Tradisi Sebar Apem Kukus Keong Emas Berubah, Hanya di Satu Titik Lokasi

  • Post author:
  • Post published:August 7, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Tradisi Sebar Apem Kukus Keong Emas Berubah, Hanya di Satu Titik Lokasi
MENUNGGU ANDONG : Bupati Boyolali Agustiawan dan Sinuhun PB XIV Hangabehi dan para tokoh sentral pada upacara pembukaan "Sebaran Apem Kukus Keong Emas" 2026, tampak bersiap-siap di halaman kecamatan menunggu andong yang membawanya kirab. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinuhun PB XIV Naik Andong, Ikut Mengantar Gunungan Apem ke Alun-alun

BOYOLALI, iMNews.id – Ritual tradisi Sebar Apem Kukus Keong Emas yang digelar masyarakat Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali di tahun 2026 ada yang berubah lagi. Lokasi tempat penyebaran makanan tradisi berupa “apem” ukuran kecil berbentuk “keong” itu, tahun ini dipusatkan di satu titik lokasi yaitu di alun-alun. Sedangkan tahun 2025, disebar di Masjid Tjipta Mulya dan alun-alun.

Perubahan titik lokasi untuk menyebar dua gunungan apem berisi 30-an ribu biji apem keong emas, tak dijelasakan dalam upacara pembukaan maupun pihak lain yang berkepentingan di situ. Tetapi, pemusatan sebaran apem di satu titik lokasi yaitu hanya di alun-alun Pengging, sangat memudahkan bagi banyak untuk mengapresiasi dan menikmati upacara adat itu dibanding ketika terpecah menjadi dua lokasi.

Karena penyebaran apem dipusatkan di aun-alun Pengging melalui sebuah panggung knock-down, maka kirab untuk membawa sepasang gunungan apem berawal dai kantor Kecamatan Banyudono langsung menuju alun-alun tempat finishnya. Dimulai pukul 14.00 WIB, upacara pembukaan untuk melepas kirab digelar panitia yang terdiri dari elemen Pakasa Cabang Boyolali, organisasi Harpi, Pasipamarta dan sebagainya.

Masyarakat Pengging, Kecamatan Banyudono khususnya tumpah-ruah di sepanjang rute kirab maupun di alun-alun, Jumat (7/8) siang tadi yang bertepatan dengan tanggal 22 Ruwah Tahun Be 1960. Karena, pada tanggal dan bulan kalender Jawa itu, upacara adat ini digelar rutin sebagai tradisi khas masyarakat setempat. Ritual tradisi ini kali pertama diciptakan RNg Yasadipura, seorang pujangga yang juga ulama-dalem.

HARUS MEMBUNGKUK : Sinuhun PB XIV Hangabehi yang punya tinggi badan di atas rata-rata terpaksa membungkuk untuk merespon setiap orang yang menyapanya, saat menumpang andong mengikuti kirab menuju tempat sebaran apem alun-alun Pengging. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Riwayat awal mula ritual tradisi Sebar Apem Kukus Keong Emas, dijelaskan KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa) saat diwawancarai beberapa wartawan sebelum upacara dimulai. Tetapi, secara khusus hal itu juga diriwayatkan oleh panitia secara resmi sesuai urutan upacaranya. Selain pembacaan riwayat ritual, sambutan tunggal diberikan Bupati Boyolali Agustiawan yang hadir bersama istri.

Sehabis sambutan, ia bersama Sinuhun PB XIV Hangabehi menyerahkan secara simbolis gunungan apem keong emas kepada dua perwakilan elemen masyarakat setempat. Acara berlanjut dengan pengalungan untaian melati, baik kepada Bupati Boyolali maupun kepada Sinuhun PB XIV Hangabehi. Tetapi, untaian melati diterima sebentar lalu   dikalungkan Sinuhun kepada KP Siswantodiningrat, yang lebih tepat “mewakili kraton”.

