Meneliti Fungsi “Tengara” dalam Upacara Adat, yang Mirip Lonceng Gereja
IMNEWS.ID – MENJELANG dilaksanakannya upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026, ada sebuah kesibukan kecil yang mungkin saja luput dari perhatian publik secara luas, karena sifatnya terbatas dan tertutup. Kesibukan kecil itu hanya dilakukan Prof Fumiko Tamura, yang secara tidak langsung dibantu KP Saptonodiningrat, sang suami yang statusnya seorang abdi-dalem karawitan kantor Mandra Budaya, kraton.
Kesibukan yang dilakukan adalah meneliti semua gamelan pusaka koleksi kraton, khususnya instrumen “gong”. Sejak Rabu (12/8) iMNews.id mendapati dia bersama sang suami, sedang ditemani KPP Wijoyo Adiningrat (Wakil Pengageng Mandra Budaya) di beberapa lokasi, khususnya di dalam “gedhong” Sasana Handrawina. Dia dipandu KPP Wijoyo Adiningrat, membaca identitas setiap biji “gong” yang diidentifikasi.

Dalam sehari Rabu (12/8) itu, Prof Fumiko bisa mendata beberapa biji gong dari ukuran kecil, sedang, besar dan jumbo seperti sepasang gamelan Kiai Sekati, baik gong Kiai Guntur Sari maupun Kiai Guntur Madu. Semua gamelan kraton, bernilai sejarah tinggi, menjadi pusaka dan disakralkan. Baik yang dipajang di museum, di Bangsal Smarakata, Pendapa Sasana Sewaka, Sasana Handrawina dan di tempat lain.
Di antara yang sudah diteliti dosen pengajar sekaligus penerliti dari Universitas Fukuoka (Jepang) itu, adalah gong Kiai Gethug, Kiai Macan, Kiai Klanthe, Kiai Gurnita, Kiai Lokananta, Kiai Naga Prarera, Kiai Hardjawinangun, Kiai Brajadenta, Kiai Mangunhardja, Kiai Manis Rengga dan Kiai Manis Sarengga. Hampir tiap biji gong punya identitas nama dan tahun pembuatan yang tertulis di dinding belakang.

“Saya minta tolong Kanjeng Pangeran Hernowo (KPP Wijoyo Adiningrat) untuk membaca tulisan aksara Jawa di dalam gong bagian belakang. Biasanya, di situ tertulis nama gamelannya dan tahun pembuatannya. Semua ditulis dengan aksara Jawa. Saya tidak menguasai aksara Jawa. Saya meneliti jenis, ukuran dan latar belakangnya (sejarah). Saya sudah berkeliling di sejumlah negara di Asia,” ujar Prof Fumiko.
Karena yang diteliti termasuk ukurannya, beberapa kali bertemu iMNews.id di kraton, dia dan suaminya membawa jangka besi berukuran besar sejenis yang dimiliki kalangan “pandhe gamelan” atau “besalen”. Karena, gamelan yang diteliti termasuk yang telah dan sedang diproduksi “besalen”, yang rata-rata dekat dengan pusat-pusat kebudayaan (kesenian) dan pemerintahan di negara-negara Asia.

Dalam catatan iMNews.id (Suara Merdeka), Prof Fumiko kali pertama datang ke Kraton Mataram Surakarta di tahun 1980-an saat menjalani tugas pertukaran belajar mahasiswa (Universitas Fukuoka). Untuk penelitian gamelan khususnya gong, ia juga datang ke sejumlah kota di Indonesia yang memiliki latar belakang seni budaya kuat termasuk Kraton Jogja, tetapi akhirnya fokus di Kraton Mataram Surakarta.
Menurutnya, penelitian gong beserta rangkaian gamelan dan jenis-jenis tarian yang menggunakan gamelan sebagai iringan dalam upacara adat di lingkungan kraton, porsinya lebih banyak dilakukan di Kraton Mataram Surakarta. Karena, jumlah dan jenis gamelannya lebih banyak, lebih lengkap, lebih bervariasi dan lebih tua dibanding kraton-kraton atau lembaga di negara lain yang menggunakan gong.

“Jadi, gong yang saya teliti di berbagai negara itu, rata-rata punya fungsi yang sama untuk mendukung upacara adat yang diselenggarakan lembaga masyarakat adat bersangkutan, seperti di Kraton (Mataram) Surakarta). Bahkan, gong yang rata-rata hanya bisa ditemui di negara-negara Asia itu, sama fungsinya dengan lonceng yang ada di negara-negara di Eropa. Untuk ritus upacara doa,” sebut Prof Fumiko.
Dari hasil penelitiannya pula, istri KP Saptonodiningrat itu menyebutkan negara-negara di Eropa nyaris tak ada yang memiliki gong karena nyaris tidak ada yang memperoduksi sendiri. Sedangkan negara-negara di Asia, khususnya di Asia Tenggara, sangat kaya instrumen gong termasuk gamelannya. Apalagi di Indonesia khususnya di Jawa, rata-rata punya lengkap slendro dan pelog, termasuk “gongnya”.

“Di Jawa, sejak dulu hingga kini punya besalen gamelan sangat banyak, tersebar di berbagai daerah. Karena, kratonnya juga banyak, muncul silih-berganti. Selain Indonesia, penghasil gong adalah Vietnam dan Indonesia. Dua negara ini yang memasok gong dan gamelannya ke negara-negara di Asia sejak dulu. Gong di Jepang, Korea, Thailand dan beberapa negara Asia lainnya, asalnya dari dua negara itu”.
“Dalam upacara adat atau ritus upacara doa, lonceng dan gong berfungsi sebagai tengara (penanda). Karena, semakin besar diameter (garis tengah) gong tempa, akan semakin jauh radius suaranya yang bisa didengar. Tengara untuk mengundang peserta upacara, bisa semakin jauh. Dan gong yang paling baik berbahan perunggu yang ditempa. Kalau gong cetakan dari kuningan, gampang pecah,” katanya. (Won Poerwono-bersambung/i1)
