Kirab Pusaka Malam 1 Sura Perdana di Era Sinuhun Hangabehi (seri 3-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:June 24, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Kirab Pusaka Malam 1 Sura Perdana di Era Sinuhun Hangabehi (seri 3-bersambung)
DARI SINI : Isyarat pergantian tatacara pada upacara adat persiapan kirab pusaka malem 1 Sura, datang dari gamelan yang ditabuh para abdi-dalem "wira pradangga" ini. Termasuk isyarat hadir atau kembalinya Sinuhun PB ke ruang pribadinya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gendhing “Ladrang Wilujeng”, Memberi “Tengara” Kirab Bisa Diberangkatkan

IMNEWS.ID – MASYARAKAT adat terutama Kraton Mataram Surakarta sejak terbentuk melalui dinastinya turun-temurun sejak ratusan tahun lalu, terbangun “aturan” dan “tata-nilai” yang berkembang semakin lengkap sesuai kebutuhan peradaban hingga tampak banyak sekali. Peradaban masyarakat yang penuh aturan, itu pertanda punya keadaban dan perangkat tata-nilai fungsinya mengatur dan membatasi kehidupannya.

“Kraton menyebut aturan dan tata-nilai itu paugeran adat. Bisa disebut konstitusi  tidak tertulis (lisan). Bisa dibayangkan, bagaimana kehidupan manusia tanpa aturan dan tata-nilai? Sudah dibatasi berbagai aturan dan tata-nilai yang ketat saja, pelanggaran atau penyimpangan banyak terjadi, bagaimana jika tanpa itu sama sekali?. Kita sebagai abdi-dalem kraton, bisa belajar banyak tentang itu”.

“Karena, semua ilmu dan pengetahuan di kraton yang menjadi pedoman bergaul, berkomunikasi, berhubungan dan berkerabat, bisa dipelajari. Kalau dulu belajarnya hanya dari pengalaman empiris karena hubungan sosial yang berlaku masih dalam bigkai kedaulatan adat kraton. Sekarang sudah ada Sanggar Pasinaon Pambiwara, membaca naskah manuskrip di Sasana Pustaka dan bergaul langsung saat pisowanan”.

“Jadi, tinggal manusianya. Mau belajar agar menjadi lebih baik atau tidak?. Mau belajar untuk mengerti, memahami dan menghayati atau tidak? Contoh pembelajaran yang baik, ya melalui saat ada pisowanan itu. Kalau upacara adat persiapan kirab pusaka, gendhing-gendhing ‘tengara’ atau penandanya ini. Kalau pisowanan tingalan jumenengan gendhing-gendhingnya itu, dan sebagainya,” sebut KP Budayaningrat.

TAK ADA : Di tempat KGPH Mangkubumi (Sinuhun PB XIV Hangabehi) berdiri “ngampil” pusaka sebelum 2017, nyaris tak terlihat standing mikropon. Padahal, selama 6 tahun lebih hingga 2025, selalu dihiasi kegaduhan menata barisan kirab. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Praktisi Budaya Jawa yang juga “dwija” di Sanggar Pasinaon Pambiwara itu, banyak membenarkan ada beberapa “PR” yang menjadi tantangan seluruh masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Tantangan berupa “PR” itu lahir karena situasi, kondisi dan posisi kraton yang sangat kompleks, sejak kehilangan berbagai keadulatannya. Hanya kesadaran bersama, menjadi benteng solutif penahan agar tak makin parah.

Karena menjadi tantangan bersama, sudah selayaknya beberapa “PR” itu wajib “dikerjakan” bersama. Bila ada kesulitan, wajib diatasi bersama, karena tujuannya untuk kebaikan bersama. Bahkan, karena dalam Budaya Jawa ada ajaran Tri Dharma, apa yang diperbaiki masyarakat adat, punya manfaat jauh lebih besar, yaitu untuk kebaikan peradaban seluruh kehidupan sangat luas, tak terbatas wilayah negara.

Karena faktanya Budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta bukan hanya dipedomani masyarakat adat dan etnik Jawa saja, maka relevan bila semangat “Hamemahu-hayuning bawana”, “Mangisis eseming budi” dan “Memasuh memalaning bumi” untuk kebaikan dunia. Siapapun yang mengaku “wong” Jawa, apalagi kerabat kraton (elemen Pakasa/Pasipamarta), bahkan putra/putri-dalem wajib paham ajaran ini.

Menjaga keindahan dan perdamaian dunia, selalu menebar senyum (kebaikan) dan ikut menanggulangi kerusakan bumi/alam, adalah wajib bagi setiap insan masyarakat adat Kraton Mataram “Islam” Surakarta. Bahkan, uraian kalimat Tri Dharma itu juga mencakup persoalan hadirnya “sound system” di internal masyarakat adat kraton. Karena, tidak semua tempat dan suasana upacara adat bisa menerima kehadirannya.

