaji Budaya” di Lapangan Bumi Perkemahan Abiyoso, Sabtu (12/9) malam. Keduanya menjadi pembicara dari beberapa nara sumber yang dihadirkan panitia setempat, untuk membahas tema “Sendang Widodari” mulai pukul 19.00 WIB semalam.

Ada sekitar seribuan warga yang hadir “menikmati” jalannya “Ngaji Budaya” yang mirip sarasehan dengan santai duduk di atas rumput lapangan Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu. Di antara para “penikmat” sarasehan itu, adalah sejumlah warga Pakasa Cabang Kudus yang hadir dipimpin langsung KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, penyambut dan suporter “dua putri kraton” itu.

Informasi event “Ngaji Budaya” yang menurut Pakasa Cabang Kudus disebut siang didengar sebelum dimulai pukul 19.00 WIB itu, dipandu budayawan mantan wartawan Kompas, Sudjiwo Tedjo. Selain GRAy Putri dan BRA Lung Ayu, ada Bukhori Masturi (akademisi-kolektor arsip sejarah), Hari Fitrianto (dosen Unair), Jamal (arsip ISI Surakarta), Diaz Nawaksara (kurator manuskrip) dan Endro Hadikusumo (DSPG).

Tujuh nara sumber itu “digilir” Sudjiwo Tedjo berbicara selaku narasumber di forum yang dipandunya, mulai sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Hadirnya dua pembicara dari Kraton Mataram Surakarta berbicara tentang tema itu, memang menarik sebagai “sumber” pengetahuan sejarah. Tetapi, keduanya khusus diminta berbicara mengenai proses tampilnya seorang “raja” di kraton.

Karena, arahan moderator khusus masalah itu, maka hal yang banyak dijelaskan GRAy Putri Purnaningrum adalah kisah perjalanan seseorang menjadi “raja” atau pemimpin di kraton (Dinasti Mataram Surakarta). Penjelasan kisah “lelaku” yang biasanya berada di belakang layar atau tidak tampak di ruang publik itu, justru menarik dan sangat diperlukan publik zaman kini khususnya generasi milenial.
“Menjadi seorang pemimpin di kraton (Dinasti Mataram Surakarta), tidak tiba-tiba tampil seseorang yang serba enak, serba ada dan serba kecukupan. Ada proses perjalanan atau lelaku panjang bagi seseorang yang memang punya tugas akan menjadi pemimpin (penerus). Banyak ujian, tantangan dan suasana seperti ditempa dalam waktu panjang. Kakak saya dan saya merasakan itu,” tutur Gusti Putri.

Sementara itu, KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro selaku Ketua Pakasa Cabang Kudus yang dihubungi iMNews.id, semalam, mengungkapkan ekspresi gembira dan bangga setelah mendengar kabar dan bisa ikut menyambut kedatangan dua “putri kraton” itu. Sebagai bagian dari masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta elemen Pakasa, ia dan warga Pakasa cabang merasa wajib ikut mendukung.

Karena posisinya sebagai bagian masyarakat adat elemen Pakasa yang berad di cabang Kudus, KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro menyebut warganya sudah selayaknya menjadi penyambut, suporter sekaligus “pengawal” kehadiran dua tokoh penting dari jajaran generasi muda kraton itu. Terlebih, dirinya selaku ketua atau penanggung-jawab cabang yang punya tugas pelestarian budaya Jawa di wilayahnya.

“Soal tema Sendang Widodari, memang terkesan kurang populer bagi masyarakat Kudus pada umumnya. Meskipun, faktanya sendang yang itu ada di wilayah Gunung Muria yang masuk Kecamatan Gebog. Tetapi, faktor kesejarahan ini yang belum banyak dipahami, khususnya generasi muda. Gusti Putri dan Jeng Lung Ayu banyak menjelaskan soal proses tampilnya seorang raja, itu justru penting sekali,” ujar KRRA Panembahan. (won-i1)


