Wisuda Lulusan Sanggar 2026, “Peristiwa” Fenomenal Menyegarkan

  • Post author:
  • Post published:May 24, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Wisuda Lulusan Sanggar 2026, “Peristiwa” Fenomenal Menyegarkan
SAJIAN FENOMENAL : Sajian tari "Gambyong Pangkur" dari para siswa lulusan dan pamong sanggar, menjadi fenomenal saat disuguhkan di Bangsal Smarakata di dalam lingkungan kraton. Karena, tarian khas wanita itu dibawakan juga oleh pria. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Para Siswa dan Pamong Tampil Menari Bersama “Gambyong Pangkur”

SURAKARTA, iMNews.id – “Kemasan” upacara wisuda lulusan (purnawiyata) siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta, ternyata tidak selamanya menjadi sajian yang kaku, serius dan menegangkan. Walau digelar di Bangsal Smarakata di dalam lingkungan kraton dan menggunakan protokol penuh upacara wisuda, tetapi “kemasannya” bisa dikreasi menarik, menggelikan dan menyegarkan.

Kesan mencair dan mengurangi kekakuan karena sikap hormat di tempat yang sakral, lahir ketika ada sajian tari berjudul “Wireng Lintang Sesinggah”. Tari karya KPH Dr Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar) yang dibawakan empat penari lelaki itu, sangat beda dari kebiasaan tari jenis lelaki (Wireng) disajikan di kraton. Salah satu cirinya, mengenakan busana adat Jawa komplet, bukannya kostum tari.

EMPAT NAFSU : Sajian tari “Wireng Lintang Sesinggah”, juga menjadi sajian tari fenomenal, karena para penarinya mengenakan busana adat Jawa lengkap, berkalung untaian melati dan menggunakan senjata keris berhias melati untuk berperang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam pengantar ketika memberi sambutan, sajian tari itu disebut KPH Dr Raditya Lintang Sasangka sebagai wujud rasa terimakasih terhadap “ibundanya” di satu sisi. Di sisi lain, juga sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilannya menyingkirkan “penghalang”, saat berkonsentrasi menyelesaikan disertasi program doktoralnya di Fakultas Ekonomi (FE) UNS, hingga berhasil diwisuda belum lama ini.

Ekspresi penggambaran keberhasilan “menaklukkan” gangguan dalam konsentrasi dalam sajian tari itu, dilukiskan dengan gerak tari “Wira ing” (Wireng) yang khas lelaki. Tetapi, empat penarinya tampil pengenakan busana adat Jawa lengkap gagrag Surakarta, ditambah “sampur” (selendang tari). Sajian tari ini sekilas mirip gerak tari kesenian tradisional “Tayub” yang masih banyak hidup di pedesaan.

Tetapi yang jelas membedakan, tari Wireng Lintang Sesinggah jelas menggunakan konsep (kaidah) gerak tari baku khas Kraton Mataram Surakarta. Sampur yang dikenakan, menjadi instrumen penting yang punya makna saat digunakan untuk adegan “perang” melawan “hawa nafsu” yang mengganggu konsentrasinya. Maka, tarian ini sesungguhnya disebut simbol melawan empat sifat nafsu yang menjadi ciri manusia.

Nafsu “sufiah, aluamah, mutmainah, ammarah” yang biasa dilukiskan dalam simbol warna merah, putih, kuning dan hitam menjadi bagian penting penggambaran KPH Dr Raditya Lintang Sasangka dalam menciptakan karya tari itu. Aksentuasi sajian tari menjadi tegas nuansa “peperangannya melawan hawa nafsu”, karena ada instrumen kalung untaian melati, “simping Gajah ngoling” dan keris terhunus penuh melati.

LETAK BLANGKON : KPH Dr Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar) memang punya ciri suka “perfect” dalam penampilan berbusana adat Jawa. Kalau letak blangkon tidak tepat, pasti langsungkan dibetulkan di tempat, seperti saat wisuda. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sajian tari kedua yang juga fenomenal dan berkesan ringan menyegarkan, yaitu saat sekitar 10 wisudawan dan pamong tampil menyajikan tari “Gambyong Pangkur”. Mereka yang menari bervariasi usianya, mulai dari 20-an hingga 50-an tahun. Bahkan ada dua penari laki-laki di antara mereka, bersama-sama tampil luwes menari dengan kostum masing-masing, yaitu kebaya wisuda dan Jawi Jangkep wisuda plus sampur.

