Berlanjut Sabtu (15/8) Lusa, Jamasan Gong Kiai Surak di Bangsal Bale Bang
SURAKARTA, iMNews.id – Sepasang gamelan Sekaten Kiai Sekati yang terdiri dari Kiai Guntur Sari (slendro) dan Kiai Guntur Madu (pelog), Kamis (13/8) siang tadi “dijamasi” dalam ritual “terbatas” di dalam “gedhong” Sasana Handrawina. Jamasan yang lebih mirip “diseka” dengan lap yang dibasahi air “kembang setaman” itu, agar para abdi-dalem petugasnya tak perlu membawa keluar-masuk gamelan.
Efisiensi tenaga dan waktu karena “jamasan” bisa dilakukan dengan menyeka memakai lap basah, karena ada pertimbangan penting yang harus tetap dijaga. Yaitu demi “keamanan” dan “keselamatan” gamelan pusaka peninggalan abad 16 (Kiai Guntur Sari) dan abad 18 (Kiai Guntur Madu) itu. Terlebih mengingat, tiga biji “wilahan” intrumen “demung” gamelan Monggang dikabarkan “ketelisut” seusai Garebeg Besar.

“Saya dengar begitu. Tapi coba dikonfirmasi lagi ke Gusti Wandan atau siapa yang berwenang menjelaskan,” ujar KPP Purwo Taruwinoto (Sekretaris Pengageng Mandra Budaya) yang ikut menunggui pelaksanaan ritual jamasan gamelan Sekaten, menjawab pertanyaan iMNews.id, Kamis (13/8) siang tadi. Saat itu KPP Wijoyo Adiningrat (Wakil Pengegang Mandra Budaya) dan Gusti Moeng juga sempat menunggui sebentar.
Bila betul ada “wilahan” instrumen Demung gamelan Monggang yang “ketelisut”, sehabis digunakan untuk ritual Garebeg Besar sekitar dua bulan lalu, disebut sangat masuk akal ketika baru diketahui saat ini. Karena, dalam beberapa hari ini para abdi-dalem “anggong” yang bertanggung-jawab “mengelola” gamelan, secara tak langsung sedang mencacah/mendata semua koleksi gamelan karena beberapa alasan.

“Karena tempat penyimpanannya termasuk Bangsal Langen Katong dan museum harus dikosongkan dan dibongkar untuk direvitalisasi, jadi sekalian bisa sambil mendata (menghitung/mengidentifikasi-Red) gamelan. Kebetulan, juga ada penelitian tentang gong oleh Prof Fumiko Tamura, yang secara tidak langsung harus mencacah gamelan. Dari situ bisa ketahuan kalau ada yang kurang,” ujar KPP Wijoyo Adiningrat.
Gamelan Monggang yang dipajang di Bangsal Pradangga, biasanya untuk mendukung upacara adat yang digelar Pendapa Sasana Sewaka, misalnya Garebeg Besar. Gamelan ini tak ikut “dijamasi” bersama gamelan Kiai Sekati, tetapi ikut “diamankan” menjadi satu di “gedhong” Sasana Handrawina dan Bangsal Marcukundha agar. Dari situ baru diketahui, ada yang “ketelisut” sebelum ada langkah “diselamatkan”.

Walau ada “wilahan” (bilah) instrumen gamelan Demung yang diduga “ketelisut”, tetapi jalannya ritual jamasan mulai pukul 10.00 WIB pagi tadi berjalan lancar hingga selesai sebelum pukul 12.00 WIB. Karena, hampir semua komponen dan elemen gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu bisa dijamasi di dalam ruangan “gedhong”, tak perlu diusung keluar dan dibawa kembali masuk Sasana Handrawina.
Jamasan dengan cara sederhana mirip manusia yang “diseka” atau “disibin” dengan lap itu, tampak sederhana, efektif dan efisien. Karena biasanya, harus dibawa keluar ruangan Bangsal Langen Katong) atau Bangsal Bale Bang untuk diguyur air kembang setaman dengan gayung. Sedangkan perlengkapan berupa “rancakan”, biasanya diseka dengan lap, tetapi peralatan untuk mengusung, harus diguyur air dari selang.

Pada ritual jamasan rangkaian tahapan upacara adat Sekaten tahun-tahun sebelumnya, saat berlangsung jamasan sepasang gamelan Kiai Sekati, biasanya ikut dijamasi songsong (payung) Kiai Brawijaya dan Kiai Guwa Wijaya. Kedua songsong itu tersimpan di Bangsal Langen Katong. Sedang jamasan di Bangsal Bale Bang kompleks Pendapa Sitinggil Lor, biasanya menjadi tempat jamasan peralatannya.
Saat persiapan jamasan Rabu (12/8) kemarin, Gusti Moeng menyebut adanya penelitian “gong” yang sedang dilakukan Prof Fumiko Tamura (Universitas Fukuoka-Jepang), sekaligus menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi dan mendata koleksi aset gamelan pusaka. Selain untuk memastikan data tentang jumlah dan namanya, juga untuk memastikan ketepatan urutan pasangan tiap unit gamelan sesuai namanya.

Sabtu (15/8) lusa, jamasan gamelan sebagai rangkaian persiapan ritual Sekaten 2026 berlanjut dengan jamasan gamelan Gong Kiai Surak. Instrumen gong yang punya latar-belakang sejarah pernah dibawa Sultan Agung ke Batavia itu, akan dilakukan di Bangsal Bale Bang. Setelah ritual itu, menurut KRT Darpo Arwantodipuro tinggal menunggu “turunnya” gamelan dari kraton ke Masjid Agung, 5 Mulud Tahun Be 1960.
“Gamelan di Jawa terutama di kraton dan khususnya instrumen gong, sudah ada sejak Kraton Majapahit, untuk keperluan upacara. Sampai Sinuhun Sultan Agung hanya ada satu perangkat (pangkon), yaitu Kiai Guntur Sari. Itu gamelan slendro, yang berasal dari kata ‘syailendra’. Kemudian Sinuhun PB IV mencipta gamelan ‘pelog’ (Kiai Guntur Madu) sebagai keseimbangan,” ujar Dr Purwadi tadi yang juga hadir. (won-i1)
