Sebelum Tahun 1980-an, Jamasan Makam Tegalarum Didahului Potong Kuku

  • Post author:
  • Post published:July 13, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Sebelum Tahun 1980-an, Jamasan Makam Tegalarum Didahului Potong Kuku
DENGAN PROSESI : Untuk mengangkut "langse baru" dan semua uba-rampe "jamasan makam", dilakukan dengan prosesi kirab yang dipandu para prajurit, dari Bangsal Parasedya menuju bus yang akan mengangkut ke Astana Tegalarum, Slawi/Tegal. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ditandai Peresmian Sekretariat dan Tetepan Pengurus Pakasa Cabang

SLAWI, iMNews.id – Kraton Mataram Surakarta mempertimbangkan usulan beberapa pihak, yang menghendaki dikembalikannya tradisi potong kuku dan rambut yang menjadi bagian upacara adat “jamasan makam” Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum, Slawi/Tegal. Kalau usulan itu bisa diwujudkan seperti tradisi sebelum tahun 1980-an, bisa melengkapi atraksi destinasi wisata setempat.

“Iya, ada usulan soal itu. Tetapi, kami sedang mempertimbangkan situasi dan kondisi (jenazah) Eyang Amangkurat Agung sekarang apa masih memungkinkan. Karena, sudah lama tidak dilakukan tradisi itu. Selain itu, karena makam Tegalarum sudah menjadi cagar budaya, harus ada izin sampai Kemenbud RI dan juga lembaga lain, ujar Gusti Moeng menjawab pertanyaan iMNews.id, di sela-sela ritual, kemarin.

Menurut Gusti Moeng, upacara adat “jamasan makam” atau “Larab Langse” makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Paseban, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Slawi/Tegal sudah sejak lama berlangsung. Apalagi setelah jenazah putra penerus tahta Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma itu, resmi diminta berbagai elemen masyarakat Kabupaten Tegal untuk tidak dipindah ke Jogja.

Ia juga menambahkan, begitu “negara” (monarki) Mataram Surakarta tidak memiliki kedaulatan wilayah sejak bergabung ke NKRI mulai 17 Agustus 1945, semula Sinuhun PB XII ingin memindahkan semua jenazah para pemimpin leluhurnya akan “dimuliakan” menjadi satu di Astana Pajimatan Imogiri. Termasuk jenazah Sinuhun Amangkurat I bersama sejumlah tokoh keluarga kecilnya, yaitu garwa prameswari dan puterinya.

ADA PENYERAHAN : Sesampai di Astana Pajimatan Tegalarum (Slawi/Tegal), langse dan uba-rampe ritual diserahkan KPP Haryo Sinawung kepada pengurus makam Sinuhun Amangkurat Agung dalam upacara serah-terima di makam, Minggu (12/7) siang kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena berbagai elemen masyarakat Kabupaten Slawi/Tegal keberatan dan malah meminta secara resmi ke kraton untuk tidak memindah jenazah Sinuhun Amangkurat I itu, Sinuhun PB XII mengizinkan bahkan menitipkan kepada seluruh masyarakat untuk merawat. Gusti Moeng yang banyak menerima penjelasan dan pesan Sinuhun PB XII menuturkan, jenazah diminta masyarakat tidak dipindah karena ada alasan rasional.

“Masyarakat di sini menganggap Sinuhun Amangkurat Agung adalah pahlawannya. Karena selama hidup Eyang banyak tinggal bersama masyarakat di sini dan sudah menjadi bagian warga kabupaten ini, Sinuhun PB XII bisa memahami bahkan malah menitipkan untuk dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Kepada sayapun, Sinuhun juga pernah beberapa kali berpesan wanti-wanti, setiap saya mau kembali ke Jakarta”.

“Kalau saya mau kembali ke Jakarta, diminta mampir ke Astana Tegalarum, agar menengok situasi dan kondisi makam. Permintaan Sinuhun itu tentu berkait dengan kondisi makam, karena sebelum tahun 1980-an, kalau ada ‘jamasan makam’, selalu diikuti tradisi potong kuku dan rambut Eyang Amangkurat Agung. Tetapi setelah itu, tradisi ini sudah tidak ada,” ujar Gusti Moeng “flash back” tiga dekade.

Jika pelaksanaan tradisi ritual “jamasan makam” Sinuhun Amangkurat Agung tidak seramai dikunjungi masyarakat sebelum tahun 1990-an, diduga karena “potong kuku dan rambut” ditiadakan. Namun sejak Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng aktif merawat makam para tokoh leluhur Dinasti Mataram dan petilasan, upacara adat “jamasan makam” kembali berjalan rutin tanpa potong kuku dan rambut.

