Bila Benar, Keterlaluan Kalau Sampai Menggelapkan Setoran Retribusi
IMNEWS.ID – KEGIATAN operasional Museum Art Gallery Kraton Mataram Surakarta yang sudah berfungsi 50-an tahun sejak kraton “melepaskan” beberapa kedaulatannya, ternyata menjadi titik singgung yang paling strategis dan halus dalam hubungan kraton dengan publik secara luas. Terutama, di sisi hubungan secara ekonomis yang menunjuk pada manfaat riil kraton terhadap masyarakat lingkungan museum/kraton.
Kraton memang masih memiliki beberapa jenis hubungan dengan publik secara luas dalam beberapa kategori, yang sebagian besar lepas dari ikatan adat, tradisi dan budaya. Kecuali, sebagian kecil yang tersebar di berbagai daerah yang masih memiliki ikatan adat, tradisi dan budaya, seperti yang berada di dalam elemen Pakasa dan Putri Narpa Wandawa cabang. Semua elemen, punya ikatan mendasar itu.

Namun, hubungan yang terjalin melalui operasional museum kraton atau kegiatan kepariwisataan yang dikelola kraton, adalah memiliki ciri berbeda dengan berbagai jenis hubungan dengan elemen masyarakat adatnya, di dalam dan di luar kraton. Hubungan antara kraton dengan masyarakat yang bekerja di jaringan industri pariwisata utamanya museum, justru nyaris tanpa ikatan adat, tradisi dan budaya.
Walau tanpa ikatan emosional, kultural dan spriritual, mereka telah merasakan manfaat secara langsung dari keberadaan kraton terutama secara ekonomis atau sangat mendasar sebagai kebutuhan dalam kehidupan mereka. Faktor ini yang harus semakin diperhatikan dan tidak diabaikan, seperti yang terjadi dalam enam tahun akibat “Insiden MOM 2017” dan 3 bulan akibat aksi “gembok pintu museum”.

Dalam satu dekade terakhir perkembangan situasi dan kondisi kraton, tak bisa terlepas dari isu nasional dan global yang mengalami penurunan atau kelesuan ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan “rumah-tangga” adatnya, kraton juga mengalami kesulitan yang sama dirasakan semua elemen jaringan industri pariwisata kraton. Rupanya, manfaat kraton di bidang ekonomis perlu mendapat perhatian lebih serius.
Selama bertahun-tahun antara 2017-2022 museum tutup, ditambah “bonus” 3 bulan saat ada “aksi gembok pintu museum” yang menjadi “korban” persaingan tahta (medio November 2025-medio Februari 2026), terasa sekali akibatnya bagi publik. Selain dirugikan akibat kebutuhan edukasinya soal pengetahuan sejarah dan budaya terhambat, ada ratusan pekerja kehilangan nafkah bagi diri dan keluarganya.

Tetapi, dari sela-sela “penderitaan” para pekerja di jaringan industri pariwisata museum itu ada kabar yang “tak sedap” yang seakan-akan menambah beban rasa keadilan yang jauh dari pantas. Yaitu kabar adanya dugaan “penggelapan” setoran retribusi senilai ratusan juta yang harus dibayar kepada Pemkot Surakarta. Padahal, saat itu ada gaji karyawan yang sempat tak terbayar beberapa bulan.
Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kebinet 2004 sempat murka, dan pejabat pengelola yang diduga menggelapkan setoran itu “dipecat dan diusir”. Ternyata, pejabat dimaksud ditugaskan Sinuhun PB XIII, dengan dasar menyalahgunaan SK Kemendagri No. 430-2933/2017. Dengan SK Kemendagri itu, Sinuhun PB XIII membentuk “bebadan kabinet” secara sepihak, menugaskan “putrinya” sebagai “manajer museum”.

Bersamaan dengan “pemecatan” dan “pengusiran” itu, lalu ditunjuk KGPH Hangabehi sebagai Pengageng Museum, Pendapa Pagelaran dan Alun-alun Lor hingga kini yang bersangkutan berstatus Sinuhun PB XIV Hangabehi. Penyalahgunaan SK Kemendagri itu, juga sudah vonis perbuatan melawan hukum dengan putusan Mahkamah Agung (MA) RI No.1950 K/Pdt/2022, yang sudah dieksekusi PN Surakarta pada 8 Agustus 2024.
Bila dugaan “penggelapan” setoran pajak atau retribusi dan tunggakan gaji para pegawainya benar-benar terjadi, itu sangat keterlaluan dan bisa berurusan dengan hukum. Betapa ironis peristiwa itu. Di tengah penderitaan semua yang hidup dari objek wisata karena kehilangan nafkah 6 tahun museum ditutup, tetapi di medsos sering memperlihatkan video sebuah keluarga sedang pesta di restoran.

Ketika dianalisis dan dicermati lebih lanjut, di sektor industri pariwisata museum ini manfaat kraton paling dirasakan masyarakat, baik secara ekonomis maupun secara edukatif. Inilah yang mungkin paralel dengan gagasan Kemenbud RI yang sedang membantu meningkatkan posisi tawar dan daya tarik objek wisata Kraton Mataram Surakarta, melalui beberapa bantuan proyek revitalisasinya.
Dalam pidatonya, Menbud Fadli Zon ingin agar sisi lain aset budaya Kraton Mataram Surakarta yang berupa bangunan, artefak dan objek pemandangan bisa menjadi “industri budaya”. Kelak, pengelolaan kraton bisa menghasilan pemasukan dari menjual souvenir miniatur Panggung Sangga Buwana atau simbol-simbol yang ikonik lainnya. Selain “membantu” kraton, juga membangkitkan ekonomi masyarakat.

Hal yang langsung menyentuh secara ekonomis kehidupan masyarakat sekitar kraton, pasti mendapat perhatian utama semua pihak yang benar-benar memahami makna penting dan manfaat kraton seperti halnya Menbud Fadli Zon. Apalagi, di saat kondisi ekonomi masyarakat paling bawah sedang benar-benar merasakan tekanan luar biasa sejak pandemi hingga kini. Kraton diharapkan mampu berperan banyak.
Terhadap gagasan riil dalam tataran operasional itu, seperti gayung-bersambut dengan yang diharapkan Gusti Moeng. Saat sibuk melakukan kerja-bhakti massal “resik-resik kraton” di awal Januari 2023, Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA itu sempat menyampaikan gagasannya, untuk mengagendakan kawasan “Kraton Kulon” untuk direvitalisasi menjadi lokasi baru objek kunjungan wisata bagi masyarakat umum.

Gagasan Gusti Moeng itu juga langsung “ditangkap” Menbud Fadli Zon yang datang menyerahkan SK kepada KGPH PA Tedjowulan selaku Penanggungjawab dan Pelaksana Badan Pengelola (BP) Kraton. Walau “dikacau” oleh beberapa “putri sabrang”, tetapi Menbud RI Fadli Zon akhirnya bisa menyaksikan suasana “mirip bekas bencana” di kawasan Kraton Kulon, Panti Rukmi, Keputren dan sebagainya.
Hampir semua bangunan yang berada di balik kemegahan Pendapa Sasana Sewaka, Sasana Handrawina dan Panggung Sangga Buwana, ditunjukkan Gusti Moeng sebagai bagian-bagian penting sejarah keberadaan Kraton Mataram Surakarta yang dibangun silih-berganti sejak Sinuhun PB II. Hampir semua kondisinya sudah rusak parah, tetapi bisa memberi manfaat pada banyak orang kalau sudah direvitalisasi. (Won Poerwono – bersambung/i1)
