Membanggakan, Dukungan Berbagai Elemen Masyarakat Adat dan Pihak Luar yang Cermat Memandang
IMNEWS.ID – UPACARA adat kirab pusaka menyambut pergantian Tahun Jawa/Hijriyah dari Be 1960/1448 H pada malam 1 Sura/Muharam, Rabu dinihari (17/6) mulai pukul 00.00 WIB, menjadi agenda besar kedua yang sudah dilewati Sinuhun PB XIV. Di awal era pemimpin baru Kraton Mataram Surakarta, bisa diwujudkan kolaborasi sinergik begitu indah dan ideal bersama seluruh elemen masyarakat adat pendukungnya.
Sebuah prestasi yang luar biasa bisa melewati “ujian” besar bagi semua yang terlibat, tanpa kecuali. Karena, terlewatinya agenda besar kirab pusak dan juga ritual Garebeg Besar Idul Adha, sangat jelas tampak di depan mata begitu “tajam kerikil” dan “batu sandungan” yang menghadang kolaborasi solid, Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bebadan Kabinet 2004, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan Kemenbud RI.

Bahkan, tak boleh dipisahkan peran aktif Pemkot Surakarta, karena telah memberi fasilitas sebagai upaya terakhir mempertemukan “dua pihak” yang “berebut tahta”. Walau tak dihadiri Wali Kota Respati Ardi yang sedang tugas ke luar kota, tetapi, kehadiran negara melalui Pemkot yang diwakili Sekda, adalah bukti faktual. Meskipun, perundingan yang diinisiasi itu, tak berhasil mencapai kesepakatan.
Walau dua perundingan yang difasilitasi Pemkot tak bisa mencapai kesepakatan, memang sangat disayangkan. Tetapi itulah fakta riil di lapangan yang harus diakui bersama, meskipun bagi Bebadan Kabinet 2004 sulit memahami keputusan perundingan yang digelar secara terpisah antara “pihak sebelah” dengan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan Pemkot. Bahkan mungkin bagi Pelaksana Revitalisasi Kraton itu.
Hasil perundingan yang difasilitasi Pemkot, Senin (16/6) yang menunjukkan tak adanya kesepakatan dicapai, memang paralel dengan kondisi dan situasi riil di lapangan. Apa yang tampak mulai pukul 20.00 WIB di pusat berlangsungnya upacara adat kirab pusaka berlangsung, Selasa (16/6) malam kemarin, sudah menunjukkan fakta akibatnya. Terlepas dari plus-minus, sisi positifnya terasa melegakan.
Hal yang melegakan itu, seperti yang diungkapkan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, yang hadir “sowan” bersama rombongan 65 warga Pakasa Cabang Kudus. Ketua Pakasa Kudus itu mengaku melihat insiden kecil antara Gusti Moeng dan figur “pihak sebelah”, tetapi tak menyurutkan sama sekali niatnya untuk mendukung kirab pusaka di malam 1 Sura. Ia bahkan merasa bersyukur mendapat beberapa tugas mulia.

“Bagi kami, melihat peristiwa (insiden) malam itu biasa saja. Sedikitpun tak mengurangi niat kami sowan ke kraton untuk mendukung kirab pusaka ini. Karena, kami lebih melihat pentingnya upacara adat yang menjadi bukti lestarinya budaya adiluhung di Kraton Mataram Surakarta ini. Apalagi, kirab pusaka ini perdana di era Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng-nata,” tegas KRRA Panembahan Gilingwesi.
“Kula ngraosaken bingah lan syukur saget nyekseni kirab pusaka perdana ing wiwitan Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng nata. Kula lan warga Pakasa Cabang Kudus ugi nyenyuwun wonten salebeting pandonga, mugi Sinuhun tansah pinaringan wilujeng, tansah kasinungan kawicaksanan lan tansah manggih karaharjan”, pinta Ketua Pakasa Cabang Kudus dalam Bahasa Jawa “krama inggil” saat dihubungi, kemarin.
Tak hanya Ketua Pakasa Kudus yang memberi ekspresi suka-cita karena bisa ikut mendukung kirab pusaka perdana di era Sinuhun PB XIV Hangabehi, Ketua Pakasa Kota Bekasi-pun ikut merasakan serupa. Saat dihubungi iMNews.id terpisah, siang tadi, KRA Joko Murdianto Bintoro Adiningrat selaku pimpinan menegaskan, walau PaKasa Kota Bekasi terhitung sebagai cabang paling muda, tetapi semangatnya luar biasa.
“Walau Pakasa Kota Bekasi baru berumur sekitar setahun, tetapi kirab pusaka malam 1 Sura di erah SISKS PB XIV Hangabehi ini adalah momentum yang sangat kami nantikan. Kalau tahun lalu kami hanya datang ber-10, pada kirab 2026, Rabu malam kemarin, kami bisa sowan bersama 60 orang lebih. Walau yang didaftarkan hanya 40 orang. Pakasa Kota Bekasi ikut membawa pusaka nomer 10,” ujar KRA Joko Murdianto.

Momentum kirab pusaka di malam 1 Sura tahun 2026 ini, bahkan ada sepasang suami-istri warga Belanda yang ikut menikmati sensasinya. David Gallas dan Melanie Webb secara khusus memanfaatkan kedatangannya ke Indonesia, sejak Senin (15/6) lalu. Suami-istri pecinta tosan-aji (keris) ini merasakan kirab pusaka, sebagai puncak acara yang disiapkan setelah menghadiri peresmian besalen Sanakridha Brajangga.
Peristiwa peresmian besalen keris di Desa Beningsari, Kecamatan Bejen, Kabupaten Karanganyar, Senin (15/6), seakan berkaitan dengan upacara adat kirab pusaka di kraton. Karena, upacara peresmian yang dilakukan Sinuhun PB XIV Hangabehi, juga dihadiri David Gallas-Melanie Webb. Mereka menjadi “bintang” di acara tuan rumah (Dayu Handoko) itu, dan bertemu kembali di kraton saat kirab pusaka, Rabu (17/6).

“For me, joining the Kirab Malam 1 Suro was much more than taking part in a cultural event. It was ajourney of the heart. Walking barefoot for eight kilometers througt the neight, together with thousands of people, I gradually felt the noise of the world disappear. Every step brought a deeper sense of calm and humility,” ujar David Gallas melalui sahabatnya, Ketua Pakasa Kota Bekasi.
David Gallas yang bertemu Ketua Pakasa Kota Bekasi di acara peresmian besalen keris, Senin (15/6), menyebut, baginya bergabung dalam kirab pusaka malam 1 Suro, lebih sekadar ikut serta dalam acara budaya. Itu adalah perjalanan hati. Berjalan tanpa alas kaki 8 KM di malam hari bersama ribuan orang, perlahan saya merasakan kebisingan dunia mengilang. Demikian kurang-lebih komentarnya saat diterjemahkan. (Won Poerwono-bersambung/i1)





