Gusti Moeng Pimpin Rombongan “Tour de Ruwah” di Empat Lokasi Makam di Grobogan

  • Post author:
  • Post published:February 10, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Gusti Moeng Pimpin Rombongan “Tour de Ruwah” di Empat Lokasi Makam di Grobogan
MENARUH SANGSANGAN : Ritual nyadran bagi Kraton Mataram Surakarta, adalah tatacara yang lengkap dan ikonik. Misalnya tahlil dan dzikir Sultanagungan dan untaian "sangsangan" bunga yang biasanya diletakkan di atas "maijan" seperti yang dilakukan Gusti Moeng di pusara Ki Ageng Sela, Minggu (siang (9/2) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada Laporan Makam Milik Masyarakat Adat Disertifikatkan Atas Nama “Banda Desa”

GROBOGAN, iMNews.id – Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) memimpin rombongan dari Kraton Mataram Surakarta, melakukan “Tour de Ruwah” agenda nyadran ketiga di empat lokasi “makam” di wilayah Kabupaten Grobogan, Minggu (9/2). Ritual di bulan Ruwah itu juga diikuti rombongan Pakasa Cabang Jepara yang dipimpin ketuanya, KP Bambang S Adiningrat.

Agenda ritual nyadran ketiga setelah kompleks makam Ki Ageng Henis di Astana Pajimatan Laweyan, Surakarta (iMNews.id, 2/2/2025) dan Astana Pajimatan Imogiri bersama tiga lokasi lain di DIY (6/2) itu, mengalami sedikit perubahan rutenya.
Kemarin, rute ritual ziarah nyadran diawali dari kompleks “makam” Ki Ageng Tarub dan anaknya, RM Bondan Kejawan.

Tak biasanya rombongan “Bebadan Kabinet 2004” Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah, kali pertama mendatangi kompleks “makam” Ki Ageng Tarub di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan seperti yang Minggu (9/2) dilakukan. Karena rutin sejak 2004 atau bahkan sebelumnya, rute pertama adalah makam Ki Ageng Sela.

KI AGENG TARUB : Gusti Moeng dan rombongan tampak akan meninggalkan kompleks “makam” Ki Ageng Tarub (kakek Ki Ageng Sela), karena para peziarah sedang banyak berdatangan di “petilasan” yang menjadi agenda nyadran “tour de Ruwah” rombongan kraton itu, Minggu pagi (9/2) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Iya. Agak berubah rutenya tahun ini. La yang ‘di sana’ (Ki Ageng Katong-Red) sekarang digunakan untuk kegiatan klenik. Rutenya tahun ini dirubah, dimulai dari makam Ki Ageng Tarub, lalu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Getas Pendawa dan Ki Ageng Gotrosingo di Kecamatan Tegawanu. Saya baru kali ini datang ke sini, karena ada permintaan pamongnya,” ujar Gusti Moeng.

Gusti Moeng menjawab pertanyaan iMNews.id saat selesai tabur bunga nyadran di makam Ki Ageng Gotrosingo yang ada di Astana Pajimatan Desa Tegawanu Wetna, Kecamatan Tegawanu, Kabupaten Grobogan, Minggu (9/2). Sudah menjelang pukul 16.00 WIB, rombongan dari kraton yang dipimpinnya selesai “Ruwahan” di empat lokasi makam dan hendak pulang menuju Surakarta.

Di makam terakhir yang kini sedang “bermasalah” itu, rombongan dari Pakasa Cabang Jepara sejumlah 12 orang masih bersama mengikuti “Tour de Ruwah” agenda kraton. Selain KP Bambang S Adiningrat, tampak istrinya, KMT Susanti Purwohadiningrum. Sedangkan Gusti Moeng, diikuti beberapa sentana-dalem, warga Pasipamarta, Putri Narpa Wandawa dan beberapa abdi-dalem.

MUSIM NYADRAN : Agenda nyadran Gusti Moeng dan rombongan kraton di bulan Ruwah ini, bersamaan datangnya peziarah dari berbagai daerah di musim “nyadran”. Misalnya saat ritual nyadran dilakukan di makam Ki Ageng Getas Pendawa (ayah Ki Ageng Sela), yang tampak KP Bambang S Adiningrat bersama istri, Minggu (9/2) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Lokasi nyadran “baru” untuk tahun 2025 ini, disebut KRT Moch Aspihan Chundoko Budoyo (Ketua Pamong Makam Ki Ageng Gotrosingo Maesan Selo) sedang “bermasalah” saat berdialog dengan Gusti Moeng di depan cungkup makam, kemarin. “Masalah” yang dihadapi para pamong makam, adalah status makam berubah menjadi “Banda Desa” setelah disertifikasi di tahun 2021.

