Pakasa Cabang Pati dan Cabang Jepara Gelar Ritual “Ganti Selambu” Makam di Bulan Sura

  • Post author:
  • Post published:July 18, 2024
  • Post category:Regional
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Pakasa Cabang Pati dan Cabang Jepara Gelar Ritual “Ganti Selambu” Makam di Bulan Sura
DI JEPARA : KRA Panembahan Dididk Gilingwesi (Ketua Pakasa Cabang Kudus) bersama rombongannya saat mendukung kirab budaya ritual haul di makam Nyi Mas Rara Semangkin di Desa Mayonglor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Rabu (17/7). Salah seorang santri terpaksa "nongsong" karena banyak rombongannya tidak bisa hadir karena masih bekerja. (foto : iMNews.id/Dok)

Pakasa Cabang Kudus Tiga Hari Hingga Kamis Ini, Ikut Jalan Kaki Meriahkan Kirab Budaya

KUDUS, iMNews.id – Kamis (18/7) siang ini, warga masyarakat adat Desa Kuthuk, Kecamatan Undaan (Undakan-Red), Kabupaten Kudus bersama pengurus Pakasa cabang kabupetan setempat menjalankan agenda ritual kirab budaya yang dijadwalkan mulai pukul 13.00 WIB. Kirab untuk menyemarakkan ritual haul tokoh ke-7 wafat Mbah Nyai Sindu di makam Desa Kuthuk, Cangkringan, Kudus.

“Makam mBah Nyai Sindu ini sebenarnya masuk wilayah Desa Kuthuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Tetapi, lokasinya berdekatan dengan wilayah Pakasa Cabang Pati. Mungkin karena Pakasa Cabang Pati lebih dulu terbentuk, warga Desa Kuthuk lebih dulu menggelar ritual haul dan bergabung dengan Pakasa Pati,” ujar KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro.

Ketua Pakasa Cabang Kudus itu saat dimintai konfirmasi iMNews.id siang tadi, menyebutkan dirinya sedang bersiap-siap untuk berangkat dari kediamannya di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus untuk menuju Desa Kuthuk yang jauhnya sekitar 20 KM. Dengan rombongan belasan orang, ia juga bersama istri dan beberapa cucu serta membawa perlengkapan “payung susun”.

Payung susun sebagai cirikhas ikonik Pakasa Cabang Kudus, akan dibawa sebagai atribut Pakasa Cabang Kudus dalam mengikuti kirab yang disebutkan sejauh 3 KM mengelilingi sebagian Desa Kuthuk. Pakasa cabang disebut memiliki seratusan payung susun yang setiap saat dibawa untuk mendukung kirab upacara adat di mana saja, selain songsong khas adat untuk pribadinya.

DI SUKOLILO : KRA Panembahan Didik Gilingwesi (Ketua Pakasa Cabang Kudus) bersama rombongannya belasan warga Pakasa, saat mendukung kirab ritual haul wafat Mbah Dongkol Bukhori yang makamnya ada di Dukuh Jongso, Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Selasa (16/7). (foto : iMNews.id/Dok)

Kirab budaya untuk menyemarakkan ritual haul Mbah Nyai Sindu di makam Desa Kuthuk Cangkringan, Kecamatan Undaan, siang ini, disebutkan sebagai kirab ketiga yang dijalani dalam tiga hari berturut-turut. Rabu (17/7) dia dan rombongan sekitar 15 orang ikut kirab haul di makam Nyi Mas Rara Semangkin di Desa Mayonglor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

Sebelum itu, Selasa (16/7) KRA Panembahan Didik menyebutkan bersama rombongan sekitar 12 orang mengikuti kirab budaya ritual haul wafat Mbah Dongkol Bukhori yang makamnya ada di Dukuh Jongso, Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Rute kirab sejauh kurang-lebih 5 KM, juga dijalani dengan jalan kaki bersama rombongan, setelah menolak naik dokar/kendaraan kirab.

“Ini saya sudah membalut perban, luka melepuh di kaki kanan akibat jalan kaki ikut kirab dua hari berturut-turut, kemarin (16 dan 17/7). Ada sebagian yang berair dan sudah pecah, terasa perih. Kalau sudah dibalut, nanti bisa ikut kirab dan masih kuat kalau hanya sekitar 2 KM. Saya membawa rombongan 10-an orang, lengkap dengan songsong,” ujar KRA Panembahan Didik Gilingwesi.

Di tempat terpisah RT H Samudi menjelaskan, pihaknya bersama RT Sya’roni (Bendahara) dan para pengurus Pakasa Cabang Pati habis mendukung gelar event ritual haul Mbah Dongkol Bukhori di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati (16/7). Begitu pula, mendukung ritual haul Nyi Mas Rara Semangkin yang digelar Pakasa Cabang Jepara di Mayonglor, Kabupaten Jepara (17/7).

PAKASA JEPARA : Pakasa Cabang Jepara menurunkan 97 orang anggota Bregada Prajurit Nguntara Praja dan Bregada Korsik Drumband Sura Praja untuk memeriahkan ritual haul di makam Nyi Mas Rara Semangkin di Desa Mayonglor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Rabu (17/7). Manggala kirab, ditunjuk MNg Zamroni Setyodipuro. (foto : iMNews.id/Dok)

Karena menjadi wilayahnya, Ketua Pakasa Cabang Jepara KRA Bambang S Adiningrat saat dimintai konfirmasi di tempat terpisah, siang tadi menyebutkan, pihaknya mengerahkan 97 warga dan pengurus Pakasa cabang untuk ikut menyemarakkan kirab dalam rangka haul Nyi Mas Rara Semangkin. Untuk memimpin prajurit dari Jepara, ditunjuk MNg Zamroni Setyodipuro sebagai Manggala kirab.

