Prof Fumiko Tamura Teliti “Gong” Gamelan di Asia, Termasuk Milik Kraton

  • Post author:
  • Post published:August 18, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Prof Fumiko Tamura Teliti “Gong” Gamelan di Asia, Termasuk Milik Kraton
BANGSAL MARCUKUNDHA : Prof Fumiko Tamura saat mencermati gong bersama seperangkat gamelan yang disimpan sementara di Bangsal Marcukudha, belum lama ini. Ia dibantu KP Saptonodiningrat mengidentifikasi nama dan tahun pembuatan gong itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hasil Pendataan 2004, Kraton Punya Koleksi 10 Pasang Gamelan Gedhe

IMNEWS.ID – KEDATANGAN Prof Fumiko Tamura di Kraton Mataram Surakarta sejak masih berstatus mahasiswa Universitas Fukuoka (Jepang) di tahun 1980-an, setidaknya mendatangkan dua keuntungan khususnya bagi kraton. Yang pertama, koleksi gamelan kraton dan kesenian pengguna gamelan yang diteliti, ikut dikenal lebih lebih luas. Kedua, saat pendataan, kraton berkesempatan mendata-ulang aset koleksinya.

Bahkan, ada nilai keuntungan lain lebih luas ketika berfikir positif tentang penelitian ilmiah yang dilakukan para peneliti kampus berkelas dunia datang ke kraton. Salah satunya adalah nilai publikasi jurnal hasil penelitian di kampus setempat (tidak langsung), dan publikasi ke ruang publik melalui media massa atas temuan-temuan khusus atau nilai keunikan hal yang diteliti di Kraton Surakarta.

Publikasi jurnal hasil penelitian, biasanya berkait dengan bidang pembelajaran di kampus bersangkutan yang bisa berujung dibukanya ruang belajar (jurusan/fakultas) dengan mata kuliah berdasar dari teori ilmu yang didapat dari penelitian. Prof Fumiko memperlihatkan karya penulisan hasil penelitiannya khusus jenis “gong”, yang bisa dijadikan teori pengetahuan sebagai bahan ajar, termasuk di kampusnya.

Ketika bangsa Jepang mempelajari “gong” kemudian gamelan dan aktivitas turunannya yang memakai gamelan dari Kraton Mataram Surakarta, misalnya, ini bisa dimaknai bagian dari publikasi, promosi dan pemasaran sektor pariwisatanya. Padahal, di kraton khususnya, instrumen “gong” berkait kegiatan turunan berupa orkestra seni karawitan, tari, pedalangan, gamelan “Pakurmatan”, ritual Sekaten dan lainnya.

TAHUN LALU : Beberapa tahun lalu sebelum memulai penelitian lagi, Prof Fumiko Tamura selalu hadir dalam setiap upacara adat Sekaten Garebeg Mulud yang didahului dengan jamasan gamelan di Bangsal Bale Bang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Tahun 2004, kraton pernah melakukan pendataan-ulang koleksi gamelan. Ada sepuluh gamelan gedhe yang dimiliki kraton, utuh, lengkap dan kondisinya masih sangat baik. Tetapi memang banyak yang sudah tidak utuh, terutama gamelan ‘cilik’. Saya berharap diadakan pendataan lagi, sambil mengidentifikasi yang tidak lengkap dan. rusak. Mumpung ada momentum di awal Sinuhun PB XIV ini,” ujar Dr Joko Daryanto.

KRT Dr Joko Daryanto adalah abdi-dalem karawitan Mandra Budaya yang terlibat dalam pendataan-ulang gamelan koleksi kraton di tahun 2004, beberapa saat setelah Bebadan Kabinet 2004 terbentuk dan dipimpin Gusti Moeng. Karena Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA itu, yang tergolong paling peduli terhadap nasib kraton serta segala aset budayanya, di antara 35 putra/putri-dalem Sinuhun PB XII.

