Kesempatan “Terbaik” tak Akan Datang Lagi, Sayang Kalau Dilewatkan
IMNEWS.ID – JADI, perkembangan dari waktu ke waktu “ndilalah” menunjukkan fakta-fakta yang semakin jelas berbeda dan terpisahkan oleh garis tegas. Setidaknya antara yang menafsirkan dan memiliki persepsi, bahwa untuk mendapatkan “wahyu kamulyan” berupa sekar Wijayakusuma harus dengan “perjuangan”. Sementara, ada pihak yang berpersepsi dan punya tafsir “asal dapat” dan apapun wujud bunga itu.
Persepsi dan tafsir yang berbeda lagi, ketika menyangkut modal dan prosesnya. Karena tanda-tandanya, ada fenomena pihak yang kira-kira punya prinsip publik tak bakal tahu dan protes kalau dibohongi, karena mungkin diyakini tidak mau tau atau tidak mau berurusan dengan soal tradisi pergantian tahta di kraton. Fenomena yang “menganggap” publik tak peduli, kurang paham (cerdas) dan masa-bodoh, terasa sekali.
Kalau sikap publik dianggap dan ditafsirkan seperti ini oleh sementara pihak yang punya pandangan “pragmatis”, memang beririsan (bersinggungan) dengan sikap khawatir masyarakat adat yang berjuang menjalani upacara adat “methik sekar”. Tetapi kekhawatiran pada sikap publik itu, lebih pada “side effect” kebiasaan eforia membuat viral apapun peristiwa yang dianggap lucu, heboh dan aneh.

Di situ ada titik singgung kesamaan manfaat (negatif), tetapi kepentingan masing-masing berbeda. Karena sejak awal masyarakat adat yang sudah tergabung dalam panitia dan tim “methik sekar”, begitu hati-hati dan menjaga rapat-rapat tiap kegiatan dalam rangka proses memetik, sejak persiapan hingga hari “H” (2-3 Mei 2026). Mereka merahasikan misi ini, agar tidak “dijarah” atau “didahului”.
Untruk menjaga kerahasiaan misi ini, ada panitia yang sampai meminta kepada redaksi iMNews.id untuk tidak memberitakan kegiatan ini, sama sekali. Tetapi tidak mereka sadari, di zaman serba maju teknologi informasi, terutama teknologi digital internet, nyaris tak ada yang bisa disembunyikan. Akses informasi terbuka sangat luas untuk sebuah kegiatan yang disebut super rahasia sekalipun.
Dalam konteks misi perjalanan spiritual upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma, prosesnya dari tahap ke tahap dan barang/benda yang mencakup peralatan dan uba-rampe, nyaris tak mungkin dirahasiakan. Sekar Wijayakusuma yang dipetik berada di daratan pulau kecil Bandung Majeti, sekalipun, sangat mudah diakses secara visual oleh teknologi satelit, drone dan sebagainya, termasuk tatacara upacara adatnya.

Untuk itu, yang paling rasional untuk dikhawatirkan, adalah ditiru tatacara ritual serupa, menggunakan (membayar) “joki” pemetik, menjarah atau memalsukan. Tetapi, betapapun rapi dan sakral dilakukan untuk “merebut” atau “membajak” kesempatan atau “meniru” (plagiat), jelas niatnya berbeda dan proses spiritualnya juga pasti berbeda. Apa ada berdoa memohon kepada Tuhan YME untuk “memalsukan”?.
Yang bisa dikaji kemudian adalah, barang yang dicari simbol “wahyu kamulyan” sekar Wijayakusuma itu, jenis atau species-nya tepat atau tidak. Karena, sangat mungkin jenis pohonnya yang bisa tumbuh di tanah terbuka seperti di daratan Pulau Bandung Majeti, atau mungkin juga bisa tumbuh di daratan terbuka lain. Kalaupun dari jenis yang hanya tumbuh menempel di karang, sangat mungkin ada tempat lain.
Sampai sedetil ini kemungkinan peluangnya untuk “dipalsukan” untuk keperluan serupa oleh “pihak lain”, tetapi kemungkinan ini dengan gampang bisa gugur atau tidak berlaku. Karena, sejak awal pembahasan dalam rapat panitia, Gusti Moeng sudah menegaskan, bahwa perjalanan spiritual “methik sekar” ibarat doa permohonan kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, apapun wujud yang dikabulkan, harus disyukuri.

Gusti Moeng menjelaskan hal itu, tentu berdasar pada pedoman yang tertulis pada naskah-naskah manuskrip tatacara upacara adat serupa yang dilakukan para leluhur Dinasti Mataram, setidaknya di zaman Sinuhun PB X. Dalam foto-foto dokumentasi ritual methik sekar Wijayakusuma pada zaman Sinuhun PB X, setelah dipetik sekar dimasukkan “cupu”, diangkut dengan “joli”, lalu diserahkan ke kraton.
Yang menyerahkan rata-rata tokoh pepatih-dalem selaku pejabat pimpinan eksekutif “negara” (monarki) Mataram Surakarta. Mungkin saja, pada zaman Sinuhun PB XII naik tahta, tokoh “pepatih-dalem” juga punya otoritas penuh menginisiasi dan memimpin misi “methik sekar” Wijayakusuma. Tetapi, perubahan besar pasti terjadi, setidaknya di bidang transportasi angkutan panitia, peralatan dan uba-rampenya.
Satu generasi pergantian tahta ternyata tidak menjalankan misi “methik sekar” itu, yaitu di tahun 2004 di tengah perubahan besar yang sudah berganti. Salah satu yang berganti, adalah status Kraton Mataram Surakarta yang sudah bukan “negara” dan hanya lembaga masyarakat adat dan budaya. Maka, tidak ada otoritas “pepatih-dalem” yang bisa mengerahkan segala sumber daya “back up full power”.

Keterbatasan itu sangat dipahami masyarakat adat berbagai elemen yang dipimpin Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA, yang juga memimpin Bebadan Kabinet 2004. Tetapi, soal menjalankan misi “methik sekar” Wijayakusuma untuk memenuhi syarat spiritual kebatinan seorang pemimpin Mataram Surakarta, “tidak boleh lagi” gagal atau tertunda oleh alasan apapun seperti di tahun 2004.
Dalam analisis iMNews.id, perjalanan misi “methik sekar” pada pergantian tahta 2025-2026 ini anggap seja sebagai upaya “membayar hutang” untuk pergatian tahta 2004, sekaligus menggenapi yang sedang berjalan. Hutang simbol “wahyu kamulyan” seharusnya tidak boleh terjadi dalam situasi sesulit apapun. Karena, meniadakan kewajiban berdoa, bisa memberi dampak psikis (spiritual) perjalanannya ke depan.
Mungkin atas beberapa pertimbangan itulah, “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, misi “methik sekar” Wijayakusuma tetap dilakukan. Soal wujudnya, kembali pada keyakinan niat awal untuk mendapatkan sekar Wijayakusuma itu. Yang jelas, tanggal 2-3 Mei itulah “satu-satunya” kesempatan “terbaik” mendapatkan “wahyu kamulyan”. Kalau sampai terlewatkan, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi. (Won Poerwono – habis/i1)