MENGIKUTI SYAHADAT : Gusti Moeng dan Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah) mengikuti tahlil, dzikir, syahadat Qurez dan shalawat Sultanagungan yang dipimpin abdi-dalem KRT Widododipuro di dalam cungkup makam, sebelum ganti langse, Minggu (12/7). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Ya, coba nanti kami pertimbangkan dulu usulan itu. Baik sekali, tetapi ada beberapa pertimbangan, terutama mengenai perizinan. Karena harus izin sampai menteri (Kemenbud RI). Masalahnya, kompleks situs makam sudah menjadi cagar budaya yang dilindungi UU BCB No 11/2010. Saya yakin bisa diwujudkan, jika persyaratan teknisnya bisa dijamin aman,” ujar Gusti Moeng di Sekretariat Pakasa.

Perihal usulan itu, menurut KPH Edy Wirabhumi bila bisa diwujudkan akan makin menambah daya tarik wisata makam Sinuhun Amangkurat Agung, terutama saat digelar ritual “jamasan makam”. Karena, sejak dulu ritual jamasan makam selalu dilengkapi potong rambut dan kuku jenazah almarhum selain mengganti selubung (langse) penutup makam. Tradisi itu bisa meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer juga menyinggung langsung delam sambutannya, saat melantik susunan pengurus Pakasa Cabang Slawi/Tegal (2026-2031) di kantor Sekretariat Pakasa cabang di Jalan Dr Soetomo, Desa Slawi Kulon, Slawi, Kabupaten Slawi/Tegal. Gusti Moeng sempat meresmikan kantor sekretariat yang berada di Galeri Budaya Jatayu di Markas Brigif 4 Kostrad Dewa Ratna itu.

Pelantikan pengurus Pakasa Cabang Tegal/Slawi yang dipimpin KMT drg Fitri Nursapti Arini selaku Ketua Umum yang berlanjut dengan peresmian sekretariat, berlangsung setelah ritual “jamasan makam”. “Jamasan makam” yang dimulai pukul 11.30, dimulai dengan prosesi kirab membawa uba-rampe upacara adat. Prosesi dipandu prajurit Bregada Tamtama dan korsik drumband diikuti semua peserta.

PASANG LANGSE : Gusti Moeng memimpin pasang langse baru pusara Sinuhun Amangkurat Agung dalam “cungkup” makam menandai ritual “jamasan makam” di Astana Pajimatan Tegalarum, Adiwerna, Slawi/Tegal, Minggu (12/7) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Prosesi kirab yang dimulai dari pintu masuk kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, dalam waktu 10 menit tiba di depan cungkup makam Sinuhun Amangkurat I (Agung), karena jaraknya hanya 100-an meter. Para petugas yang membawa “langse” dan uba-rampe ritual segera masuk ke cungkup, diikuti Gusti Moeng dan para sentana-dalem. KRT Widododipuro segera memimpin doa, tahlil dan dzikir, diikuti pemasangan langse.

Pemasangan “langse” (selubung) baru yang dipimpin Gusti Moeng, diiringi shalawat hingga selesai. Lalu diteruskan pemasangan untaian “sangsangan” melati-kanthil di “maijan” ke dua ujung pusara dan tabur bunga. Semua peserta ritual termasuk rombongan dari kraton, setelah ikut tabur bunga menuju pendapa makam. Selain santap siang bersama, juga diserahkan buku biografi Sinuhun Amangkurat Agung.

BUKU BIOGRAFI : Buku biografi Sinuhun Amagkurat Agung setebal 700 halaman yang disusun Dr Purwadi, dipersembahkan KMT drg Fitri Nursapti Arini (Ketua Pakasa Cabang Tegal/Slawi) kepada Gusti Moeng, menutup rangkaian jamasan makam, Minggu (12/7). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Buku biografi yang ditulis Dr Purwadi (ketua Lokantara Pusat) berisi 700 halaman, dipersembahkan KMT drg Fitri Nursapti Ariani (Ketua Pakasa Cabang Slawi/Tegal) kepada Gusti Moeng. Dalam beberapa tahun lalu, setelah ritual “jamasan makam”, selalu ditutup dengan sarasehan/silaturahmi dengan perwakilan Pemkab. Namun, selama ada “dualisme” di kraton utusan Pemkab tak muncul, termasuk “bantuannya”.

Karena utusan Pemkab dan “bantuannya” tidak muncul, acara di pendapa makam diisi santap siang bersama, lalu semua bergegas menuju kantor Sekretariat Pakasa Cabang Slawi. Begitu rombongan mulai meninggalkan lokasi makam, para peziarah mulai berdatangan. Menurut para pengurus Pakasa, makam Sinuhun Amangkurat kembali ramai dikunjungi, tetapi akan makin ramai kalau ada event dan dikelola lebih baik.(won-i1)