GAMELAN BESAR : Gamelan besar Slendro-Pelog di teras Paningrat Kidul, menjadi tengara pergantian tatacara ritual tingalan jumenengan atau Garebeg Mulud. Sajian gendhing-gendhingnya menjadi tengara, karena tak ada MC dan sound system. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dan bila dicermati lebih detil, hampir semua upacara adat di kraton mengandalkan pemandu atau pengatur lali-lintas tatacaranya pada sajian gendhing-gendhing karawitan khas setempat. Jadi, tak hanya upacara adat kirab pusaka saat menata barisan dan distribusi pusaka yang menggunakan isyarat gendhing sebagai “tengara” atau penanda pergantian tatacara tahapannya, upacara adat lainpun dipandu.

Pada intinya, hampir semua upacara adat diasumsikan dihadiri Sinuhun Paku Buwana (PB), lalu-lintas pergantian tatacaranya pasti dipandu sajian gendhing. Dan di ritual apa saja yang dihadiri Sinuhun, penandanya adalah gendhing Sri Katon untuk memberi tahu/informasi bahwa Sinuhun tampak hadir di pisowanan. Pada upacara adat kirab pusaka, Sinuhun hadir menjelang pukul 00.00 WIB saat prosesi kirab dilepas.

“Tetapi, sepasang gamelan pusaka (biasanya-Red) Kiai Mangunharja dan Kiai Harjabinangun yang ditabuh para abdi-dalem wira pradangga, setelah shalat Ishak sudah diperdengarkan. Gendhing-gendhing pemandu yang disajikan Ketawang Pamuji, Ketawang Tumadhah dan sebagainya. Ketika prosesi bergerak dilepas untuk kirab di tengah malam, penandanya gendhing Ladrang Wilujeng,” ujar KP Budayaningrat.

Semua jenis menurut nama gendhingnya yang disajikan sesuai urutan tatacaranya, punya makna yang dalam. Misalnya, gendhing Sri Katon maknanya adalah “raja” (Sri) tampak hadir (katon). Ketawang Pamuji adalah ekspresi doa permohonan dan harapan kepada Tuhan YME, agar diberi keselamatan, baik yang menjalankan upacara, kraton dan seisinya, juga bangsa dan rakyat Indonesia, bahkan semua kehidupan di dunia.

GAMELAN PAKURMATAN : Di Bangsal Pradangga, sajian “gendhing pakurmatan” dari gamelan Monggang yang ditabuh bergantian dengan gamelan besar dan pakurmatan lain. Sajian ini menjadi “tengara” di upacara adat jumenengan dan jenis Garebeg. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Penjelasan KP Budayaningrat mengenai gelar setiap upacara adat yang dimiliki Kraton Mataram Surakarta, memang ada unsur-unsur kesesuaian antara berbagai elemen dan komponen yang ada di masing-masing jenis upacaranya. Walau ada yang berbeda misalnya warna beskap, jenis keris dan lokasinya, tetapi hampir semua jenis memiliki kesamaan unsur, yaitu berbusana adat lengkap sesuai pangkatnya.

Kesamaan unsur berikutnya, adalah elemen gamelan yang jenis bermacam-macam sesuai jenis upacaranya. Banyaknya elemen gamelan itu, akan membedakan sajian gendhing-gendhingnya sebagai penanda urutan tatacaranya, yang bisa membedakan antara tiap jenis upacara. Beberapa gendhing untuk upacara adat kirab 1 Sura di atas, banyak yang berbeda jumlah dan ragam gendhing upacara adat tingalan jumenengan.

ADA TEMPATNYA : Ada upacara adat (haul) dan acara lain yang memerlukan sound system dan MC, di “gedhong” Sasana Handrawina-lah tempatnya. Walau ada di dalam kawasan sakral, ruang itu dirancang untuk acara yang ramah teknologi modern. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Begitu pula banyak yang berbeda jumlah gamelan dan gendhing untuk upacara adat hajad-dalem Garebeg Mulud atau Sekaten. Untuk tingalan jumenengan atau jumenengan nata, selain gamelan besar di Pendapa Sasana Sewaka, ada gamelan “pakurmatan” seperti “mongggang” dan “kodhok ngorek”. Sajian “gendhingnya” lebih banyak, sebanyak isyarat tatacara yang diberikan, apalagi dalam ritual Garebeg Mulud.

Isyarat pergantian gendhing yang memberitahu bergantinya tatacara, wajib dipahami (diedukasi) semua masyarakat adat tanpa kecuali. Termasuk Pakasa dan Pasipamarta, bahkan putra/putri-dalem, meskipun pembelajarannya ada bisa secara terpisah. Bila edukasi ini berjalan baik, maka upacara di ruang Pendapa Sasana Sewaka, bisa steril dari sound-system, karena sudah tersedia tempat khusus, Sasana Handrawina. (Won Poerwono-bersambung/i1)