Sebanyak 26 Pusaka “Tali-asih” 26 Cabang Pakasa Dijamasi di Jepara

  • Post author:
  • Post published:April 22, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:3 mins read
You are currently viewing Sebanyak 26 Pusaka “Tali-asih” 26 Cabang Pakasa Dijamasi di Jepara
PUSAKA CANGKAK : Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Jepara, juga ditandai dengan jamasan pusaka "Cangkak" yang ada di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Kalinyamatan. MNg Agus Puspodiprojo memimpin ritual jamasan itu Minggu (19/4). (foto : iMNews.id/Dok)

Dilakukan di Museum Kartini, Menandai Peringatan Hari Kartini

JEPARA, iMNews.id – Datangnya peringatan Hari Kartini, 21 April di tahun 2026 ini, menjadi hari istimewa bagi masyarakat Kabupaten Jepara. Bukan hanya soal gerakan emansipasi (kesetaraan gender) itu dicetuskan dari Jepara, tetapi karena mulai tahun ini ada ritual jamasan 26 pusaka yang tersimpan di Museum kartini.

Seperti diketahui, tahun 2025 lalu pengurus Pakasa Cabang Jepara menginisiasi kirab Grebeg Mulud “Njeparanan” (Njeparan-Red). Kirab budaya itu tak hanya diikuti berbagai elemen masyarakat kabupaten setempat, tetapi juga melibatkan  warga dari 26 cabang Pakasa yang tersebar di wilayah Provinsi Jateng dan Jatim.

MEMIMPIN JAMASAN : MNg Agus Puspodiprojo sebagai salah seorang utusan Pakasa Cabang Jepara, memimpin jamasan 26 pusaka tombak “tali-asih” 26 Pakasa cabang yang tersimpan di Museum Kartini memperingati Hari Kartini, Minggu (19/4) lalu. (foto : iMNews.id/Dok)

Selain menghasilkan prestasi capaian rekor peserta kirab bertombak lebih 2.000 untuk MURI, ada capaian lain yang membanggakan. Menurut KP Bambang S Adiningrat yang dihubungi Rabu (22/4) kemarin, di Museum Kartini jadi menyimpan 26 pusaka tombak “tali-asih” 26 cabang Pakasa peserta kirab budaya Grebeg Mulud “Njeparan”.

“Suatu saat kalau warga Pakasa dari berbagai cabang berwisata ke Museum Kartini Jepara, akan menyaksikan 26 tombak pusaka tali-asih dari cabang-cabang itu. Dan selain itu, dalam rangka peringatan Hari Kartini mulai tahun ini, masyarakat Jepara punya tradisi jamasan pusaka yang ada di museum dan digelar di museum”.

PENYERAHAN KAYON : Pentas wayang kulit “Sedekah Bumi” di Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan didukung penuh Pakasa Cabang Jepara. Secara simbolis, “Kayon” diserahkan kepada Ki Wahyu Sasongko sebelum menyajikan lakon “Semar Mbangun Desa”. (foto : iMNews.id/Dok)

“Ada sisi capaian lain lagi dari peristiwa Grebeg Mulud ‘Njeparan’ itu. Yaitu kita perlu berfikir 100 tahun ke depan. Karena, generasi keturunan bangsa 100 tahun lagi menyaksikan Museum Kartini, yang menyimpan sejarah Grebeg Mulud, juga tali-asih 26 pusaka tombak yang sekarang baru akan menjadi kuno,” jelasnya.

Lahirnya berbagai kegiatan di tengah masyarakat Jepara berbasis budaya Jawa dan sejarah pergerakan nasional, dalam perjalanan Mataram dari Panembahan Senapati, kini Kabupaten Jepara menjadi kaya kegiatan dan ikon dalam tema Hari Kartini. Bahkan, Ratu Kalinyamat adalah pendahulu yang menginspirasi para penerusnya.

RESIK-RESIK PERTAPAN : Kerja-bhakti “resik-resik pertapan” Donoroso yang pernah menjadi tempat meditasi Ratu Kalinyamat, juga diinisiasi warga Pakasa Cabang Jepara, Minggu (19/4). Kegiatan itu juga dalam rangka peringatan Hari Kartini.(foto : iMNews.id/Dok)

Menurut KP Bambang (Ketua Pakasa Cabang Jepara), selain sentuhan kegiatan ritual “jamasan” pusaka yang tersimpan di Museum Kartini, ada beberapa jenis kegiatan lain yang diinisiasi Pakasa. Yaitu, kerja-bhakti di Pertapan Donoroso, Desa Pengkol, Kecamatan Kota, Minggu (19/4) siang yang melibatkan 20-an warga Pakasa.

Hari Minggu (19/4) itu, digelar wayang kulit ritual Sedekah Bumi di Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, siang oleh dalang Ki MNg Sumo Aji dan malam Ki Wahyu Sasongko. Jamasan pusaka “Cangkak” di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Kalinyamatan maupun jamasan 26 tombak di Museum Kartini, dipimpin MNg Agus Puspodiprojo. (won-i1)