MELEMPAR JAUH : Sinuhun PB XIV Hangabehi mencoba melempar apem yang diwadahi kardus, agar jatuhnya bisa agak jauh. Ngalab berkah apem keong emas simbol ucapan syukur karena panen melimpah dan bebas dari hama keong emas, agar merata bagi semua. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kesan” KP Siswantodiningrat yang dianggap lebih tepat mewakili “kelembagaan” kraton itu, “ditegaskan” lagi melalui peristiwa pemotongan untaian melati yang membentang di depan pintu masuk pendapa kecamatan, tempat upacara. Karena, saat pengguntingan untaian melati, KP Siswantodiningrat yang mendampingi Bupati Agustiawan, sedangkan Sinuhun PB XIV Hangabehi memilih “berdiri” di tengah keduanya.

Selesai pengguntingan untaian melati, semua tokoh sentral yang hadir pada upacara pembukaan tradisi “Sebaran Apem Kukus Keong Emas” atau “Saparan” itu berjalan ke pintu masuk halaman kecamatan. Di situ, semua tokoh penting diarahkan untuk menumpang empat kereta kuda (andong) yang disediakan panitia. Mereka di antaranya adalah Bupati bersama isteri, Wakil Bupati, Sinuhun PB XIV dan unsur Forkopimda.

ARAH UTARA : Karena pengunjung yang “ngalab berkah” Sebaran Apem Kukus Keong Emas 2026 mengepung panggung di dua arah, maka Wabup Dwi Fajar Nirwana memilih menyebar ke arah utara membelakangi Bupati dan Sinuhun PB XIV, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sejak awal, ekspresi Sinuhun PB XIV Hangabehi memang tampak serah dengan senyuman yang selalu diberikan untuk merespon suasana pertemuan upacara itu. Begitu juga, ketika naik andong bersama seorang pejabat Forkopimda Boyolali yang baru dikenal secara langsung, dan harus membungkukkan kepala karena tingga badannya di atas- rata-rata penumpang andong Pengging, Boyolali, hingga tampak terkesan geli.

Hanya dalam sekitar 15 menit, barisan kirab yang terdiri dari berbagai elemen termasuk kalangan pelajar di berbagai tingkatan sekolah setempat, sudah sampai di alun-alun. Selain drumband pelajar setempat, Korsik Drumband Bregada Prajurit Tamtama Kraton Mataram Surakarta juga tampil di tahun 2026 ini. Mungkin karena Sinuhun PB XIV hadir, karena para prajurit punya tugas lain yang lebih “sesuai”.

“TEDHAK” PERDANA : Bagi Sinuhun PB XIV Hangabehi, ikut menyebar Apem Kukus Keong Emas di tahun 2026 ini adalah kehadiran perdana di era kepemimpinannya. Keramahannya selalu disambut dengan ekspresi bersalaman dari kalangan warga. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Semua barisan menuju alun-alun dan berakhir di tengah lapangan. Bupati Agustiawan dan para tokoh penting Forkopimda berdiri di bawah panggung, untuk menerima laporan dan penyerahan sepasang gunungan oleh manggala prajurit setempat. Setelah diterima, sepasang gunungan diusing naik tangga ke panggung dan KP Siswanto Adiningrat yang bertugas sebagai “pambiwara” (MC) memandu dari atas panggung.

Tak lama kemudian, Bupati Boyolali Agustiawan menyampaikan pesan, doa dan harapan singkat mengenai pentingnya ritual tradisi “Sebaran Apem Kukus Keong Emas”, sebelum memulai menyebar apem. Setelah itu, Bupati Agustiawan berdampingan dengan Sinuhun PB XIV Hangabehi menyebar apem ke arah selatan, sementara Wabup Dwi Fajar Nirwana (Ketua Umum Pakasa Cabang Boyolali) menyebar ke arah utara. (won-i1)