Berbagai “Pesan” Muncul dari Pembukaan Sekaten “Perdana 2026” (seri 2-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:August 4, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Berbagai “Pesan” Muncul dari Pembukaan Sekaten “Perdana 2026” (seri 2-bersambung)
PENGHUNI ALKID : Inilah potret seorang "penghuni" Alun-alun Kidul (Alkid) yang tersisa, walau sebagian besar pendukung praktik prostitusi sudah "dibersihkan" dan meninggalkan Alkid saat direvitalisasi di awal Bebadan Kabinet 2004. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Keramaian di Alun-alun Kidul Bukan Bagian Upacara Adat dan Maleman Sekaten

IMNEWS.ID – KERAMAIAN mirip pasar malam yang berisi aneka hiburan dan arena dagang UMKM di Alun-alun Kidul yang muncul sekitar seminggu ini, menjadi “pesan” lain yang lahir dari momentum upacara pembukaan “Maleman Sekaten” 2026 di Pendapa Pagelaran, Minggu (2/8). Meskipun, “message” soal ini tidak ikut disinggung dalam sambutan peresmian Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) sore itu.

“Message” (pesan) soal Alun-alun Kidul, dijelaskan Gusti Moeng secara terpisah, saat menjawab pertanyaan para wartawan yang di sela-sela peresmian, Minggu sore itu. Jawaban GKR Wandansari Koes Moertiyah itu jelas berdasar pada fakta adanya keramaian pasar malam, yang muncul beberapa hari mendahului yang ada di Alun-alun Lor. Keramaian di situ melebihi suasana kesehariannya sebagai tempat nongkrong.

Di saat kraton menjadi korban “Insiden Mirip Operasi Militer (MOM) 2017”, sekitar setahun kemudian Pasar Klewer mengalami kebakaran hebat. Akibatnya, yang menjadi korban bukan para pedagangnya, tetapi juga kraton. Karena, ketika sebagian besar kios rusak total dan harus direnovasi, “kraton” mengorbankan Alun-alun Lor jadi tempat pengganti berjualan. Di dalam alun-alun dan sekitarnya, “dijadikan” pasar.

Alun-alun Lor yang menjadi “korban” akibat Pasar Klewer terbakar, menjadi penuh kios pedagang dan berbagai bangunan fasilitas pendukung pasar semi permanen, termasuk kegiatan parkir, bongkar-muat dan toilet/WC umum. Selama tiga tahun sejak 2018, Pasar Klewer direnovasi total dan selama itu pula kraton tidak bisa menggunakan Alun-alun Lor untuk berbagai upacara adat rutin, termasuk Sekaten.

GALIAN FONDASI : Para pekerja saat menggali untuk membuat lobang fondasi parit dan talud pembatas sekeliling Alun-alun Kidul, saat Bebadan Kabinet 2004 melakukan revitalisasi sehabis membersihkan Alkid dari “kekumuhan” (prostitusi). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sekilas, kraton ikut menjadi “korban” akibat Pasar Klewer terbakar. Selain tak bisa menggunakan Alun-alur Lor sebagai bagian pendukung berbagai upacara adat dalam 3 tahun itu, selama itu pula lokasi alun-alun mengalami “desakralisasi”. Bahkan mengalami delegitimasi, dekulturisasi dan degradasi (kehilangan marwah adat), karena menjadi sekadar tempat bertransaksi, materialistik dan duniawi.

Selama tiga tahun itu, upacara adat Sekaten Garebeg Mulud yang selalu dihiasi keramaian pasar malam atau Maleman Sekaten, dipindah ke Alun-lun Kidul. Relokasi karamaian pasar malam selama itu, bisa meyakinkan publik sebagai keputusan resmi kraton bahwa Alun-alun Kidul adalah bagian dari “Sekaten” dan sebaliknya. Bahkan bisa saja, publik menganggap Alun-alun Kidul adalah lokasi pendukung Sekaten.

