Tak Disertai Sinuhun PB XIV Hangabehi, Karena Sudah “Tidak Boleh”
SURAKARTA, iMNews.id – Minggu Kliwon (12/7) hari ini Gusti Moeng diagendakan hadir di Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Paseban, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Slawi/Tegal. Kehadirannya untuk memimpin “jamasan makam” atau “larab langse” (selambu) makam Sinuhun Amangkurat Agung. Kehadirannya bersama rombongan dalam prosesi membawa uba-rampe jamasan yang dipandu beberapa bregada prajurit kraton.
Kehadiran rombongan kraton yang dipimpin Gusti Moeng itu, sudah tidak disertai KGPH Hangabehi karena posisinya sudah menjadi Sinuhun PB XIV. Di lingkungan Kraton Mataram Surakarta dan juga di Kadipaten Mangkunegaran, setiap pemimpin yang sudah jumeneng-nata sebagai Sinuhun Paku Buwana di kraton atau KGPAA Mangkunagoro (kadipaten), sudah tidak boleh berziarah ke makam karena pantangan.

Soal larangan atau pantangan bagi seorang “raja” atau Pengageng Pura (Kadipaten Mangkunegaran) berziarah, memang nyaris belum banyak diketahui publik alasannya. Tetapi iMNews.id yang pernah “mengikuti perjalanan” di Kraton Mataram Surakarta sejak tahun 1980-an, tidak pernah mendapati Sinuhun PB XII berziarah ke makam manapun. Begitu pula KGPAA MN IX, juga tak pernah berziarah ke makam leluhurnya.
Selain ziarah, seorang “raja” juga pantangan atau dilarang melayat sampai ke pemakaman, termasuk kerabatnya sendiri. Kalau ada kerabat yang meninggal dan umumnya disemayamkan di Pendapa Sasana Mulya, hanya sampai di tempat itulah Sinuhun memberi doa dan penghormatan terakhir. Namun, ada perkecualian bagi Sinuhun PB XIII yang “berpisah” dengan kelembagaannya sejak sebelum 2017.

Karena semua jajaran kelembagaan di kraton setia mengukuti arah yang benar di bawah kepemimpinan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA, Sinuhun PB XIII bisa “tersesat” sampai di Astana Pajimatan Imogiri. Saat itu kraton memberi penghormatan terakhir pada jenazah GKR Galuh Kencana (almh), karena dimakamkan dekat Sinuhun PB XII, tetapi tak diduga Sinuhun PB XIII juga muncul di sana.
Dalam setahun, kraton punya agenda tugas setidak dua kali untuk berziarah yang identik “merawat” makam para tokoh leluhur Dinasti Mataram. Perawatan rutin itu diawali dengan ritual “nyadran” di setiap bulan Ruwah dan dilanjutkan dengan ziarah di bulan Sura yang berkait ritual “Larab Langse” atau jamasan makam. Pada masa-masa lalu, KGPH Hangabehi banyak dilibatkan sebagai pimpinan utusan-dalem.

Sementara itu, Sabtu (11/7) malam atau semalam, Gusti Moeng memimpin rombongan dari kraton untuk melakukan ritual “Larab Langse” makam Sinuhun Panembahan Senapati di Astana Pajimatan Kutha Gedhe, DIY. Gusti Moeng memberi sambutan dalam ritual wilujengan surud-dalem (haul) ke-438 yang digelar Yayasan Patrap Senapati, sebelum melepas selubung makam di cungkup tokoh pendiri Dinasti Mataram itu.

Karena ada sejumlah jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang semalam mengikuti Gusti Moeng ke Astana Pajimatan Kutha Gedhe (DIY), maka rombongan utusan-dalem yang dikirim ke Astana Pajimatan Desa Pulung Merdiko, Ponorogo agak terbatas, siang tadi. Rombongan yang diikuti sejumlah bregada prajurit, memandu kirab budaya khol Eyang Djayengrana. KPP Haryo Sinawung didampingi KRT Suroso Hadinagoro dalam kirab. (won-i1)






