Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 6 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:October 3, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 6 – bersambung)
RUTINITAS TERJAGA : Salah satu ciri upacara adat di Kraton Mataram Surakarta yang diyakini masih sarat nilai-nilai edukasi dan makna filosofi, karena rutinitasnya selalu terjaga datang saatnya. Batas-batas kebakuan sesuai paugeran adat, juga selalu diwujudkan, termasuk tatacara ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada Pergeseran Makna “Ngalab Berkah” dan Tantangan Perubahan Lain yang Sulit Dijawab

IMNEWS.ID – DALAM paradigma baru tentang kraton dan segala aset seni budaya produknya termasuk berbagai upacara adat, memang bisa melahirkan berbagai anggapan. Salah satunya, anggapan bahwa hajad-dalem “Pareden” Garebeg Mulud, misalnya, harus “direbut” dan “dijarah” sebagai makna “ngalab berkah” segala bentuk uba-rampe. Fenomena “chaos” untuk mendapatkan “gunungan” itu, ternyata karena berbagai alasan.

Salah satu alasan paling utama, adalah populasi penduduk yang berlipat-lipat bila dihitung dari tahun 1980-an dan ketika dibandingkan dengan 4 dekade kemudian hingga kini. “Raja Dangdut” pemimpin OM Soneta, Rhoma Irama sudah mencatat ada “135 juta” jumlah rakyat Indonesia, sesuai judul lagu yang diciptakannya di tahun 1976. Ketika kini BPS mencatat penduduk ada 270-an juta, berarti pertambahannya 100 persen.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pula di tahun 2025 ini, jumlah penduduk di Pulau Jawa ada 56,1 persen dari jumlah secara nasional 270-an juta jiwa. Karena jumlah penduduk di Pulau Jawa terbanyak dari belasan ribu pulau di luar Jawa, itu berarti bisa diasumsikan, pertambahan penduduk di Pulau Jawa saja luar biasa. Sejak tahun 1977 hingga tahun 2025 ini, pertambahan jumlahnya berlipat-lipat.

PERPADUAN UNSUR : Perpaduan banyak unsur elemen tampilnya semua Bregada Prajurit Kraton yang memandu berbagai upacara adat khususnya jenis Garebeg, adalah tampilan lengkap, komplet, utuh, urut, tuntas dan bermakna dari hajad-dalem Pareden Sekaten Garebeg Mulud yang tiada tertandingi oleh siapapun. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jumlah penduduk di Jawa Tengah memang tidak sebanyak Jawa Timur, apalagi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Tetapi, pertambahan penduduk selama hampir 5 dekade itu, jelas merubah “peta perolehan” hajad-dalem Pareden (Gunungan), untuk tiap orang yang datang “ngalab berkah” upacara adat “Garebeg” apa saja yang digelar kraton. Kalau jumlah yang “ngalab berkah” terus bertambah, bagaimana dengan hajad-dalemnya?.  

Pertanyaan ini rupanya menjadi hal paling mendasar dari pemandangan “chaos” yang selalu terjadi dan semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun, sejak 1977 hingga di penghujung 1990-an, sedikit mereda hingga tahun 2010-an, lalu kembali “mengganas” selepas Pandemi Corona. Meskipun, menjelang Pandemi Corona hingga APBN mulai mengucurkan Dana Desa, ada eforia kirab dan “tumpeng rasulan” di berbagai desa.

Dari pengamatan iMNews.id sejak masih di harian Suara Merdeka lebih 30 tahun, sifat-sifat dan karakter psikologi massa memang telah mengalami degradasi sosial dalam tata-nilai dan norma-norma sosial yang semua menjadi pedoman hidupnya. Tetapi, karakter warga Jateng secara umum, tidak banyak bergeser ketika berkerumun untuk mengikuti upacara adat di kraton, karena tata-nilai Budaya Jawa masih kuat.

UNSUR LANGKA : Penampilan prajurit atau dua brahmana yang disebut “Canthang-Balung” dalam berbagai prosesi arak-arakan ritual Garebeg di kraton, adalah unsur elemen langka sekali karena dimiliki Kraton Mataram “Islam” Surakarta. Makna edukatif akulturatif yang toleran, yang sudah langka di manapun. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kelonggaran dalam mematuhi tata-nilai memang terjadi di berbagai lapisan masyarakat Jateng, termasuk di wilayah Surakarta yang “diasumsikan menjadi basis” legitimatif Kraton Mataram Surakarta. Tetapi tidak bisa diartikan ekspresi “ngalab berkah” di setiap ritual “hajad-dalem Pareden” Garebeg, apalagi Sekaten Garebeg Mulud yang tampak, melompati tata-nilai dan berubah menjadi “beringas” dan “brutal”.

