Isyarat dari Sinyal-sinyal yang Dilempar dalam Beberapa Pertemuan
IMNEWS.ID – DALAM beberapa minggu dan beberapa bulan ini sejak akhir tahun 2025 hingga pertengahan atau akhir tahun 2026 ini, fase perkembangan yang terjadi di Kraton Mataram Surakarta, bisa disebut berada dalam masa transisi. Dan di medio tahun ini, sudah melewatkan Mei dan menginjak bulan Juni, bisa disebut sebagai masa transisi krusial yang pasti ada puncaknya dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan “membaca” perkembangan situasi dan kondisi yang terus bergerak dinamis dari waktu ke waktu sejak peristiwa wafat Sinuhun PB XIII (iMNews.id, 2/11/2025) hingga kini, banyak sekali isyarat yang diberikan melalui sinyal pesan/informasi. Sinyal informasi itu tentu sebagian besar berupa kalimat penegasan melalui pidato sambutan, dari beberapa tokoh penting berwenang di kraton sekelas Gusti Moeng.

Sejumlah isyarat melalui sinyal-sinyal pesan/informasi penting yang diberikan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat), tentu sangat penting, menentukan dan berdampak. Dan sinyal yang keluar dari Gusti Moeng selaku pimpinan otoritas tertinggi dalam kelembagaan di kraton, bisa dipastikan punya misi dan tujuan strategis, terutama yang menyangkut masa transisi pergantian tahta.
Masa transisi yang sedang dijalani Sinuhun PB XIV Hangabehi saat ini, sudah bisa disebut cukup baik dan lengkap segala persyaratan sesuai konstitusi paugeran adat yang dibutuhkan untuk itu. Bebadan Kabinet 2004 dan kelembagaan kraton telah membuka jalan untuk proses pergantian tahta yang sudah dilalui Sinuhun PB XIV Hangabehi, dan tinggal selangkah lagi akan dipenuhi sesuai persyaratan adatnya.
Karena perjalanan Sinuhun PB XIV Hangabehi saat ini sudah “on the right track”, maka tahapan-tahapannya yang perlu dicermati dan diupayakan bisa dijalani seaman dan selancar mungkin. Maka, berbagai isyarat yang dilempar Gusti Moeng, juga KPH Edy Wirabhumi dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan, menjadi sangat penting untuk dipahami maknanya. Karena, pasti berkaitan satu sama lain, dan sangat penting.
Berbagai isyarat yang dilempat tiga tokoh itu dalam berbagai kesempatan terpisah selama beberapa minggu dan bulan ini, jelas mempersiapkan tahapan transisi bagi tampilnya pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi. Masa transisi sangat penting dipersiapkan, karena semua harus dalam perencanaan matang jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Meskipun, praktik dan eksekusi di lapangan sering bergeser.

Isyarat yang diberikan terakhir melalui rapat koordinasi (rakor) panitia besar medio Mei, satu-persatu sudah terjawab oleh peristiwa berlangsungnya upacara adat. Yaitu ritual hajad-dalem Garebeg Besar yang berlangsung lancar dan aman. Di situ Bebadan Kabinet 2004 melempar isyarat, bahwa Sinuhun PB XIV Hangabehi kali pertama menjalankan tugas sebagai pemimpin adat di Kraton Mataram Surakarta.
Sinyal peristiwa momentum perdana menjalankan tugas memimpin upacara adat itu, bahkan bukan hanya sebagai simbol kelembagaan kraton (Bebadan Kabinet 2004 dan LDA). Melainkan ada pesan penting sekali yang tersampaikan, yaitu sinergitas solid antara kelembagaan kraton, peran Maha Menteri KGPH Tedjowulan (sesepuh mediator) dan peran Kemenbud RI Fadli Zon sebagai simbol kehadiran negara.
Sinyal berisi pesan sinergitas antara Kraton Mataram Surakarta, pemerintah/negara (Kemenbud RI) dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan sebagai “Plt Sinuhun” yang dilempar kraton, ditegaskan dengan simbol baliho baru di perempatan Gladag. Baliho yang dipasang berhadapan sisi dengan baliho Sinuhun PB XIV Hangabehi itu, menjadi simbol penting yang bisa mengartikulasi sinyal-sinyal masa transisi ini.
Bahwa saat rakor di medio Mei, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan meminta lembaga Polri dan TNI meningkatkan intensitas pengamanan saat upacara adat menyambut Tahun Baru Jawa/Hijriyah malam 1 Sura, inilah bagian penting posisi dalam masa transisi itu. Di sana, soliditas antara “tiga elemen” di atas, akan ditunjukkan peran penting ketegasannya pada peristiwa kirab pusaka, Selasa malam (16/Juni).

Kekompakan sinergitas antara “tiga elemen” di atas, hendak ditunjukkan kepada publik juga melibatkan organ-organ negara yang dibutuhkan, dan sudah berjalan efektif dan tegas melalui suksesnya kirab pusaka di malam 1 Sura. Bahkan ketika menyimak rapat lanjutan di kantor Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan, Jumat (5/6) siang dan rapat di eks kantor Sinuhun PB XI, sorenya, ada sinyal baru dilempar.
Yaitu sinyal pesan dan isyarat akan adanya peningkatan intensitas ketegasan semua elemen yang bersinergi, untuk membangun suasana prakondisi (pre-conditioning) agar kirab pusaka Selasa malam (16/6) berjalan lancar tanpa potensi insiden apapun seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Membangun suasana aman dan nyaman pra-kondisi ini sangat penting, agar esensi khidmat upacaranya terwujud.

Jika suasana khidmat dan sakral upacara adat menyambut pergantian Tahun Baru Jawa/Hijriyah terwujud, ini bisa menjadi awal bahkan percepatan kembalinya kewibawaan, kehormatan, harkat dan martabat kraton. Pada gilirannya, suasana khidmat dan sakral yang terwujud dalam kirab pusaka malam 1 Sura, akan memberi kekuatan spiritual dan kebatinan kepada kraton, bangsa dan negara sesuai doanya.
Karena, esensi sikap transendental yang dilukiskan melalui kirab pusaka di malam 1 Sura, sebenarnya sikap doa “panyuwunan” (permohonan) kepada Tuhan YME, agar bangsa, negara, kraton dan semua isinya diberi keselamatan, dijauhkan dari bencana dan didekatkan suasana kehidupan yang sejahtera, adik-makmur, murah sandang, pangan dan papan. Agar dijauhkan dari perpecahan dan permusuhan. (Won Poerwono-bersambung/i1)




