Banyak Ditawarkan Melalui Medsos, Harga yang Sudah Mekar Rp 5 Juta
IMNEWS.ID – Walau di satu sisi upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma di Pulau Majeti Cilacap dianggap publik sebagai peristiwa biasa-biasa, tetapi di sisi lain memberi efek atau pengaruh fenomenal di kalangan masyarakat tertentu. Bagi para spekulan di dunia perdagangan barang/benda langka, munculnya bunga Wijayakusuma telah menjadi trend pasar mirip saat ramai tanaman Gelombang Cinta 20 tahun lalu.
Heboh di pasar bebas melalui medsos fb, IG, tiktok dan sebagainya dalam sekitar tiga minggu terakhir, menurut KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro akibat ada upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma yang digelar Kraton Mataram Surakarta, 23- Mei lalu. Ketua Pakasa Cabang Kudus yang dimintai konfirmasi iMNews.id, Rabu (13/5) siang tadi mengaku, sempat berkomunikasi dengan para pedagang di medsos.

“Saya iseng-iseng tanya lewat facebook (fb) yang menawarkan jenis pohon hasil budi-daya dalam pot, yang sudah keluar daun banyak dan tingginya kira-kira 30 cm, harganya antara Rp 700 ribu hingga Rp 2 juta. Kalau yang sudah mekar bunganya seperti yang bisa diunduh di google, harganya mencapai Rp 5 juta. Katanya, bunga Wijayakusuma itu jenis (species) dari Pulau Majeti. Tetapi yang tumbuh di tanah”.
“Saya masih belum mendapat penjelasan utuh soal mana jenis (species) Wijayakusuma yang asli atau yang (mirip) menjadi pusaka kraton?. Karena, yang dipetik kraton 2-3 Mei lalu, ‘kan dirahasiakan. Lewat medsos, pedagang dari Purwokerto, Sragen, Cilacap dan Jogja yang saya tanya, menawarkan jenis yang sama dan kisaran harga seperti di atas,” ungkap KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro siang tadi.

Menurutnya, ramainya trend perdagangan bunga Wijayakusuma yang disebut mirip jenis yang menjadi pusaka di kraton, akibat ada upacara adat “methik sekar” yang dilakukan kraton dengan tatacara kirab kebesaran. Kirab yang melibatkan orang banyak dan beberapa fasilitas milik pemerintah itu, telah menjadi materi berita besar oleh berbagai platform media di Kabupaten Cilacap dan sekitarnya.
Ramainya pemberitaan yang terfokus pada materi bunga Wijayakusuma yang disebut “bisa” menjadi pusaka di dalam dunia spiritual kebatinan itu, telah memberi efek (side effect) positif terhadap trend perdagangan benad/barang langka. Trend perdagangan di pasar bebas yang terus meningkat sejak kali pertama diberitakan rencana “methik sekar” (iMNews.id, 16/4), semakin banyak orang berspekulasi.

Kehebohan spekulasi perdagangan bunga Wijayakusuma di pasar bebas, dalam analisis iMNews.id memang tidak sedahsyat saat jenis tanaman Gelombang Cinta, burung Love Bird dan sebagainya jadi trend. Karena, bunga Wijayakusuma punya makna estetika dan filosofi ideal yang belum banyak dipahami masyarakat luas. Terlebih berkait dengan pengetahuan sejarah kerajaan dan keyakinan tertentu yang butuh dipelajari.
Selain itu, jenis atau species bunga Wijayakusuma yang disebut menjadi pusaka kraton yang diburu para spekulan/pedagang juga tidak begitu jelas. Dari tiga jenis yang dimiliki KRRA Panembahan Gilingwesi Songonegoro dalam bentuk video di medsos pribadinya, tidak semuanya masuk dalam daftar jenis yang sedang “dicari”. Tetapi, ketiganya juga belum tentu seperti species yang ada di pulau Majeti.

“La katanya dirahasiakan. Jadi, saya ya belum tahu. Tetapi hanya bisa mengira-ira saja, berdasar ciri-ciri tumbuhnya di mana?. Kalau bisa tumbuh di tanah pula Majeti yang terbuka dan bebas kena sinar matahari, pohonnya bisa mirip yang dutanam Sinuhun PB XIV di samping cungkup makam Sinuhun Amangkurat Agung, Tegal. Tetapi konon, yang itu juga bisa tumbuh di karang,” ujar Ketua Pakasa Kudus itu.
Kalau memang benar yang dipetik di Pulau Majeti adalah species seperti yang ada di “goodle”, sangat mungkin bunganya tidak bisa mekar di bawah sinar matahari. Kalau hanya bisa mekar di malam hari, saat pagi atau siang pasti sudah kembali kuncup. Ketua Pakasa Cabang Kudus itu meyakini, hampir semua jenis Wijayakusuma mekar di tengah malam sekitar 1-2 jam , lalu menguncup kembali. (Won Poerwono-bersambung/i1)