“Keberingasan” dan sikap brutal dalam merebut dan menjarah “Gunungan” dalam waktu yang sangat cepat terjadi, karena jumlah hajad-dalem Pareden tak berbanding lurus dengan jumlah masyarakat yang datang “ngalab berkah”. Karena jumlah permintaan lebih banyak tetapi ketersediaan lebih sedikit, banyak yang khawatir tidak akan mendapatkan bagian, lalu berniat mendahului bergerak, merebut dan menjarah.

Hasil pencermatan dalam waktu yang panjang dan analisis terhadap peristiwa “ngalab berkah Pareden” yang terjadi berulang-ulang pada waktu yang panjang, juga menunjukkan, kekhawatiran tidak mendapatkan bagian ternyata datang dari para abdi-dalem yang bertugas mengusung Pareden. Karena alasan itulah, para abdi-dalem yang memiliki jarak lebih dekat karena mengusung, mendahului meraih “isen-isen” (isi) Pareden.

MEMBANGUN KEMEGAHAN : Membangun kemegahan dan keagungan upacara adat yang terlukis dalam prosesi kirab arak-arakan hajad-dalem Pareden Garebeg Mulud yang dipandu Prajurit Panyutra, sudah rutin dilakukan tiap datang bulan Mulud. Sesuatu yang sulit diwujudkan oleh siapapun di luar kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Para abdi-dalem yang dulu sering tampak mendahului meraih “isen-isen” Pareden sebagai bagian dari “ngalab berkah”, kebanyakan memang berasal dari pedesaan di wilayah Surakarta yang kemudian menjadi wilayah Pakasa cabang. Tetapi, posisi para abdi-dalem termasuk yang bertugas mengusung Pareden, sebelum tahun 2000 belum bisa disebut warga Pakasa, karena banyak daerah belum terbentuk Pakasa cabang.

Namun, setelah lahir Bebadan Kabinet 2004 dan pengurus cabang Pakasa berdiri di mana-mana, bukan berarti “chaos” yang masih sering terjadi akibat adanya abdi-dalem yang mendahului berebut hajad-dalem Gunungan lantas hilang. Karena dalam kurun waktu 2017-2022, ada elemen di luar Pakasa yang mengambil-alih semua tugas berbagai upacara adat di kraton, justru “memelihara” perilaku beringas dan brutal.

Karena persoalan utamanya belum tersentuh, yaitu “supply” (ketersediaan) hajad-dalem “Pareden” lebih sedikit dan “demand” (permintaan) yang “ngalab berkah” jauh lebih banyak. Pemandangan ini memang tidak bisa diingkari atau dielakkan, karena faktanya Kraton Mataram Surakarta sudah “tidak mampu” menyediakan hajad-dalem “Pareden” yang jumlahnya harus terus meningkat menyesuaikan populasi yang “ngalab berkah”.

UNSUR MENGAGUNGKAN : Tampilnya sepasang gamelan pusaka Kiai Sekati atau Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu di Bangsal Pradangga Lor dan Kidul halaman Masjid Agung, telah menjadikannya unsur elemen yang mengagungkan upacara adat Sekaten Garebeg Mulud, yang sulit tertandingi siapapun di luar kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jadi, secara rasional akar masalah dari perubahan perilaku masyarakat yang datang “ngalab berkah” hajad-dalem “Pareden”, gabungan antara beberapa faktor. Ketersediaan “Pareden” menjadi faktor tertinggi yang bisa di atas 50 atau 60 persen. Masyarakat di sekitar Kraton Mataram Surakarta yang disebut menjadi daya-dukung terbesar untuk segala keperluan di kraton termasuk “ngalab berkah”, faktanya tidak demikian.

Faktor kedekatan masyarakat di sekitar Kraton Mataram Surakarta, yaitu enam kabupaten dan satu kota di wilayah Surakarta, memang rata-rata jaraknya hanya 30 KM dari Kota Surakarta, yang terhitung paling dekat. Tetapi, dalam peta daya dukung legitimasi terhadap semua kegiatan adat di kraton khususnya upacara adat, belum tentu para abdi-dalem dari 6 kabupaten dan satu kota itu menjadi yang “terbaik”.

Fakta menyebutkan, tujuh daerah itu justru punya riwayat kurang baik terhadap kraton menjelang dan di awal-awal NKRI lahir. Banyak yang “durhaka” karena daerahnya dijadikan basis kekuatan PKI, menentang eksistensi Daerah Istimewa Surakarta di tahun 1946. Walaupun dalam beberapa terakhir ada wadah Pakasa cabang, tetapi sikap “pasuwitan” (ngalab berkah), sulit menandingi abdi-dalem dari luar wilayah itu. (Won Poerwono – bersambung/i1)