Di Era Presiden Prabowo, Kraton Bisa Menghilangkan “Hil yang Mustahal” (seri 4 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:March 31, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Di Era Presiden Prabowo, Kraton Bisa Menghilangkan “Hil yang Mustahal” (seri 4 – bersambung)
MENGAMATI ATAP : Menbud RI Fadli Zon dan rombongan saat diantar Gusti Moeng, Sinuhun PB XIH Hangabehi dan tuan rumah lainnya sampai di gerbang pintu "kori butulan kulon" Kraton Kulon. Mereka semua mengamati kondisi atap gapura itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Moeng Usul Ada Tambahan “Taman Bunga” dan “Taman Burung” di Kraton Kulon

IMNEWS.ID – “PINTU” rezeki yang sudah dibuka untuk Kraton Mataram Surakarta beserta seluruh elemen masyarakat adatnya, perlu disadari, dipahami dan dirawat dengan baik. Karena “rezeki” yang mulai mengalir melalui Kemenbud RI bersama dua kementerian lainnya (SKB Tiga Menteri), bukan kesempatan yang mudah didapat, melainkan hasil “keprihatinan” dan “perjuangan” berat karena disertai “korban”.

“Rezeki” yang diibaratkan dalam wujud “kail” atau “pancing” untuk melukiskan revitalisasi berbagai bangunan aset kraton, kalau disadari dan dipahami asal-usul dan tujuannya, pasti akan dirawat dengan baik. Karena, kalau wajah dan isi kraton menjadi makin indah dan punya daya tarik wisata nasional dan internasional, tentu akan menjadi sarana yang mudah mendatangkan rezeki bagi kraton dan orang banyak.

Kira-kira seperti itu ketika “membaca” beberapa peristiwa yang terjadi di kraton di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini. Bila dianalisis lebih lanjut, khusus mengenai tampilnya penerus tahta di Kraton Mataram Surakarta ini, bisa dipahami sangat meyakinkan membawa rezeki dan energi positif bagi kraton dan masyarakat adat. Bahkan berpotensi bisa memberi energi positif bagi publik, bangsa dan NKRI.

Untuk sampai pada “pintu rezeki” yang mulai terbuka ini, adalah perpaduan antara banyak unsur dan faktor, teknis dan non teknis, yang bisa terlihat maupun yang tak bisa dilihat. Setidaknya sebagai hasil perjuangan berat dan keprihatinan begitu lama, berpadu dengan tampilnya para tokoh yang “The Right Man, The Right Place dan The Right Track” dengan hadirnya tokoh birokrat yang “Sutresna Budaya”.

TENGGAN PERMAISURI : Rumah dinas atau “tenggan” permaisuri Sinuhun PB VI yang bernama KR Tasik Wulan, tampak tinggal puing-puing seperti habis jadi korban perang. Tetapi, bangunan ini belum dijelaskan termasuk yang direvitalisasi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau bisa disebut sebagai bagian dari yang “di belakang layar” atau “tidak begitu tampak”, tetapi belum sempurna dan adil kalau tidak menyebut Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan. Karena bagaimanapun, “Plt ad-interim Sinuhun” itu tokoh yang bisa “menjembatani” hubungan antara Bebadan Kabinet 2004 dan LDA bersama seluruh elemen masyarakat adatnya, baik dengan negara/pemerintah maupun dengan “sabrang”.

Jadi, perpaduan antara unsur-unsur dan faktor-faktor itulah, energi dari beberapa arah bisa dipadukan dan disinergikan. Menbud RI Fadli Zon dalam beberapa kali kesempatan pidato di kraton menyebut, revitalisasi yang dilakukan (negara) memang baru 20 persen di tahun pertama (2025-2026). Padahal, sampai akhir periode Presiden Prabowo Subianto, masih ada waktu lima tahun untuk “melanjutkannya”.

Sepenggal kalimat pak “Menteri” itu terdengar “menjanjikan” sekaligus “menenteramkan”. Karena, sekali lagi, bukan wacana atau rencana, tetapi sudah ada buktinya (iMNews.id, 29/3 dan 30/3). Dan, sampai dua kali kawasan 1 hektare di “Kraton Kulon” ditinjau hingga setelah “dibabat’ semak-belukarnya, Kamis (26/3), tentu “tidak main-main”. Terlebih, kini desain perencanaan (DED) sedang disusun.

“Betul. Jadi setelah semak-belukarnya dibabati dan pintunya bisa dibuka dan diakses, langsung diadakan pengukuran. Proses selanjutnya, petugas dari Badan Perlindungan Kebudayaan (BPK) Wilayah X DIY/Jateng kini sedang menyusun DED (detail engineering design). Biasanya, setelah gambar perencanaan revitalisasi sudah siap, berlanjut dimulainya pekerjaan,” ujar KRMH Suryo Kusumo Wibowo.

