“Perdana”, Sinuhun PB XIV Hangabehi Gelar Upacara Adat “Lahirnya Surakarta”

  • Post author:
  • Post published:July 4, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing “Perdana”, Sinuhun PB XIV Hangabehi Gelar Upacara Adat “Lahirnya Surakarta”
MEMBERI SAMBUTAN : Didahului dengan minta izin, Gusti Moeng menyampaikan sambutan tunggalnya yang menjadi penutup rangkaian upacara adat peringatan berdirinya "nagari" Mataram Islam Surakarta atau lahirnya Kota Surakarta Hadiningrat". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

 “Kepyakan Jumenengan-nata” Akan Segera Diumumkan, Genaplah Persyaratan Adat

SURAKARTA, iMNews.id – Untuk kali pertama atau “perdana”, Sinuhun PB XIV Hangabehi bersama jajaran Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat peringatan lahirnya “negara” Mataram Islam Surakarta yang ke 290 (kalender Jawa) di “gedhong” Sasana Handrawina, Jumat sore (3/7) kemarin. Hadir sekitar 600 warga dari berbagai elemen masyarakat adat di ultah lahirnya nama “Surakarta” itu.

Selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) memberi sambutan di akhir upacara adat peringatan lahirnya nama “Surakarta Hadiningrat” itu. Elemen keluarga, sentana-dalem, jajaran Bebadan, elemen sanggar-sanggar, Pasipamarta dan elemen Pakasa cabang hadir menjadi saksi gelar ritual “perdana” peringatan “adeging nagari” Surakarta itu.

Dalam sambutan tunggalnya yang didahului dengan kalimat :”…Nyuwun lilah Sinuhun…”, Gusti Moeng membuka pernyataannya dengan mengulas isi tembang “Dahandhang-gula” sebanyak 30 “pada” (kalimat-Red), yang mengisahkan pindahnya Kraton Mataram dari Plered ke Kartasura, dan dari Kartasura ke Surakarta. Tetapi, yang diulas dengan sanjungan adalah suara “swarawati” yang “nembang Macapat” itu.

Nyi MT Eka Suranti, swarawati atau pesinden kraton yang “nembang” (menyanyikan) tembang “Macapat Dhandang-gula” itu, adalah lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta. Pesinden “free lance” itu, setelah lulus dari sanggar pasinaon disebut sudah laris sebagai “MC” berbahasa Jawa atau “juru pambiwara” di mana-mana. Suaranya bagus dan jelas ketika menyajikan tembang “Macapat” itu.

PIMPIN DONGA : Abdi-dalem juru sura-nata RT Irawan Wijaya Pujodipuro memimpin donga wilujengan, tahlil dan dzikir peringatan berdirinya “nagari” Mataram Islam Surakarta, yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Sasana Handrawina, Jumat (3/7). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kita sudah sering mendengar kabar berita dari mana-mana dan dari media apa saja. Sekarang di zaman digital modern ini, kita makin banyak mendengar berita medsos, khususnya tentang perkambangan situasi dan kondisi di kraton. Tetapi, berita-berita itu tidak semuanya benar, berdasarkan fakta. Terutama berita dari pihak sebelah. Kita tidak boleh menelan begitu saja, tetapi harus menimbang dahulu”.

“Kita harus bisa meneliti dan mengoreksi kebenarannya. Kita harus selektif dan menyaring informasi dari medsos itu. Karena, masalah yang berkait dengan dukungan kita terhadap Sinuhun PB XIV Hangabehi, hampir semuanya sudah lengkap segala persyaratan yang harus dipenuhi. Baik secara hukum (negara), secara adat maupun secara agama. Kini tinggal selangkah lagi, yaitu kepyakan jumenengan-nata”.

“Kita tinggal menggelar seremonialnya saja. Yaitu upacara adat jumenengan-nata. Waktunya sudah ada (pilihan-Red), tinggal mengumumkan saja. Tunggu saja. Tidak akan lama, akan kami umumkan, segera. Maaf, kami belum bisa mengumumkan derail waktunyam,” ujar tandas Gusti Moeng dalam Bahasa Jawa “krama inggil”, yang selalu dijawab dengan kata “amin…” seluruh kerabat yang hampir memenuhi “gedhong”.

Kata jawaban yang spontan diberikan secara aklamasi oleh semua yang hadir dalam “pisowanan” itu, sebagai reaksi atau respon terhadap setiap ekspresi Gusti Moeng mengucapkan kata rencana yang berkmana harapan atau permohonan itu. Suasana yang terbangun sejak pukul 16.00 WIB atau setengah jam setelah acara dimulai itu, memberi kesan kekompakan dukungan legitimatif antara pemimpin dan yang dipimpin.

