Dijadikan Satu di Tempat yang “Aman”, Sebagai Langkah “Penyelamatan”
SURAKARTA, iMNews.id – Bebadan Kabinet 2004 akan melaksanakan jamasan gamelan sekaten pusaka Kraton Mataram Surakarta, Kamis (13/8) besok. Jamasan sepasang gamelan Kiai Sekati, dua songsong (payung) dan perlengkapannya, akan dijamasi dalam ritual terbatas di tempat masing-masing terutama di dalam kraton. Khusus rancakan atau alat pengusungnya, jamasan dilakukan di Pendapa Sitinggil Lor.
“Iya betul. Besok ada jamasan gamelan Sekaten. Yang masih berada di tempat penyimpanannya, ya dijamasi di tempat masing-masing. Kalau yang sudah terlanjur dipindah karena tempatnya akan direvitalisasi, ya sementara biar berada di situ. Dijamasi di situ dan dikembalikan ke situ setelah dipakai untuk Sekaten. Jamasan besok mulai pukul 10.00 WIB. Biasanya abdi-dalem anggong yang menyiapkan”.

“Iya, kalau menjelang jamasan seperti sekarang ini, abdi-dalem yang bertanggung-jawab mengurus gamelan sudah sibuk. Tetapi mas Kadi (KRT Sukadi) sudah sering sakit-sakitan dan tidak masuk,” ujar Gusti Moeng, menjawab pertanyaan iMNews.id, Rabu (12/8) siang tadi. GKR Wandansari Koes Moertiyah secara singkat menjelaskan soal persiapan jamasan, di sela-sela menunggui Prof Fumiko Tamura (70) “mendata”.
Dosen pengajar soal kesenian tradisi Jawa (karawitan) di Universitas Fukuoka (Jepang) itu, siang tadi sedang mengidentifikasi sambil mendata gamelan yang dimiliki kraton. Aset budaya yang sudah menjadi pusaka kraton itu, didata nama perangkat dan jenis instrumennya untuk keperluan dokumentasi secara lengkap. Yang didata kebanyakan dari instrumen gong, yang menjadi bagian penelitiannya di Asia.

“Ini kebetulan akan ada Sekaten dan semua gamelan sedang dikumpulkan, karena tempat penyimpanannya akan direvitalisasi. Jadi, agak memudahkan penelitian yang lakukan. Saya melakukan penelitian khusus instrumen gong yang dimiliki beberapa negara di Asia. Dan di Indonesia khususnya Kraton (Mataram) Surakarta yang banyak memiliki gong (gamelan), pusaka berkualitas tinggi dan baik,” ujar Prof Fumiko.
Siang tadi, Prof Fumiko didampingi suaminya KP Saptonodiningrat, seorang abdi-dalem karawitan setempat yang juga warga Kota Surakarta. KP Hernowo Wijoyo Adiningrat selaku Wakil Pengageng Mandra Budaya, yang mendapat tugas untuk memandu gong yang diidentifikasi. Tampak juga KPP Purwo Taruwinoto (Sekretaris Mandra Budaya), “bebadan” yang mengurusi aset gamelan dan beberapa yang lain.

Mengenai persiapan Sekaten, rangkaiannya sudah diawali dengan peresmian pembukaan “Maleman Sekaten 2026” oleh Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004. Saat itu, Sinuhun PB XIV juga “tedhak” ikut menyaksikan, bahkan memotong tumpeng dan memberikannya kepada perwakilan peserta stan dagang (iMNews.id, 2/8/2026). Sinuhun dan Gusti Moeng sempat penyambangi para pedangang peserta stan “maleman”.
“Maleman Sekaten” yang menempati Alun-alun Lor dan sekitarnya hingga kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa plus kawasan Kagungan-dalem Masjid Agung, akan berlangsung sampai sebulan dan berakhir 31 Agustus ini. Menurut KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu), rangkaian upacara adatnya baru dimulai Kamis (13/8) besok, berupa jamasan sepasang gamelan Kiai Sekati.

Gamelan pusaka Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu yang akan dijamasi, menurut KRT Darpo Arwantodipuro baru lengkap sebagai pasangan gamelan “slendro” dan “pelog” setelah Sinuhun PB IV jumeneng-nata (1749-1788). Karena, gamelan yang ditinggal Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma hanya Kiai Guntur Sari (slendro). Inipun disebut sebagai pengganti gamelan Kiai Naga Wilaga dari Demak.
“Jadi, gamelan Kiai Guntur Sari lebih tua dari Kiai Guntur Madu. Karena, gamelan peninggalan Sultan Agung itu hanya sepangkon. Pasangannya, baru dibuat saat Sinuhun PB IV jumeneng, yang diberi nama Kiai Guntur Madu. Kalau gamelan yang berasal dari Kraton Demak, Kiai Naga Wilaga (abad 15), dibawa ke Kraton Kanoman (Cirebon). Kiai Guntur Sari baru muncul saat Sultan Agung jumeneng”, ujarnya.

Jamasan sepasang gamelan pusaka Kraton Mataram Surakarta besok, ujar KRMH Suryo Kusumo Wibowo, biasanya diikuti dengan mencuci perlengkapan dan peralatan yang digunakan untuki mengusungnya. Jamasan untuk perlengkapan/peralatan, biasanya dilakukan sekaligus di dekat Bangsal Balebang. Dan sebelum jamasan pasti ada wilujengan yang dipimpin abdi-dalem juru-suranata, malam sebelum atau menjelang.
Dia juga menyebutkan, sejumlah gamelan yang terlanjur dipindah saat ada kabar pekerjaan fisik proyek revitalisasi hendak dimulai, beberapa waktu lalu, mungkin ritual jamasannya juga menyesuaikan. Misalnya, gamelan di Bangsal Langen Katong dan Bangsal Bale Bang, yang akan dibongkar untuk direvitalisasi. Gamelan pusaka di museum-pun juga sudah “diselamatkan”, walau tidak termasuk yang akan dijamas. (won-i1)