Gerakan tari yang biasa dibawakan kalangan remaja di luar kraton ini, ketika disajikan di situ, tentu membuat seratusan wisudawan dan keluarga pengantarnya, serta para undangan dan sebagainya sempat “senyum-senyum” karena melihat ada yang menggelikan. Dan, hal yang lebih fenomenal lagi tampak saat KPH Dr Raditya membagikan sertifikat kelulusan, sambil membetulkan letak blangkon yang diwisuda.

Selain sajian khusus tari “Wireng Lintang Sesinggah”, dalam sambutannya KPH Dr Raditya Lintang Sasangka selaku Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara juga menegaskan soal makna belajar tentang Budaya Jawa di kraton sebagai “laku” lahir dan batin. Walau hanya selama 6 bulan, tetapi beruntung bagi para siswa yang belajar, karena banyak hal yang didapat di kraton tak mungkin bisa didapat di luar kraton.

Gusti Moeng juga menimpali soal “laku” lahir dan batin yang menjadi esensi belajar di kraton. Tetapi menurutnya, belajar Budaya Jawa di kraton sesungguhnya akan menjadi pintu masuk mempelajari segala macam pengetahuan di dunia ini. Karena, Kraton Mataram Surakarta adalah lembaga negara yang mengurusi semua bidang kehidupan bernegara dan sudah eksis selama 200 tahun (1745-1945).

MEMBAGIKAN SERTIFIKAT : Selaku Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan di kraton, Gusti Moeng membagikan sertifikat tanda kelulusan para siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara yang diwisuda di Bangsal Smarakata, Sabtu (23/5) malam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jadi, kalau hanya 6 bulan yang dipelajari semua bidang kehdupan, ya hanya mendapat ilmu seberapa itu? Apa ada seujung kuku kita? Karena, semua pengetahuan ada di kraton ini. Mengingat, dulunya adalah negara yang mengususi semua bidang kehidupan bernegara (monarki). Tapi saya setuju, kalau penjenengan semua mau belajar di Sasana Pustaka,” ujar Gusti Moeng dalam Bahasa Jawa “krama madya”.

Melanjutkan studi di perpustakaan kraton (Sasana Pustaka) setelah selesai enam bulan belajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara, menurut KPH Raditya Lintang Sasangka di situ letak “lelakunya”. Karena, dari berbagai naskah manuskrip karya para Pujangga Jawa Surakarta, banyak mengajarkan pengetahuan tentang kehidupan sesuai kaidah budaya spiritual religi, kebatinan dan pengetahuan yang banyak bermanfaat.

MENGALUNGKAN SAMIR : KPH Edy Wirabhumi (Pimpinan Eksekutif LHKS) mendapat bagian mengalungkan samir untuk para lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara yang diwisuda di Bangsal Smarakata, Sabtu (23/5) malam kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, Gusti Moeng juga menyayangkan perkembangan situasi dan kondisi sosial budaya bangsa yang makin menyisihkan Budaya Jawa. Dia mencontohkan, ada wisatawan berkeliling di Kota Surakarta khususnya di lingkungan kraton, lalu membuat konten video dan menyebarkannya. Tetapi sayangnya, konten yang direkam tak begitu dipahami maknanya, lalu diisi komentar semaunya, dan disebarkan.

Menyikapi beberapa hal soal menurunnya minat belajar Budaya Jawa dan perilaku sosial yang “melecehkannya”, Heru Kristanto SSen yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta juga “prihatin”. Dari sambutan yang dibacakan ditandaskan, bahwa kini pemerintah sedang fokus untuk menempatkan Bahasa Daerah, termasuk Bahasa Jawa, sebagai objek program pemajuan kebudayaan. (won-i1)