Prosesi Tata-cara Memetiknya, Menentukan Nilai dan Maknanya
IMNEWS.ID – SELAIN beberapa dokumen manuskrip yang masih tersimpan di Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta, perpustakaan milik kraton itu juga punya data pendukung berupa foto peristiwa “Methik Sekar” Wijayakusuma. Data itu bahkan disertai penjelasan tata-cara memetiknya, dari kraton sampai Pulau Nusakambangan.
Tata-cara dan “lampah-lampahnya”, tahap demi tahap mulai dari persiapan di kraton, selama perjalanan sampai proses memetik di Pulau Nusakambangan maupun sekembalinya yang dijelaskan secara urut, tentu memiliki bobot nilai luar biasa. Bahkan, disitulah sesungguhnya letak bobot nilai dan makna “sekar” Wijayakusuma.
Dari perbincangan yang mulai terjadi sejak isu tentang bunga Wijayakusuma terjadi di berbagai forum terutama di lingkungan kraton, asumsi dan imajinasi berkembang sangat luas. Wujud/jenis “bunganya”, terkesan menjadi sangat luas batasannya. Watak/sifat pragmatis yang suka mengesampingkan nilai proses, mulai ikut bermain.

Dalam suasana yang memancing daya tarik untuk “memiliki” pusaka simbol kekuasaan dan kemuliaan itu, kembali mengingatkan pada kisah persaingan dalam lakon wayang kulit purwa. Karena, sekar Wijayakusuma adalah “wahyu”, yang menjadi pusaka andal Kraton Amarta maupun Astina, dan banyak lakon yang melukiskan kisah perburuannya.
Walau sekar Wijayakusuma dikenal milik Prabu Kresna, Raja Kraton Dwarawati, tapi kisah pencarian, persaingan dan alasan dasar memiliki “wahyu kamulyan” dan “keprabon” itu rata-rata ada kemiripan. Itu adalah kisah dalam seni wayang kulit, tetapi seni wayang itu adalah “dokumen” peristiwa kehidupan kraton dan tokohnya.
Ketika potret kehidupan kraton, para tokoh dan peristiwanya yang menghiasi setiap zaman, sepanjang perjalanan Dinasti Mataram saja, di situlah terjadi proses kerja rasional, kreatif, edukatif, dokumentatif dan futuristik. Salah satu tujuan yang diharapkan, agar “isi” dokumen itu dijadikan “pedoman” generasi keturunannya.

Mencermati hal-hal penting dan ideal di atas, gagasan “methik sekar” Wijayakusuma yang sudah tertuang dalam agenda dan rencana, serta dibahas matang aksi nyatanya pada 2-3 Mei mendatang, bisa diterima akal sehat karena sarat makna. Salah satu makna yang bisa ditangkap dari upaya ini, adalah menyangkut kepentingan bersama.
“Kepentingan bersama” yang disimbolkan oleh manunggalnya “wahyu keprabon” dan “wahyu kanarendran” berupa “sekar Wijayakusuma” itu, jelas merupakan upaya bersama seluruh elemen masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Karena, syarat yang hendak digenapi adalah kebutuhan pemimpin, tetapi harus diupayakan bersama.
Untuk mewujudkan upaya “methik sekar” Wijayakusuma, bukan memakai cara pragmatis seperti watak/sifat modernitas sekarang ini. Tetapi, harus memakai tata-cara adat secara genap, seperti panduan yang diwariskan para leluhur pada berbagai dokumen manuskrip. Tata-cara harus dijalankan penuh penghayatan, mirip “laku batin”.

Ketika sudah sampai pada pemahaman itu, maka begitu rumit, berat dan besar energi yang diperlukan dalam melaksanakan seluruh proses “methik sekar” Wijayakusuma dari persiapan hingga selesai “tuntas”, itulah proses perjalanan spiritual atau “laku batinnya”. Di sinilah harga, nilai dan makna pencapaian itu bisa dirasakan.
Oleh sebab itu, kalau di awal proses pembicaraan gagasan memetiknya ada semacam kekhatiran akan “dibajak” oleh pihak “pesaing”, patut diyakini itu tidak akan terjadi. Kalaulah bisa “memaksakan kehendak” dan mendapatkannya, niscaya tak akan memberi pengaruh apapun, selain tanpa proses adat, bunganyapun belum tentu benar.
“Ini bisa menjadi contoh yang bisa dipahami. Karena saya mendapat tugas untuk menjaga jalannya ‘methik sekar’ nanti aman, lancar dan sukses, maka saya akan berupaya mempersiapkan diri. Saya harus berpuasa, prihatin dan banyak berdoa, agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Tidak hanya diri saya, tetapi semua”.

“Semua yang bertugas agar diberi keselamatan dan kelancaran, serta dikabulkan doanya. Yaitu mendapatkan sekar Wijayakusuma. Ini semacam tugas suci. Jadi, diri kita saat memasuki lokasi yang dianggap suci (sakral), juga harus suci. Niatnya harus suci. Ini yang ikut menentukan keberhasilannya,” ujar KRRA Panembahan.
KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus), saat dihubungi iMNews.id, semalam, menyebutkan dirinya punya rencana. Yaitu akan menjalani ritual khusus, persiapan diri menjalankan agenda “methik sekar” Wijayakusuma. Dia banyak mendapat panduan dan petuah dari ibundanya, Hj Nyi MT Tarmini Budayaningtyas.
Ibunda Ketua Pakasa Cabang Kudus yang kini berusia 87 itu, disebutkan banyak memberi gambaran dan petuah soal tatacara “methik sekar” Wijayakusuma. Petuah itu berasal dari sang kakek, abdi-dalem yang suwita di Kraton Mataram Surakarta sampai tahun 1970-an, juga punya pengalaman “methik sekar” ke Nusakambangan. (Won Poerwono – bersambung/i1)