TERAS PANINGRAT : Gamelan yang biasanya dipajang di teras Paningrat Kidul Pendapa Sasana Sewaka, juga ikut dijamas di ujung timur teras itu beberapa tahun lalu. Gong gamelan ini juga didata Prof Fumiko Tamura dalam penelitiannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Masih ada 10 gamelan gedhe yang dimaksud dosen pengajar di FKIP UNS yang juga abdi-dalem karawitan Mandra Budaya itu, adalah gamelan yang berpasangan antara seperangkat “slendro” dan seperangkat gamelan “pelog”. Gamelan yang masih utuh berpasangan atau dua pangkon (perangkat) itu, misalnya gamelan Sekaten Kiai Guntur Sari meninggalan Sultan Agung dan Kiai Guntur Madu yasan Sinuhun PB IV.

Kesepuluh pasangan gamelan “gedhe” itu jelas punya “gong” yang lengkap pula, “slendro” dan “pelog”, misalnya sepasang gamelan yang “permanen” menghias ruang “gedhong” Sasana Handrawina, Kiai Lokananta dan Kiai Semar Ngigel. Juga pasangan gamelan Kiai Mangunhardja dan Kiai Hardjawinangun di Pendapa Sasana Sewaka, yang jadi iringan gladen tari Bedhaya Ketawang, di Bangsal Smarakata dan sebagainya.

GAMELAN MONGGANG : Gamelan Monggang Kiai Singa Krura yang fungsinya sebagai gamelan “Pakurmatan”, selalu dipajang dan ditabuh di Bangsal Pradangga saat ada upacara adat Sekaten Garebeg Mulud atau “tingalan jumenengan”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Mumpung mbak Fumiko (Prof Tamura Fumiko) sedang meneliti gong, sekalian didata dan diidentifikasi untuk diurutkan unit-unitnya secara lengkap. Biar sesuai kelengkapan unitnya, urut susunannya dan bisa diketahui kalau ada yang rusak dan kurang lengkap. Karena, (selama 2017-2023, bahkan lebih-Red), saat mengembalikan gamelan kok tidak sesuai saat mengeluarkan. Banyak yang pisah,” ujar Gusti Moeng.

GKR Wandansari Koes Moertiyah menegaskan hal itu secara singkat, saat ada persiapan jamasan sepasang gamelan Sekaten Kiai Sekati pusaka kraton, belum lama ini (iMNews, 12/8). Secara kebetulan, saat itu Prof Fumiko Tamura dan suaminya (KP Saptonodiningrat) melakukan pendataan khususnya gong untuk penelitian ilmiah. Karena sejumlah penyimpanan akan revitalisasi, gamelan dikumpulkan jadi satu.

“LANGKAH PENYELAMATAN” : Beberapa “pangkon” gamelan yang disimpan di “gedhong” Sasana Handrawina itu, semula hanya untuk keperluan persiapan revitalisasi di semua tempat penyimpanannya. Tetapi, malah menjadi “langkah penyelamatan” tepat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melihat urgensi dan upaya pelestarian seni budaya khas kraton menyeluruh jangka panjang, pendataan ulang yang dimulai Gusti Moeng di tahun 2004 perlu didukung dan diteruskan rutin, periodik. Termasuk pendataan ulang koleksi wayang tahun 2015-2016, yang teridentifikasi 17 kotak dari berbagai jenis. Namun, tentu bisa memaklumi situasi dan kondisi kraton yang terbatas secara ekonomis sejak 2004.

Kondisi kraton seperti itulah yang membuat pemeliharaan aset koleksi termasuk sistem pengamannya, tidak bisa maksimal. Termasuk pula, koleksi pusaka yang sejak lama tersimpan di ruang pusaka “Ndalem Ageng”. Terjadinya “Insiden MOM 2017”, menambah sulit upaya “penyelamatan” aset-aset pusaka kraton berupa benda-benda budaya bersejarah, karena kelompok yang menguasai sulit menjamin “komitmennya”. (Won Poerwono-bersambung/i1)