Menurut KRA Bambang, Kabupaten Jepara juga banyak memiliki tokoh leluhur dan keluarga leluhur Dinasti Mataram yang makamnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Jepara. Selain dua kakak-beradik Nyimas Rara Semangkin dan Nyi Mas Rara Prihatin, ada anak Pangeran Benawa I bernama Banowati yang kemudian menjadi istri Raja Mataram, pernah diasuh Ratu Kalinyamat.

“Untuk kirab budaya haul Nyi Mas Rara Semangkin di Mayong, kami terjunkan 97 warga dan Pengurus Pakasa Cabang. Sebagian besar adalah Prajurit Nguntara Praja dan Korsik Drumband Sura Praja. Habis ini, untuk haul Bupati Citrosoma 1-7 yang kami agendakan tanggal 25 Juli ini. Untuk kali pertama, kami akan mendukung event yang mengangkat tokoh pemimpin Jepara ini”.

Hasil kajian sejarah Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja), selain Ratu Kalinyamat sebagai tokoh yang melahirkan sekaligus pendiri Kabupaten Jepara, dia adalah Bupati pertama Jepara. Istri Pangeran Hadirin dari Kerajaan Samudra Pasai, Aceh ini, menjadi keluarga kaya raya yang banyak membantu keuangan familinya yang menjadi tokoh eksekutif Kraton Mataram.

KAUM PEREMPUAN : Tokoh Ratu Kalinyamat yang begitu besar jasanya bagi warga Kabupaten Jepara dan para tokoh eksekutif Dinasti Mataram, menjadi ideola dan menginspirasi kalangan perempuan. Termasuk para wanita peserta kirab budaya ritual haul di makam Nyi Mas Rara Semangkin di Desa Mayonglor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Rabu (17/7). (foto : iMNews.id/Dok)

Sementara itu, Ketua Pakasa Cabang Kudus kembali menuturkan, Kabupaten Kudus memang sudah dikenal luas karena memiliki banyak aset budaya sejarah dan event berlatarbelakang spiritual religi dan budaya Jawa. Di antaranya, adalah peringatan 10 Sura/Muharam yang ditandai dengan “ngelab berkah” sebungkus nasi berlauk daging kerbau yang dikenal dengan “Sega Jangkrik”.

Pembagian “Sega Jangkrik” yang digelar pengurus Menara, Masjid dan Makam Sunan Kudus, Selasa pagi hingga siang (16/7) di depan masjid itu, didatangi ribuan warga dan santri dari berbagai daerah, baik warga kabupaten setempat maupun dari daerah-daerah sekitar Kudus. KRA Panembahan Didik Gilingwesi menyebut, sedikitnya 10 ribu bungkus “Sega Jangkrik” dibagikan.  

KRA Panembahan Didik adalah salah seorang trah darah-dalem Sunan Kudus yang sebelumnya menjadi bagian keluarga besar trah sekaligus pengurus yayasan yang mengelola kompleks Menara, Masjid dan Makam Sunan Kudus. Walau dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak menjadi bagian dari pengurus dan pengelola kompleks destinasi wisata di Kudus itu, tetapi masih mendapat bagian.

“Itu, ada bungkusan nasi Jangkrik satu karung kresek. Walau sudah bukan pengurus, saya masih mendapat bagian. Nasi Jangkrik ini unik, karena lauknya daging kerbau dan bungkusnya daun jati. Saya sering mendengar dari kalangan santri saya, banyak orang dari luar daerah jauh, yang memesan nasi jangkrik. Banyak yang bersedia membayar Rp 300 ribu per-bungkus,” ujarnya.

IKON KUDUS : “Ngalab berkah” upacara adat 10 Sura yang disimbolkan dengan pembagian “sega jangkrik”, digelar pengurus Menara, Makam dan Masjid Sunan Kudus, Selasa pagi (16/7). Event spiritual religi khas ikon Kabupaten Kudus itu, juga menjadi kebanggaan Pakasa cabang setempat, khususnya KRA Panembahan Didik selaku ketuanya. (foto : iMNews.id/Dok)

Kabupaten Kudus yang memiliki ikon khas yang dikenal sangat luas, bukan karena adanya beberapa bangunan secara fisik. Menurutnya karena ada tatanilai yang peninggalan Sunan Kudus yang dikenal sangat akomodatif terhadap perbedaan dan mampu mengadaptasikannya dalam format yang akulturatif. Salah satunya, adalah terjadinya nasi berlauk daging kerbau itu.

“Karena, Sunan Kudus punya cara bijak yang halus dalam berdakwah. Yaitu tetap melindungi simbol-simbol agama lain (Hindu) saat menjalankan agama, misalnya saat Idhul Qurban. Sunan menganjutkan tidak menyembelih sapi/lembu, melainkan kerbau. Sunan malah memperlihatkan kasih-sayangnya dengan memandikan sapi tersebut,” ujar KRA Panembahan Didik penuh bangga. (won-i1)