PUNYA PESONA : Walau tampak kusam, bocor dan jari-jari pagar yang bolong (hilang), tampak Pendapa Kraton Kulon masih punya pesona artistik dan estetik untuk dipandang. Direnovasi tahun 1980-an, kini akan segera direvitalisasi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

KRMH Suryo Kusumo Wibowo adalah satu di antara generasi muda segenerasi dengan Sinuhun PB XIV, sesama generasi ketiga atau wayah-dalem Sinuhun PB XII. Karena, kalangan orangtua mereka (35 putra/putri-dalem PB XII) adalah segenerasi dengan Sinuhun PB XIII. Yang bersangkutan adalah ASN dari BPK Wil X Jateng/DIY yang ditugaskan di Kraton Mataram Surakarta, dan belum lama “mendapat kepercayaan”.

Oleh Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpun Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa-Pangarsa LDA), putra tertua KGPH Puger itu ditetapkan sebagai “Pengageng Museum”. Penetapannya sebagai Pengageng Museum, menggantikan pejabat lama (Pengageng Museum, Pagelaran, Alun-alun Lor) yang sejak 13 November 2025 sudah resmi secara adat, berubah nama karena menyandang gelar Sinuhun PB XIV Hangabehi.

Ada sedikit ilustrasi ketika menyebut perubahan nama dari KGPH Hangabehi menjadi Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang dalam waktu dekat akan menuntaskan perjalanan spiritual sebagai penggenapan syarat adatnya. Yaitu, sebagian di antara dua jabatan yang diembannya harus dilepas. Karena, sampai saat menjelang menerima tugas dan kewajiban sebagai penerus tahta, dia menjabat dua “Bebadan” sekaligus.

Yaitu “Bebadan” Pengageng Kusuma Wandawa (Kasentanan) dan Pengageng Museum, Pagelaran, Alun-alun Lor. Meskipun Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng akan terus mengawal tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi, tetapi pada waktunya akan ada perubahan susunan Bebadan Kabinet 2004. Karena biasanya, seorang Sinuhun PB harus melepaskan dari segala jabatan (urusan duniawi) karena gelar yang disandangnya.

RUSAK PARAH : Bangunan bertingkat yang bernama “Ngindra Prasta” ini, tepat di belakang (barat) Pendapa sasana Sewaka. Kondisinya rusak-parah, tetapi belum jelas apa termasuk rencana revitalisasi, karena berada di depan Kraton Kulon. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam masa peralihan seperti sekarang ini, bergantinya pejabat pimpinan Bebadan memang perlu dilakukan demi efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Dan Sinuhun PB XIV Hangabehi juga bertindak cepat dan tegas, ketika museum kraton butuh segera dibuka dan beroperasi melayani kepentingan publik secara luas. Termasuk, kepentingan para petugas BPK Wil X Jateng/DIY yang sedang merevitalisasi museum.

Museum kraton menjadi jembatan antara setelah revitalisasi Panggung Sangga Buwana selesai dan diresmikan akhir tahun 2025. Revitalisasi museum juga berlangsung, dan kini menunggu kelanjutan tahap berikutnya, setelah tahap revitalisasi tahap I mencakup dua ruang pamer selesai. Sambil menunggu tahap II, kawasan Kraton Kulon yang sedang disusun DED-nya, tentu akan segera berlanjut dimulainya revitalisasi.

Proses pengambilan keputusan mengenai kawasan “Kraton Kulon” revitalisasi dipilih dan diajukan Gusti Moeng untuk mendapat prioritas revitalisasi, adalah keputusan bijak yang disambut respon bijak pula dari seorang Fadli Zon, Menbud RI yang “sutresna budaya”. Karena, pilihan rekomendasi ini sangat strategis dari berbagai pertimbangan, terutama kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan, sangat parah.

Selain pertimbangan tingkat kerusakannya yang tinggi hingga mirip suasana “medan perang” atau puing sisa-sisa akibat perang itu, kawasan 1 hektare yang mendesak direvitalisasi, diyakini Gusti Moeng akan menjadi objek kunjungan baru/pendukung. Sebab, objek wisata lama museum dan kraton sampai kawasan sekitar halaman Pendapa Sasana Sewaka yang layak kunjung, dinilai makin jauh berkurang citra visualnya.

DITEMBUS BATANG : Melihat sisa puing-puingnya setelah dibersihkan dari semak-belukar, salah satu banguan di kompleks “Kraton Kulon” itu masih tampak ada potongan batang atau akar yang mampu menembus dinding tembok yang rusak-parah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Untuk itu, keputusan dan pilihan rekomendasi Gusti Moeng sangat tepat untuk memperluas objek panorama/pemandangan di kawasan “Kraton Kulon”. Apalagi, mengingat kompleks bangunan di situ ada yang paling tua, yaitu “base camp” yang digunakan Sinuhun PB II (1727-1749), “disempurnakan” Sinuhun PB IV (1788-1820) dan sering digunakan Sinuhun PB X (1893-1939). Nilai sejarahnya, luar biasa!.

Tetapi, di dekat kompleks “Kraton Kulon” ada beberapa bangunan yang belum jelas apakah masuk dalam perencanaan revitalisasi, salah satunya bangunan “tenggan” KR Tasik Wulan. Kondisinya tinggal puing-puing berkesan horor, tetapi mudah-mudahan akan menjadi baru lagi dan ikut menjadi indah karena tertutup oleh estetika “Taman Bunga” dan “Taman Burung” seperti yang digagas dan diusulkan Gusti Moeng. (Won Poerwono – bersambung/i1)