TAMPAK KHUSYUK : Abdi-dalem juru sura-nata RT Irawan Wijaya Pujodipuro memimpin doa wilujengan nagari, Jumat (3/7) sore. Sinuhun PB XIV Hangabehi menggelar ritual ini “perdana” di awal eranya sebagai pemimpin baru Mataram Surakarta. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sampai berlangsung upacara adat “pengetan adeging nagari” Mataram Islam Surakarta Hadiningrat ke-290 tahun (kalender Jawa) itu, berarti sudah tiga jenis upacara adat digelar secara “perdana” di awal era Sinuhun PB XIV. Yang sudah berlangsung sebelumnya, adalah dua ritual kategori besar yaitu kirab pusaka menyambut 1 Sura (Tahun Baru Jawa/Hijriyah) 16 Juni dan hajad-dalem Gunungan Garebeg Besar (28/5).

Dari ketiga jenis upacara adat itu, sudah dilengkapi dengan iringan karawitan yang menyajikan gendhing-gendhing “pakurmatan” (penghormatan), khusus untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi. Yaitu sajian gendhing penyambutan dan tanda pergantian tatacara baku pada upacara adat di kraton. Yaitu gendhing Ladrang Wilujeng saat Sinuhun hadir, atau gendhing “Gleyong” penanda Sinuhun meninggalkan upacara.

Sajian gendhing para abdi-dalem Mandra Budaya untuk kali ketiga di awal era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi itu, disajikan dalam gelar upacara adat peringatan berdirinya “negara” (monarki) Mataram Islam Surakarta, 17 Sura Tahun Be 1960, Jumat Legi (3/7) 2026. Gusti Moeng sempat menyebut sajian gendhing penanda Sinuhun “jengkar”, sebagai bentuk edukasi adat untuk semua yang hadir.

Secara keseluruhan, ritual “wilujengan nagari” peringatan 281 tahun (kalender Masehi-Red) usia (kota/ibukota) Surakarta Hadiningrat adalah “kenduri” dalam ukuran besar, karena dihadiri peserta dalam “ukuran besar” secara jumlah dan identitas para tokohnya yang hadir. Karena, selain jajaran Bebadan Kabinet 2004, juga hadir para pimpinan elemen dan pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi.

NYARIS PENUH : Ruang “gedhong” Sasana Handrawina nyaris penuh oleh berbagai elemen masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, yang sowan mengikuti ritual peringatan lahirnya Surakarta Hadiningrat, 17 Sura Be 1960, Jumat (3/7) sore. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Donga wilujengan nagari” yang dipimpin “abdi-dalem juru sura-nata” RT Irawan Wijaya Pujodipuro, memang menjadi esensi isi upacara adat, bahkan mendominasi. Selama sekitar 45 menit doa yang disambung tahlil, dzikir dan syahadat Qures dan shalawat Sultanagungan itu berlangsung. Gusti Moeng sempat memberi “dhawuh” agar “ujub” disampaikan dalam doa, di awal sebelum menutup dengan sambutan tunggal.

Sinuhun PB XIV Hangabehi duduk paling depan menghadap langsung ke RT Irawan Wijaya yang didampingi belasan abdi-dalem Kanca-Kaji dari berbagai cabang Pakasa. Abdi-dalem ulama dari Jepara, Pati, Kudus, Boyolali, Sukoharjo dan Madiun yang tampak sowan mendukung pemandu doa. Para sentana dan sederek-dalem juga banyak yang hadir, seperti GKR Ayu Koes Indriyah, GRAy Putri Purnaningrum dan KPH Bimo.

JENANG SURAN : KRRA Penembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus), ingin menikmati bubur gurih atau “Jenang Suran”, simbol peringatan lahirnya Surakarta Hadiningrat di tanggal 17 Sura Be 1960, Jumat (3/7) sore kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seperti yang selalu menjadi bagian dari ritual “Jenang Suran” ini, selain donga, tahlil dan dzikir, juga ditembangkan “gendhing Macapat Dhandhang-gula” yang melukiskan pindahnya Kraton Mataram dari Plered, Kartasura dan berakhir di Surakarta. KP Siswantodiningrat yang bertugas memberi aba-aba swarawati Nyi MT Eka Suranti dan KP Husadanagoro, untuk “nembang” riwayat “boyong kedhaton” itu.

Usai pembagian “Jenang Suran” dalam kemasan plastik, KPH Edy Wirabhumi sempat melayani wawancara dengan beberapa wartawan. Baik mengenai makna “bubur gurih” simbol ritualnya, maupun mengenai persyaratan yang sudah dimiliki Sinuhun PB XIV Hangabehi. Menurut Pimpinan Eksekutif LHKS itu, upacara adat jumenengan-nata tinggal selangkah lagi, dalam waktu dekat. Tetapi dirinya belum bisa menyebutkan. (won-i1)