KERETA JENAZAH : Kereta jenazah Sinuhun PB X ditempatkan Alun-alun Kidul (Alkid), karena ujung selatan kawasan kraton seluas 92 hektare itu, punya makna filosofi sebagai akhir perjalanan kehidupan manusia di dunia menuju akherat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selama Alun-alun Kidul dipakai sebagai pengganti ajang keramaian pasar malam Sekaten yang melahirkan persepsi salah atau manipulatif itu, memang nyaris tak kelihatan gejolak pro-kontranya. Karena, mulai tahun 2020 sewaktu Alun-alun Lor masih jadi tempat relokasi pedagang akibat proses renovasi Pasar Klewer masih  berlangsung, pandemi Corona mulai terasa dan makin meluas di Tanah Air.

Akibat “bencana kemanusiaan” (kesehatan) global itu, jelas membuat semua bentuk kegiatan termasuk lalu-lintas perdagangan Pasar Klewer di Alun-alun Lor “lumpuh”. Tetapi, keramaian pasar malam Sekaten di lokasi pengganti yaitu Alun-alun Kidul, bisa berlanjut terus hingga menjadi kegiatan rutin “berdagang” di situ. Bahkan, warga Baluwarti yang juga berdagang di situ, mendorong untuk “mengembangkannya”.

DERETAN KIOS : Deretan bangunan permanen kios pedagang di sisi barat Alkid hasil revitalisasi dua alun-alun (2023-2023). Simbol adaptasi perubahan zaman itu ingin “meruntuhkan” makna filosofi Alkid sebagai kawasan “alam awang-uwung” (kosong). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Upaya “pengembangan” yang antara lain simbolnya deretan kios permanen di sisi barat Alun-alun Lor, secara tak langsung andil dalam memberi pembenaran terhadap perubahan fungsi Alun-alun Kidul. Karena sebelumnya, kraton berpegang erat pada makna filosofi Alun-alun Kidul sebagai kawasan “suwung” atau “awang-uwung”, atau bagian dari peta perjalanan akhir kehidupan di dunia menuju akherat.

Tetapi, mencermati perjalannya dari zaman ke zaman, apalagi sejak bergabung ke NKRI, kraton seperti “ditakdirkan” selalu menjadi “korban” dari setiap perubahan. Karena, sejak “Lokalisasi Silir” ditutup resmi Pemkot Surakarta di tahun 2000-an, kegiatan “praktik” prostitusi seperti “diarahkan pindah” ke Alun-alun Kidul. Ini yang membuat Bebadan Kabinet 2004 memugar sekaligus “membersihkan” Alun-alun Kidul.

MENDAPAT PEMBENARAN : Pihak yang mengelola Alun-alun Kidul dan kini disewakan jadi ajang keramaian “Sekaten”, seperti mendapat “pembenaran dan dukungan” untuk merubah suasana dan makna filosofinya sebagai kawasan “alam awang-uwung”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perubahan fungsi yang mendegradasi makna filosofi Alun-alun Kidul dan juga Alun-alun Lor, adalah karena Pasar Klewer terbakar, pandemi Corona dan “kebijakan sesat” semua yang bergabung dengan Sinuhun PB XIII sejak 2017. Sekilas, fakta itu adalah sebuah keniscayaan. Sungguh beruntung, jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan para pendukung terhindar dari keniscayaan penuh keburukan itu, walau dirugikan.

“Message” tentang “keberuntungan” Gusti Moeng bersama seluruh jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan berbagai elemen pendukungnya ini, patut dicatat dan dipahami sebagai pelajaran berharga ke depan. Karena, “keberuntungan” di sini lebih mudah dimaknai sebagai pihak yang “selalu dalam lindunganNya”. Karena semua kejahatan, penindasan dan ketidakadilan, selalu diterima dengan tulus, ikhlas dan tawakal. (Won Poerwono-bersambung/i1)