Gusti Moeng Banyak “Menciptakan” Ruang Belajar Bagi Siapa Saja
IMNEWS.ID – SABTU Legi (18/7) kemarin, Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat khol (haul) peringatan 393 tahun (Jawa) wafat Sinuhun Sultan Agung. Upacara adat digelar di Pendapa Sitinggil Lor mulai pukul 10.30 WIB, yang didahului prosesi kirab membawa uba-rampe upacara adat dari halaman Pendapa Sasana Sewaka. Wilujengan, tahlil, dzikir shalawat Sultanagungan berakhir pukul 12.00-an.
Salah satu di antara urutan acara yang menarik, adalah ketika Gusti Moeng memberi sambutan tunggal yang menjadi penutup upacara adat itu. Karena, dalam sambutan itu disisipkan bentuk-bentuk edukasi dengan gaya kelakar ringan yang menyegarkan. Beberapa data karya besar tokoh sejarah, diucapkan dalam pertanyaan, sebagai pesan/pengetahuan baru, tetapi juga pengingat bagi yang pernah mendengarnya.

Gaya mengedukasi dengan pertanyaan yang “harus” dijawab dengan aklamasi itu, sebenarnya sudah sering dilakukan Gusti Moeng di berbagai kesempatan memberi sambutan. Misalnya di penghujung acara ritual khol itu, Gusti Moeng bertanya “Ini khol Sultan Agung yang ke berapa?. Ada yang tahu serat Sastra Gendhing isinya apa? Tri Prasetya itu isinya apa saja?,” demikian pertanyaan Gusti Moeng.
Karena di awal membuka sambutan sudah disebut khol ke-393 tahun (Jawa), maka “akhirnya” dengan aklamasi dijawab jumlah angka tahun itu. Jawaban serentak atas setiap pertanyaan Gusti Moeng yang selalu diulang dua kali, beruntun terjadi dan terdengar gemuruh. Termasuk beberapa pertanyaan lain, misalnya isi Tri Prasetya, “Hamemayu-hayuning bawana; Mangisis eseming budi dan Memasuh memalaning bumi”.

Serat Sastra Gendhing karya Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (1613-164) itu, menurut Gusti Moeng sudah bisa diakses dari internet, google. Dengan begitu, setiap orang disebut bisa mengakses dari hand-phone (HP) masing-masing, untuk bisa dibaca, dimengerti, dipahami dan dihayati. Cara-cara mengedukasi gaya Gusti Moeng ini, memang sangat langka baik metode maupun pesan (isi) yang disampaikan.
Ketika di analisis dan diulas lebih-lanjut, mungkin Gusti Moeng menjadi satu-satunya tokoh berkelas “lembaga kapujanggan” yang sangat aktif menciptakan “ruang belajar” bagi kalangan masyarakat adatnya. Cara-cara Gusti Moeng mengedukasi soal pengetahuan “piwulang luhur” dari Budaya Jawa” produk Kraton Mataram Islam ini, benar-benar langka dan sulit didapat di berbagai jenjang lembaga pendidikan resmi.

Cara-cara Gusti Moeng mengedukasi pengetahuan tentang “piwulang luhur” itu, juga menunjukkan bahwa mungkin hanya di Kraton Mataram Surakarta yang masih memiliki ruang belajar bagi masyarakat adat, meskipun sangat terbatas. Baik terbatas kesempatan, ruang yang representatif, ketersediaan lembaganya maupun figur-figur tokoh edukator yang memenuhi kapasitas sesuai kriteria “lembaga kapujanggan”.
Di kraton memang sudah tersedia lembaga Sanggar Pasinaon Pambiwara, Sanggar Pawiyatan Paes dan Tata-busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta, Sanggar Pawiyatan Dalang Kraton Surakarta dan sanggar-sanggar pranata-cara dan rias di luar kraton. Tetapi, ketersediaan sanggar itu ternyata tidak paralel dengan kebutuhan edukasi pengetahuan nilai-nilai kearifan lokal leluhur yang ada dalam Budaya Jawa.

Ketersediaan beberapa sanggar kursus (khusus) di dalam kraton, termasuk sangar-sanggar kursus di dalam dan luar kraton, ternyata belum bisa menjamin kebutuhan ruang edukasi pengetahuan tentang beberapa hal mendasar. Beberapa organisasi masyarakat adat terutama Pakasa cabang di berbagai daerah, memang dominan jumlah mereka. Walau tampak sebagai bagian dan daya dukung, tetapi posisi mereka masih objek.
Ketika dicermati lebih dalam lagi, kebutuhan ruang edukasi pengetahuan nilai-nilai kearifan lokal leluhur yang ada dalam Budaya Jawa semakin tarasa mendesak disediakan. Apalagi di likungan keluarga besar kraton ring satu, misalnya yang tampak dari perilaku mereka di medsos pribadinya, menunjukkan betapa tipisnya penguasaan pengetahuan mereka, karena nyaris tidak punya ruang edukasi.

Awal era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi ini hendaknya dijadikan momentum penting untuk memulai menciptakan ruang edukasi itu, secara merata di semua strata adat dan melalui formula yang paling ideal. Karena, status dan posisi sebagai masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta yang dianggap berada di sumber Budaya Jawa secara langsung, selalu dimaknai sebagai insan yang paling “nJawa”.
Kesan mengusai, memahami dan menghayati Budaya Jawa akan benar-benar menjadi fakta, jika “ruang belajar” permanenan dalam jangka panjang dan mudah diakses publik secara luas juga segera melengkapi. Selama Sinuhun PB XIII harus menjadi catatan penting dan pelajaran berharga, agar bisa diatasi melalui “ruang belajar” yang diharapkan tercipta di era Sinuhun PB XIV Hangabehi. Inilah momentumnya. (Won Poerwono-habis/i1)