Sambil menunjukkan SK penetapan para pamong makam kepada Gusti Moeng, dilaporkan Moch Aspihan bahwa setelah pamong mendapat penetapan dari Lembaga Dewan Adat (LDA) tahun 2017, makam milik masyarakat adat setempat itu diikutkan program sertifikasi tanah secara nasional. Dengan lampiran SK dari LDA, tahun 2021 makam didaftarkan pamong desa untuk disertifikasi.

“Tetapi, ketika sertifikat terbit, kok statusnya berubah menjadi Banda Desa (tanah kas desa-Red). Kami sudah berupaya menyelesaikan ini ke Badan Pertanahan Negara (BPN) dan kejaksaan (Kajari Grobogan). Tetapi belum tuntas. Dalam minggu ini akan kami tanyakan lagi. Di tingkat desa dan Polsek, juga perlu penjelasan terpisah,” ujar Moch Aspihan.

JUGA ANAK BRAWIJAYA : Makam Ki Ageng Gotrosingo yang tampak diziarahi Gusti Moeng di akhir perjalanan “Tour de Ruwah”, Minggu (9/2) kemarin, adalah tokoh penting yang diyakini masyarakat adat Desa Tegawanu Wetan, Kecamatan Tegawanu. Dia adalah putra Prabu Brwaijaya V yang lahir dari istri Wandan Kuning. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, sebelum sampai di lokasi terakhir Kecamatan Tegawanu, Gusti Moeng dan rombongan dari kraton yang bersama rombongan Pakasa Cabang Jepara, beberapa dari Pakasa Cabang Pati dan “sisa-sisa” warga Pakasa Cabang Grobogan sebagai tuan rumah, mendampingi sejak ritual nyadran digelar di kompleks “makam” Ki Ageng Tarub dan anaknya, RM Bondan Kejawan.

Tak lama Gusti Moeng dan rombongan berada di kompleks “makam” itu, yang Minggu pagi itu sudah banyak diziarahi warga dari luar daerah dengan sejumlah bus besar dan warga sekitar yang menggunakan sejumlah sepur kelinci. Menjawab pertanyaan Gusti Moeng, “makam” setempat sejak tahun 1980-an sudah dia kunjungi, tetapi sebenarnya tempat itu hanya “petilasan”

Dijelaskan, bahwa Ki Ageng (Jaka) Tarub dan keluarga intinya, termasuk sang putra RM Bondan Kejawan, sejak lama sudah diyakinkan bahwa akhir hidupnya melalui jalan “muksa”. “Muksa” menjadi fenomena yang sudah lama ada dan diyakini menjadi kebenaran nyata, terutama di kalangan umat Hindu, sebagai sebuah “keajaiban” karena “kehendak” Sang Khalik, Allah SWT.

TELITI SK PENETAPAN : Gusti Moeng sedang meneliti SK penetapan yang pernah diterbitkannya selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) untuk susunan pamong makam Ki Ageng Gotrosingo Maesan Selo, di tahun 2017. KRT Moch Aspihan selaku ketua pamong, diajak berdialog soal “permasalahan” status makam yang dilaporkan kepada LDA. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Termasuk yang di sini ini (makam RM Bondan Kejawan-Red) juga hanya petilasan. La wong semua muksa kok. Tetapi, enggak apa-apa diziarahi. Karena ceritanya, ada beberapa tempat untuk istirahat Ki Ageng Tarub dan Raden Bondan Kejawan waktu ke sawah. Atau mungkin tempat bermeditasi. Tapi dua-duanya petilasan,” ujar Gusti Moeng saat keluar dari cungkup makam.

Dari dua “petilasan” yang jaraknya berdekatan di Desa Tarub, rombongan total sekitar 70-an orang menuju kompleks makam Ki Ageng Sela di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo. Di makam itu, Gusti Moeng dan rombongan nyekar makam dan berdoa di depan almari penyimpan api abadi. KRT Rochim yang menyambut, sempat memimpin doa dan tahlil di depan makam.

Di pendapa makam, KRT Rochim dan para pamong makam menjamu rombongan, termasuk dari Pakasa Cabang Jepara dan Cabang Pati. Makam berikut yang diziarahi, adalah Ki Ageng Getas Pendawa di Desa Kuripan, Kecamatan Purwodadi, sebelum berakhir di Kecamatan Tegawanu. Agenda nyadran Gusti Moeng dan rombongan berikutnya, makam Bathara Katong (Ponorogo), Selasa (11/2). (won-i1)