Kraton Kulon, Bangsal Pradangga dan Tembok Sasana Putra
SURAKARTA, iMNews.id – Pekerjaan revitalisasi bangunan di sejumlah titik di kawasan Kraton Mataram Surakarta, kini sudah berjalan lagi. Bahkan, dalam waktu dekat ada beberapa titik lokasi yang akan dikerjakan secara beriringan dan bersamaan. Beberapa bangunan itu adalah Bangsal Pradangga, dinding tembok Sasana Putra, Kraton Kulon dan tahap berikut beberapa ruang pamer Museum Art Gallery.
“Yang museum akan segera berlanjut tahap berikutnya. Yang sudah berlalu, ada 1-2 ruang pamer dan bagian teras. Berikutnya ruang pamer yang lain. Intinya, setelah Panggung Sangga Buwana selesai, berlanjut ke kawasan lain. Cakupan yang harus direvitalisasi luas, bangunan yang sudah harus direnovasi sangat banyak. Tetapi harus bertahap, mengingat semua biaya dari swadaya murni,” ujar Gusti Moeng.

GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang ditemui iMNews.id di teras Nguntarasana, kemarin menyebutkan beberapa hal di atas. Menurutnya, kini sudah ada pekerjaan yang sedang berjalan bersamaan, yaitu mengganti dinding tembok bangunan kompleks Sasana Putra di bagian ujung barat yang ambrol dan bangunan Bangsal Pradangga.
Bangunan tembok di kompleks Sasana Putra atau kediaman keluarga Sinuhun PB XIII (alm), pernah ambrol hampor separo beberapa saat setelah ada insiden “Mirip Operasi Militer” (MOM) tahun 2017. Anehnya, kerusakan parah bangunan di pinggir jalan yang tiap hari dilalui lalu-lintas umum itu, didiamkan saja olehSinuhun PB XIII dan kelompoknya yang sejak 2017 “menguasai” kraton dan menerima dana APBN.

Seperti diketahui, namun keluarga yang tinggal di situ terkesan tidak risih/malu dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang tak sedap dipandang mata. Sementara, dana hibah dari APBN diterima langsung lewat nomer rekeningnya, tetapi diduga digunakan untuk keperluan pribadi. Atas dugaan penyimpangan itu, Gusti Moeng dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan mengirim surat ke BPK meminta audit dana hibah.
“Seperti isi surat kami dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan yang kami kirimkan kepada BPK, kami mengajukan permohonan agar dana hibah yang diterima Sinuhun (PB XIII alm-Red) mulai 2017 sampai seterusnya diaudit. Kami juga terbuka jika BPK mengaudit dana hibah yang kami terima 2009-20012. Karena di luar tahun itu, kami menggunakan dana swadaya murni. Termasuk yang sekarang ini,” tandas Gusti Moeng.

Pernyataan Gusti Moeng mengenai permintaan audit kepada BPK itu, disebarkan ke sejumlah media, termasuk iMNews.id, beberapa waktu lalu. Untuk menanggapi tudingan pihak seberang, bahwa biaya revitalisasi untuk beberapa bangunan mulai Panggung Sangga Buwana sumbernya dari APBN. Tudingan ini salah besar, karena saat ini pemerintah apalagi Kemenbud sedang “krisis anggaran” sudah “dipangkas habis”.
Tudingan berikut yang dianggap tidak mengenakkan, adalah Gusti Moeng dan Bebadan Kabinet 2004 dianggap “sudah nyaman” karena menerima (uang) “proyek” banyak sekali. Tak hanya itu, pihak “sabrang” yang menuding biaya proyek revitalisasi bersumber dari hibah APBN juga minta agar BPK mengauditnya. Melalui pernyataan pers itu, Gusti Moeng menjelaskan dan justru tegas minta audit total, segera.

Kini, pekerjaan revitalisasi bangunan kompleks Sasana Putra sedang berjalan dan sudah tampak progresnya, dalam konstruksi beton dan dibiayai sumbangan “pribadi” kerabat. Sedangkan Bangsal Pradangga, direvitalisasi total dengan biaya swadaya mandiri yang dikumpulkan pimpinan Bebadan Kabinet 2004. Tak lama lagi, kompleks Kraton Kulon yang sudah siap perencanaannya, akan segera dikerjakan.
Gusti Moeng membenarkan, selama 2017 hingga 2022 seluruh jajaran Bebadan Kabinet 2004 “diusir” keluar dari kraton. Selama itu terjadi keruskan beruntun atau peningkatan derajat kerusakan di banyak bangunan, tanpa bisa diatasi oleh Sinuhun (PB XIII-Red) dan kelompoknya. Tetapi, Gusti Moeng yang berada di luar malah bisa merenovasi Pendapa Sasana Mulya, Pendapa Sitinggil Kidul dan kompleks Pagelaran. (won-i1)
