Dua Kompleks Bangunan di Kraton Direvitalisasi “Kolosal”, Selama Empat Bulan (seri 2-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:July 22, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Dua Kompleks Bangunan di Kraton Direvitalisasi “Kolosal”, Selama Empat Bulan (seri 2-bersambung)
MELUKISKAN KEAKRABAN : KGPH PA Tedjowulan (paman) dan Sinuhun PB XIV (keponakan) yang duduk berdua saat Bebadan Kabinet 2004 menggelar wilujengan untuk mengawali revitalisasi kraton, Selasa (21/7), melukiskan rasa hormat dan keakrabannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Berkembang Menjadi Luas, Dikerjakan 300-an Tenaga, Siang dan Malam

IMNEWS.ID – MENCERMATI sosialisasi perencanaan detil bangunan oleh tim teknis dari Ditjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi (PKT) Kemenbud RI (iMNews.id, 17/7), ada perkembangan cakupan kawasan di antara luas seluruh kawasan kraton 90-an hektare itu. Cakupan lebih luas bila dibanding saat mengerjakan menara Panggung Sangga Buwana, maupun perencanaan yang diumumkan saat penyerahan “SK”.

Saat SK Penanggungjawab Revitalisasi dan Pemanfaatannya diserahkan Kemenbud RI Fadli Zon kepada Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan, baru disebut revitalisasi lanjutan tahap berikut di museum dan kawasan Kraton Kulon menjadi prioritas. Satu di antara dua kawasan yaitu Kraton Kulon, berisi banyak bangunan yang rata-rata sudah hancur. Sementara, bangunan museum adalah sumber pendapatan handal kraton.

Pertambahan luas kawasan yang direvitalisasi sebagai lanjutan dari yang sudah terwujud pada periode tahun 2025, saat sosialisasi Jumat (17/7) sudah disinggung tim teknis. Saat wilujengan untuk mengawali dimulainya pekerjaan fisik Selasa (22/7) kemarin, Gusti Moeng kembali menyinggung saat menjelaskan secara global kawasan yang akan direvitalisasi serentak mulai Kamis (23/7) besok.

Melihat begitu luasnya kawasan yang akan direvitalisasi yaitu sekitar 11 hektare mulai dari kompleks Pagelaran Sasana Sumewa, kompleks Sitinggil Lor, kompleks museum yang bersinggungngan dengan Bale Rata dan Bangsal Pradangga, tentu akan melibatkan para pekerjanya secara kolosal. Disebutkan, setidaknya ada 300-an pekerja yang akan dilibatkan, dalam tiga shift kerja, siang-malam selama 24 jam.

EMPAN-PAPAN : Walau posisinya Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA dan berbagai kapasitas lain di kraton, tetap membuatnya sadar dan tahu diri. Gusti Moeng duduk lesehan bersama semua yang hadir dalam pisowanan wilujengan, kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Inilah yang mengesankan proyek revitalisasi serentak di beberapa kawasan di kraton ini dikerjakan secara “kolosal”, mengingat jumlah bangunannya sangat banyak dan harus selesai akhir Desember 2026. Seperti disebut dalam sosialisasi, di kawasan Kraton Kulon, ada belasan unit bangunan bersejarah yang kini kondisinya hancur dan sangat memprihatinkan, mendesak untuk direvitalisasi.

Gusti Moeng membenarkan, bangunan utama eks kediaman Sinuhun PB X yang dikenal dengan “Pendhapi Ijem” (pendapa hijau) dan semua rangkaiannya di kawasan Kraton Kulon, menjadi prioritas revitalisasi yang bersamaan dengan 12 kraton se-Tanah Air. Termasuk “Ndalem Pakubuwanan”, “Panti Rukmi”, bahkan sampai Bangsal Keputren.

ANDHAP-ASOR : Sinuhun PB XIV Hangabehi tetap tampak “andhap-asor” walau kini menjadi tokoh nomer “1” di Kraton Mataram Surakarta. Saat menyapa para pekerja proyek revitalisasi Bangsal Pradangga, sikap merendah itu tetap tampak. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Di kompleks Sitinggil Lor saja, ada Pendapa Sitinggil sendiri yang sudah tampak kusam dan rapuh. Lalu Bangsal Sewayana, Bangsal Witana dan Bangsal Manguntur Tangkil sudah mendesak direnovasi. Atap pendapa utama terutama sambungan-sambungannya, sudah renggang akibat gempa hebat belasan tahun lalu. Dan yang paling mudah keropos dan menyebabkan bocor dan tumpah ke-mana, adalah talang”.

“Kita beruntung, punya Menteri Kebudayaan (Dr Fadli Zon) sangat memperhatikan kraton. Begitu juga presidennya, Bapak Prabowo Subianto. Bahkan, saya katakan pak Fadli Zon sangat cocok menjadi Menteri Kebudayaan. Karena beliau gampang diajak dialog, bisa memahami dan peduli pada situasi dan kondisi riil Kraton Surakarta, bahkan kraton-kraton lain di Nusantara,” ujar Gusti Moeng dalam sambutannya.

WAWANCARA WARTAWAN : Sinuhun PB XIV Hangabehi yang makin sering bertemu wartawan dan memintanya wawancara, nyaris tak pernah ditolak/dihindari. Dalam kapasitas yang dikuasai dan ditanya sangat proporsional, sikapnyapun menyenangkan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selebihnya Gusti Moeng dalam sambutan tunggal sekaligus melengkapi sosialisasi yang direvitalisasi itu, menyebut bahwa banyak bangunan di sejumlah kawasan di kraton terpaksa menggunakan seng. Karena secara artistik, estetik dan kepantasan hampir semua bangunan di kawasan kraton Mataram Surakarta berpenutup atap genting sirab dari kayu jati, maka Kemenbud RI justru menilai itu yang paling rasional.

Ketika ditelaah lebih lanjut, memang tidak rasional atau tampak tidak sesuai jika semua bangunan di Kraton Mataram Islam Surakarta yang berbasis Jawa dan campuran menggunakan penutup atap bukan “sirab”. Tetapi, genting “sirab” untuk zaman yang sudah “krisis hutan” terutama “kayu jatinya” kini, sudah kecil kemungkinannya bisa terpenuhi. Tetapi, produk lain menyerupai genting “sirab”, masih relevan.

PENDAPA IKONIK : Pendapa Sitinggil Lor bisa disebut menjadi wajah kedua di pintu masuk kraton. List-plang yang berlukiskan simbol ikonik itu, sudah sulit disebut baik dan utuh. Belum lagi sambungan antar bangsal di bawahnya. Memprihatinkan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kemenbud RI melalui Dirjen PKT tampak “berkeras” mengganti seng penutup atap  sejumlah bangunan di kraton dengan produk pabrik, menyerupai genting yang bisa disusun seperti “sirab”. Bangunan-bangunan yang membutuhkan biaya besar untuk menutupi atap dengan “sirab berkualitas”, sudah tidak bisa diwujudkan kraton. Seperti bangunan Pendapa Pagelaran misalnya, atapnya diganti harflex mirip sirab.

Dalam pengamatan iMNews.id, beberapa bangunan di kraton yang masih menggunakan genting “sirab” di bawah kualitas “super”, adalah Pendapa Sasana Sewaka dan semua sayapnya, Sasana Handrawina, ketiga Bangsal Pradangga dan Bangsal Smarakata. Itupun, “sirab”-nya sudah bukan kayu jati super, karena nyaris tidak ada hutan jati yang masih ditumbuhi pohon jati “super” seperti 200-an tahun lalu. (Won Poerwono-bersambung/i1)